Bukan Cuma Alamat, Tempat Tinggal Ternyata Bisa Ubah Gaya Hidup
Tempat tinggal bukan sekadar tempat untuk pulang dan beristirahat. Lingkungan di sekitar rumah ternyata dapat ikut membentuk kebiasaan, cara berinteraksi, bahkan cara seseorang memandang kehidupan.
Hal ini menjadi perhatian dalam bidang geopsychology, yang melihat hubungan antara tempat seseorang tinggal dengan perilaku dan kepribadiannya. Gagasan ini berangkat dari pertanyaan sederhana: apakah karakter sebuah tempat dapat ikut membentuk karakter orang-orang yang tinggal di dalamnya?
Mengutip Livability, karakter fisik sebuah tempat menjadi salah satu faktor yang paling mudah dirasakan. Iklim, pemandangan alam, kualitas udara, tingkat kebisingan, hingga ketersediaan ruang terbuka dapat memengaruhi pengalaman seseorang setiap hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tinggal di kawasan yang dekat dengan alam misalnya, memberi lebih banyak kesempatan untuk menikmati ruang terbuka dan beraktivitas di luar rumah. Sebaliknya, lingkungan perkotaan yang padat, bising, dan memiliki tingkat polusi tinggi dapat membuat keseharian terasa lebih melelahkan.
Ritme kehidupan juga dapat berbeda antara satu tempat dan tempat lainnya. Lingkungan perkotaan yang serba cepat dapat mendorong seseorang menjadi lebih kompetitif dan terbiasa bergerak cepat.
Sementara kawasan yang lebih tenang dapat memberi ruang untuk menjalani aktivitas dengan ritme yang lebih santai.
Komunitas ikut membentuk cara bersosialisasi
Bukan hanya kondisi fisik, orang-orang di sekitar juga berperan dalam membentuk seseorang. Keluarga, teman, tetangga, hingga komunitas dapat memengaruhi rasa memiliki dan perkembangan pribadi.
Lingkungan sosial yang suportif membuat seseorang memiliki lebih banyak kesempatan untuk membangun hubungan dan merasa terhubung dengan orang lain. Sebaliknya, tinggal di lingkungan yang minim interaksi sosial dapat membuat seseorang lebih mudah merasa terisolasi.
Budaya setempat juga memberikan pengaruh. Tinggal di kawasan yang memiliki masyarakat beragam dapat mempertemukan seseorang dengan berbagai bahasa, makanan, tradisi, dan sudut pandang. Pengalaman tersebut bisa membuat seseorang lebih terbuka terhadap perbedaan.
Akses yang mudah memberi lebih banyak pilihan
Faktor lain yang sering luput diperhatikan adalah aksesibilitas. Mengutip Themezhut, tempat tinggal yang terhubung dengan berbagai moda transportasi dan fasilitas dapat membuat seseorang memiliki lebih banyak pilihan untuk menjalani aktivitas.
Pergi bekerja, bertemu teman, berolahraga, mencari hiburan, atau mengakses layanan tertentu menjadi lebih mudah ketika jarak dan waktu tempuh dapat dikelola dengan baik.
Sebaliknya, akses yang terbatas dapat membuat waktu lebih banyak habis di perjalanan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bisa memengaruhi waktu untuk beristirahat, bersosialisasi, maupun melakukan aktivitas lain.
Karena itu, desain sebuah kawasan pada akhirnya bukan hanya tentang bangunan, tetapi juga bagaimana kawasan tersebut mendukung kehidupan sehari-hari penghuninya.
Konsep tersebut terlihat dalam perkembangan sejumlah kota mandiri di kawasan penyangga Jakarta, termasuk Tangerang. Paramount Petals membentuk kota sebagai kawasan terintegrasi dengan hunian, area komersial, fasilitas kota, ruang terbuka hijau, serta infrastruktur.
Direktur Sales dan Marketing Paramount Land Ferry John Sihombing mengatakan pengembangan transportasi publik menjadi bagian dari upaya membangun kawasan yang lebih terhubung.
"Perluasan transportasi publik adalah komitmen kami membangun kota mandiri yang terhubung sepenuhnya," kata Ferry.
Tempat tinggal memang bukan hanya soal memilih rumah yang nyaman. Lingkungan, komunitas, budaya, fasilitas, dan akses mobilitas di sekitarnya dapat ikut menentukan bagaimana seseorang menghabiskan waktu, berinteraksi, serta menjalani kesehariannya.
Dengan begitu, memilih tempat tinggal juga bisa berarti memilih lingkungan yang akan menjadi bagian dari gaya hidup.
(tis/tis)[Gambas:Video CNN]

