Tak Selalu Baik bagi Tubuh, Ini 5 Risiko Diet Tinggi Protein

CNN Indonesia
Kamis, 13 Agu 2026 08:15 WIB
Ketahui sejumlah risiko diet tinggi protein. Sesuatu yang dikonsumsi berlebihan tak selalu mendatangkan kebaikan bagi tubuh.
Ilustrasi. Ketahui sejumlah risiko diet tinggi protein. Sesuatu yang dikonsumsi berlebihan tak selalu mendatangkan kebaikan bagi tubuh. (iStock/PeopleImages)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Dalam beberapa tahun terakhir, diet tinggi protein makin populer. Baik itu protein dalam bentuk suplemen seperti protein shake maupun dari pola makan tertentu, seperti diet paleo atau diet Atkins.

Banyak orang menganggap protein sebagai nutrisi utama untuk membentuk otot dan menurunkan berat badan. Namun, konsumsi protein yang berlebihan tidak selalu memberi hasil yang lebih baik bagi tubuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada kondisi tertentu, justru ada efek samping yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, penting untuk memahami berbagai risiko diet tinggi protein sebelum Anda menjalaninya terlalu jauh.

Risiko diet tinggi protein

Meskipun baik bagi tubuh, berlebihan mengonsumsi sesuatu bisa mendatangkan efek samping. Berikut ini beberapa risiko yang dipercaya bisa muncul jika Anda kelebihan protein di dalam tubuh.

1. Memicu gangguan ginjal pada orang tertentu

Bagi orang dengan ginjal sehat, asupan protein tinggi umumnya masih aman. Akan tetapi, risiko berbeda muncul pada mereka yang sudah memiliki penyakit ginjal.

Mengutip laman Health, ginjal bertugas menyaring sisa metabolisme protein, sehingga beban kerjanya bisa meningkat jika asupan protein terlalu tinggi.

Pada penderita penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD), pola makan tinggi protein berpotensi mempercepat penurunan fungsi ginjal.

2. Asupan nutrisi lain jadi berkurang

Saat seseorang terlalu fokus pada protein, ada kemungkinan makanan lain yang lebih beragam malah tersisih dari menu harian. Diet tinggi protein yang terlalu menekan karbohidrat sering membuat orang kurang mengonsumsi buah, sayur, kacang-kacangan, biji-bijian, dan legum.

Padahal, makanan tersebut kaya serat, vitamin, mineral, antioksidan, dan prebiotik yang penting bagi tubuh. Jika pola makan terlalu didominasi protein hewani, tubuh bisa kekurangan vitamin C, folat, magnesium, dan serat.

3. Berpotensi menimbulkan masalah pencernaan

Risiko diet tinggi protein lainnya, terutama yang sangat rendah karbohidrat, sering kali rendah serat. Padahal serat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan usus dan melancarkan pencernaan.

Ketika asupan serat berkurang, keseimbangan mikrobiota usus bisa terganggu. Akibatnya, sebagian orang mengalami sembelit, kembung, atau rasa begah.

4. Tidak selalu lebih baik untuk kesehatan jantung

Banyak orang khawatir diet tinggi protein berdampak buruk pada jantung. Mengutip Healthline, penelitian terbaru tidak selalu menunjukkan hubungan langsung antara protein tinggi dan penyakit jantung.

Namun, masalah bisa muncul jika sumber protein yang dipilih kurang sehat, misalnya terlalu banyak daging olahan atau lemak jenuh. Jadi, bukan hanya jumlah protein yang perlu diperhatikan, tetapi juga kualitas sumbernya.

5. Mengganggu kesehatan tulang jika pola makan buruk

Sempat ada anggapan protein tinggi dapat menurunkan kepadatan tulang. Meski penelitian modern menunjukkan protein justru penting untuk tulang, pola makan yang tidak seimbang tetap bisa menjadi masalah.

Protein memang membantu membangun jaringan tubuh, tetapi tulang juga membutuhkan kalsium, vitamin D, dan nutrisi lain. Jika konsumsi protein tinggi dilakukan tanpa memperhatikan asupan nutrisi pendukung, kesehatan tulang tetap bisa terdampak.

Berapa asupan protein harian yang ideal?

Ikuti batas aman asupan hariannya agar terhindar dari risiko diet tinggi protein.Ikuti batas aman asupan hariannya agar terhindar dari risiko diet tinggi protein. (iStockphoto/Rimma_Bondarenko)

Kebutuhan protein harian tidak sama untuk setiap orang. Mengutip Cleveland Clinic, panduan terbaru dari 2025-2030 Dietary Guidelines for Americans merekomendasikan orang dewasa mengonsumsi sekitar 1,2 hingga 1,6 gram protein per kilogram berat badan per hari.

Untuk orang dengan berat 68 kg, misalnya, jumlah konsumsi protein harian sekitar 82-108 gram protein per hari.

Bagi orang sehat, angka tersebut umumnya masih aman. Namun, jika Anda memiliki penyakit ginjal, sebaiknya kurangi konsumsi dari rekomendasi panduan tersebut dan konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi agar tidak memperburuk kondisi.

Protein memang tetap penting untuk tubuh, tetapi konsumsinya harus seimbang. Jadi, pahami risiko diet tinggi protein sebelum Anda mengikuti tren diet tertentu.

(rti)


[Gambas:Video CNN]