4 Kebiasaan Anak yang Sering Dikira Nakal, Padahal Tanda Cerdas

CNN Indonesia
Kamis, 06 Agu 2026 07:08 WIB
Ilustrasi. Beberapa perilaku anak dianggap nakal, padahal ini bisa jadi cicri anak cerdas. (iStockphoto/Vladimir Vladimirov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tak sedikit orang tua yang merasa kesal atau khawatir saat anak menunjukkan perilaku yang dianggap 'nakal'. Mulai dari tidak bisa diam, suka membuat berantakan, hingga terus-menerus bertanya.

Padahal, tidak semua perilaku tersebut merupakan tanda anak sulit diatur. Dalam banyak kasus, kebiasaan yang sering dianggap mengganggu justru bisa menjadi bagian dari proses belajar dan menandakan perkembangan kognitif yang baik.

Alih-alih langsung memarahi atau memberi cap negatif, orang tua sebaiknya memahami makna di balik perilaku tersebut. Berikut empat kebiasaan anak yang sering disalahartikan sebagai kenakalan, padahal bisa menjadi tanda kecerdasan melansir berbagai sumber:

1. Tidak bisa diam

Anak yang terus berlari, memanjat, melompat, atau menyentuh berbagai benda sering kali dianggap terlalu aktif atau sulit dikendalikan. Padahal, perilaku ini umumnya menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi.

Anak memanfaatkan gerak tubuhnya untuk mengenal lingkungan, menguji kemampuan fisik, sekaligus mempelajari berbagai hal baru. Semakin banyak kesempatan anak bereksplorasi, semakin banyak pula pengalaman yang diperoleh untuk mendukung perkembangan motorik dan kemampuan berpikirnya. Tugas orang tua bukan menghentikan aktivitas tersebut, melainkan memastikan lingkungan bermain tetap aman.

2. Suka membuat berantakan

Mainan berserakan, lemari diacak-acak, atau balok yang baru disusun lalu dibongkar lagi sering membuat orang tua menghela napas. Namun, kebiasaan ini tidak selalu berarti anak sengaja membuat ulah.

Saat membongkar, menyusun, dan mencoba berbagai benda, anak sebenarnya sedang bereksperimen untuk memahami bentuk, fungsi, ukuran, hingga hubungan sebab-akibat. Aktivitas semacam ini juga membantu mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah.

Meski begitu, orang tua tetap perlu mengajarkan tanggung jawab dengan membiasakan anak membereskan mainannya setelah selesai bermain.

3. Banyak bertanya

"Kenapa langit berwarna biru?" atau "Kenapa burung bisa terbang?" adalah pertanyaan yang mungkin sering dilontarkan anak.

Bagi sebagian orang tua, rentetan pertanyaan tersebut bisa terasa melelahkan. Namun, anak yang gemar bertanya sebenarnya sedang menunjukkan rasa ingin tahu yang besar dan kemampuan berpikir kritis yang mulai berkembang.

Melalui pertanyaan, anak belajar memahami dunia, memperkaya kosakata, sekaligus melatih kemampuan berkomunikasi. Jika tidak mengetahui jawabannya, orang tua tidak perlu memaksakan diri. Jadikan momen tersebut sebagai kesempatan untuk mencari tahu bersama.

4. Punya kemauan sendiri

Saat anak mulai memilih pakaian yang ingin dikenakan, menentukan makanan favorit, atau menolak pilihan orang tua, perilaku itu kerap dianggap sebagai sikap keras kepala.

Padahal, memiliki preferensi merupakan bagian alami dari perkembangan kognitif dan emosional anak. Mereka mulai belajar mengenali diri sendiri, mengungkapkan pendapat, dan mengambil keputusan sederhana.

Orang tua dapat memanfaatkan fase ini dengan memberikan pilihan yang terbatas, misalnya memilih satu dari dua pakaian atau dua jenis makanan sehat. Cara ini membantu anak belajar bertanggung jawab atas pilihannya tanpa kehilangan batasan yang diperlukan.

(tis/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK