Bukan Cinta, Ini Limerence yang Bikin Seseorang Terobsesi
Ada kalanya seseorang begitu tertarik kepada orang lain sampai sulit berhenti memikirkannya. Setiap lagu terasa mengingatkan pada sosok tersebut, pesan singkat ditunggu-tunggu, bahkan interaksi kecil bisa dianggap sebagai tanda adanya perasaan yang sama.
Sekilas, kondisi ini mungkin terlihat seperti sedang jatuh cinta. Namun, jika pikiran tentang seseorang sudah terasa menguasai kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut bisa lebih dari sekadar rasa suka.
Fenomena ini dikenal sebagai limerence.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip CNA, limerence merupakan kondisi psikologis yang ditandai dengan kerinduan mendalam kepada seseorang, pikiran yang terus muncul secara obsesif, perilaku kompulsif, serta keinginan kuat agar perasaan tersebut berbalas. Istilah limerence diperkenalkan psikolog Dorothy Tennov pada 1970-an.
Apa itu limerence?
Psikolog Orly Miller menjelaskan limerence sebagai kondisi ketika ketertarikan kepada seseorang menjadi begitu intens hingga mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan rasa suka atau crush yang biasanya berlangsung relatif singkat, limerence dapat bertahan selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan lebih lama.
Seseorang dengan limerence bisa terus memikirkan orang yang disukainya, membayangkan hubungan bersama, mencari alasan untuk menghubungi, hingga menafsirkan berbagai interaksi kecil sebagai petunjuk bahwa perasaannya mungkin berbalas.
Misalnya, sebuah pesan singkat, tatapan, komentar di media sosial, atau sekadar sapaan dapat dipikirkan berulang kali. Dari interaksi sederhana tersebut, seseorang bisa membangun cerita yang jauh lebih besar di dalam pikirannya. Ia mungkin terus bertanya-tanya, apakah sikap tersebut merupakan tanda ketertarikan atau justru penolakan.
Inilah yang membuat limerence berbeda dari sekadar jatuh cinta.
Dalam cinta, perasaan biasanya berkembang berdasarkan hubungan dan pengenalan terhadap seseorang secara nyata. Sementara dalam limerence, fantasi, harapan, dan ketidakpastian dapat mengambil porsi yang sangat besar.
Psikolog Albert Wakin menggambarkan kondisi tersebut sebagai ketika orang yang disukai berubah menjadi simbol sumber kebahagiaan dan pemenuhan diri.
Limerence bukan berarti cinta
Perasaan yang muncul dalam limerence memang bisa sangat kuat. Namun, intensitas tersebut tidak otomatis berarti seseorang sedang mengalami cinta yang sehat.
Limerence cenderung berpusat pada bagaimana seseorang merasakan dan membayangkan hubungan tersebut, bukan semata-mata pada hubungan nyata yang sedang dijalani. Karena itu, seseorang bisa merasa sangat terikat kepada orang yang sebenarnya belum terlalu dikenalnya.
Limerence juga tidak selalu berkaitan dengan hubungan romantis atau seksual. Seseorang dapat mengalaminya terhadap teman atau orang lain yang memiliki hubungan emosional kuat dengannya.
Salah satu contohnya adalah ketika seseorang merasa sangat terpukul hanya karena seorang teman tidak membalas pesan atau email. Penolakan atau ketidakpastian kecil dapat memicu kesedihan yang intens dan membuat pikirannya terus berputar pada orang tersebut.
Ketidakpastian justru membuat ketagihan
Salah satu karakteristik limerence adalah adanya harapan sekaligus keraguan. Seseorang berharap perasaannya berbalas, tetapi pada saat yang sama tidak pernah benar-benar yakin. Kondisi 'mungkin iya, mungkin tidak' inilah yang justru dapat membuat seseorang semakin terikat.
Psikolog Abby Medcalf menyebut ketidakpastian sebagai bahan bakar yang membuat siklus tersebut terus berjalan. Ketika seseorang mendapatkan tanda bahwa perasaannya mungkin berbalas, otak dapat meresponsnya sebagai sebuah penghargaan.
Jika penghargaan tersebut datang secara tidak terduga atau tidak konsisten, dorongan untuk terus mencarinya bisa semakin kuat. Karena itu, pesan yang datang sesekali, perhatian yang muncul tiba-tiba, atau interaksi yang tidak menentu dapat membuat seseorang semakin sulit melepaskan diri.
Siapa yang rentan mengalami limerence?
Penelitian mengenai limerence masih terbatas. Namun, sejumlah kajian menunjukkan bahwa kondisi ini mungkin lebih sering muncul pada orang dengan anxious attachment atau keterikatan cemas.
Orang dengan pola keterikatan ini umumnya memiliki kekhawatiran tinggi akan ditinggalkan dan membutuhkan kepastian dalam hubungan. Meski demikian, limerence tidak berarti seseorang otomatis mengalami gangguan kecemasan atau gangguan obsesif kompulsif (OCD).
Kondisi ini juga tidak selalu menunjukkan adanya gangguan mental tertentu. Yang menjadi perhatian adalah ketika pikiran dan perilaku tersebut mulai mengganggu kemampuan seseorang menjalani kehidupan sehari-hari.
Misalnya, seseorang sulit berkonsentrasi bekerja, tidak bisa tidur, kehilangan nafsu makan, atau menghabiskan sebagian besar waktunya memikirkan orang yang disukainya.
(tis/tis)[Gambas:Video CNN]

