Perjalanan Tolak Angin: Menjaga Tradisi, Tumbuh Mengikuti Zaman
Selama puluhan tahun, jamu telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Namun, tidak banyak produk herbal yang mampu mempertahankan relevansinya di tengah perubahan zaman dan gaya hidup seperti Tolak Angin.
Perjalanan Tolak Angin bermula pada 1935, ketika Rakhmat Sulistio atau Go Djing Nio membuka usaha jamu dan rempah-rempah di Yogyakarta. Lima tahun kemudian, racikan Tolak Angin mulai diperkenalkan dalam bentuk godogan dan mendapat tempat di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan tersebut kemudian berkembang seiring berdirinya pabrik pertama Sido Muncul di Semarang pada 1951. Sejak saat itu, Tolak Angin tidak hanya menjadi bagian dari warisan keluarga, tetapi berkembang menjadi produk herbal yang dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat.
Warisan yang bertahan lintas generasi
Salah satu kekuatan Tolak Angin adalah kemampuannya untuk tetap dekat dengan kebutuhan masyarakat dari generasi ke generasi.
Mulai dari generasi yang lebih tua hingga anak muda dengan mobilitas tinggi, Tolak Angin hadir sebagai produk herbal yang praktis dikonsumsi dalam berbagai situasi. Hal ini membuat Tolak Angin tidak lagi sekadar dipandang sebagai jamu tradisional, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat modern.
Direktur Marketing Sido Muncul, Maria Reviani Hidayat, mengatakan bahwa kepercayaan lintas generasi tersebut tidak terlepas dari manfaat, format produk, serta kemudahan konsumsi Tolak Angin.
"Tolak Angin itu salah satu brand kita yang dikonsumsi oleh lintas generasi, dikonsumsi oleh berbagai segmen demografis," ujar Maria.
Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap produk yang dapat menunjang kondisi tubuh tetap prima juga membuat Tolak Angin relevan dengan berbagai karakter konsumen.
Menjawab gaya hidup anak muda
Perubahan gaya hidup turut mendorong Tolak Angin untuk terus beradaptasi. Aktivitas anak muda saat ini semakin beragam, mulai dari olahraga, bepergian, hingga berbagai kegiatan yang membutuhkan mobilitas tinggi.
Dalam kondisi tersebut, produk herbal yang praktis menjadi semakin relevan. Tolak Angin pun berupaya hadir di tengah aktivitas anak muda, termasuk melalui berbagai kolaborasi dengan brand dan komunitas yang dekat dengan generasi tersebut.
Beberapa di antaranya adalah kolaborasi dengan Tahilalats dan Brodo, serta keterlibatan dalam berbagai acara musik seperti Synchronize Fest, Bigu Fest, Semesta Berpesta, Lengger Bicara, hingga Scream or Dance.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa mempertahankan sebuah produk warisan bukan berarti harus terpaku pada cara komunikasi masa lalu.
Sebaliknya, relevansi dapat dibangun dengan membawa nilai yang sama ke dalam konteks yang lebih dekat dengan generasi baru.
Lihat Juga :![]() LAPORAN INTERAKTIF Pendar Rona Sepanjang Usia |
Dari produk lokal hingga pasar global
Relevansi Tolak Angin juga tidak berhenti di pasar Indonesia. Produk ini telah beredar di 34 negara, termasuk Malaysia, Filipina, dan Jepang.
Menariknya, di sejumlah negara, Tolak Angin tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri. Produk tersebut juga mulai diterima oleh konsumen lokal.
Fenomena ini salah satunya didorong oleh meningkatnya mobilitas wisatawan serta peran media sosial dalam memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat global.
Di tengah popularitas Indonesia sebagai destinasi wisata, Tolak Angin bahkan kerap direkomendasikan oleh turis asing sebagai salah satu produk herbal yang patut dicoba ketika berkunjung ke Indonesia.
Bagi Sido Muncul, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa produk lokal dapat memiliki daya tarik yang melampaui batas geografis ketika mampu menawarkan produk yang relevan, mudah diterima, dan sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Inovasi tanpa meninggalkan akar
Mempertahankan relevansi selama puluhan tahun juga membutuhkan inovasi. Pada 2025, Tolak Angin menjalankan sejumlah kolaborasi melalui kampanye "Kolaborasi Pintar".
Bersama Brodo dan Tahilalats, misalnya, Tolak Angin menghadirkan produk sepatu yang memadukan kualitas, kearifan lokal, dan ekspresi kreatif. Tolak Angin juga menghadirkan mini series "Angin Angan" yang mengangkat keindahan Wakatobi.
Tidak berhenti di sana, Tolak Angin berkolaborasi dengan Chatime menghadirkan Coco Angin, sebuah minuman dengan perpaduan rasa chocolate mint.
Berbagai kolaborasi tersebut menjadi cara untuk memperkenalkan produk herbal melalui medium dan pengalaman yang lebih dekat dengan masyarakat modern, khususnya anak muda.
Di balik inovasi dan strategi komunikasi yang terus berkembang, kualitas produk tetap menjadi salah satu fondasi utama Tolak Angin. Sido Muncul menyatakan bahwa pengembangan produknya dilakukan melalui riset dan serangkaian pengujian, termasuk uji khasiat dan uji toksisitas.
Dalam materi penelitian yang dikutip, penggunaan Tolak Angin cair pada dosis yang diuji dilaporkan aman tanpa menimbulkan gangguan pada sejumlah fungsi organ yang diamati.
Konsistensi tersebut turut menjadi bagian dari upaya Sido Muncul dalam mempertahankan kepercayaan konsumen. Tolak Angin juga mencatat sejumlah penghargaan pada 2025, di antaranya Indonesia Original Brand 2025 untuk kategori Herbal Supplement, Solo Best Brand and Innovation Award 2025, serta Indonesia Brand Expansion Award 2025.
Di sisi digital, penjualan Tolak Angin di platform online juga menunjukkan pertumbuhan. Dalam periode 2020 hingga 2025, penjualannya disebut tumbuh hingga 99 persen, sementara pada periode 2022 hingga 2025 pertumbuhan penjualan online mencapai 73 persen.
Menjaga warisan, menjawab zaman
Lebih dari 60 tahun sejak awal perjalanan racikannya, Tolak Angin menunjukkan bahwa produk tradisional dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya.
Kuncinya bukan hanya mempertahankan apa yang sudah ada, tetapi juga memahami bagaimana kebutuhan masyarakat berubah. Dari produk jamu keluarga, Tolak Angin berkembang menjadi produk herbal yang hadir dalam kehidupan lintas generasi, menjangkau anak muda, masuk ke pasar global, serta beradaptasi dengan perkembangan gaya hidup dan perilaku konsumen.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa warisan tidak harus berhenti pada masa lalu. Dengan inovasi, konsistensi kualitas, dan kemampuan membaca perubahan zaman, produk lokal dapat terus menemukan tempatnya di tengah generasi yang berbeda.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan merupakan kebutuhan yang tidak mengenal usia. Dan bagi Tolak Angin, perjalanan panjang tersebut menjadi bukti bahwa sebuah produk herbal Indonesia dapat terus tumbuh, beradaptasi, dan tetap dipercaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
(fef)
