Jangan Langsung Marah, Lakukan 6 Hal Ini Jika Anak Ketahuan Berbohong

CNN Indonesia
Sabtu, 15 Agu 2026 11:55 WIB
ilustrasi orang tua dan anak
Ilustrasi. Respons orang tua setelah mengetahui kebohongan justru bisa menjadi momen penting untuk mengajarkan anak soal kejujuran. (Istockphoto/ Fizkes)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Anak ketahuan berbohong tentu bisa bikin orang tua kesal. Apalagi kalau kebohongan itu muncul setelah anak melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. Spontan ingin memarahi anak mungkin saja muncul.

Tapi, respons orang tua setelah mengetahui kebohongan justru bisa menjadi momen penting untuk mengajarkan anak soal kejujuran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terlalu keras bisa membuat anak takut mengaku, sementara respons yang tepat dapat membantu anak lebih terbuka dan mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sebaiknya apa yang dilakukan orang tua saat anak ketahuan berbohong?

1. Jangan langsung memarahi anak

Ketika mengetahui anak berbohong, orang tua sebaiknya tidak langsung meledak atau membuat anak takut mengaku. Berikan kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Penelitian pada anak usia 4-9 tahun yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Child Psychology menemukan bahwa anak yang memperkirakan orang tuanya akan memberikan respons lebih positif ketika mereka mengaku juga lebih sering dilaporkan mengakui kesalahan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, ketika anak ketahuan berbohong, orang tua bisa membuka percakapan tanpa langsung menghakimi. Hal ini akan membuat anak tetap memahami bahwa berbohong bukan tindakan yang benar, tetapi tidak merasa bahwa mengatakan kebenaran akan langsung membuatnya dimarahi.

2. Cari tahu alasan anak berbohong

Anak tidak selalu berbohong karena ingin menipu orang tua. Kebohongan bisa muncul karena berbagai alasan, misalnya takut dimarahi, ingin menghindari konsekuensi, mendapatkan sesuatu, atau sekadar mencoba melihat apa yang akan terjadi.

Jadi, setelah anak mengaku, orang tua dapat bertanya lebih jauh.

"Kenapa tadi kamu bilang begitu?"

"Waktu itu kamu takut apa?"

Pertanyaan semacam ini membantu orang tua memahami masalah di balik kebohongan, sekaligus mengajarkan anak mengenali perasaannya sendiri.

3. Jelaskan pentingnya berkata jujur

Kejujuran juga perlu diajarkan, bukan hanya dituntut. Anak yang sebelumnya mengikuti diskusi mengenai benar dan bohong memberikan laporan yang lebih jujur dibandingkan anak yang tidak mendapatkan diskusi tersebut.

Artinya, orang tua bisa memanfaatkan momen ketika anak berbohong untuk membicarakan mengapa kejujuran penting. Anak pun perlahan belajar bahwa jujur bukan sekadar aturan, tetapi cara untuk menyelesaikan masalah.

4. Tetap berikan konsekuensi atas kesalahannya

Mendorong anak jujur bukan berarti kesalahan yang dilakukan boleh dilewatkan begitu saja.

Orang tua tetap bisa memberikan konsekuensi yang sesuai dengan kesalahan anak. Bedanya, konsekuensi diberikan karena tindakan yang dilakukan, bukan karena anak memilih untuk berkata jujur.

Dengan cara ini, anak belajar dua hal sekaligus, kejujuran dihargai, sementara kesalahan tetap harus dipertanggungjawabkan.

5. Orang tua juga perlu memberi contoh

Anak tidak hanya belajar dari nasihat orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lihat sehari-hari. Anak menilai pesan verbal orang tua tentang kejujuran dibandingkan perilaku yang mereka tunjukkan.

Hasilnya, ketika perkataan dan tindakan orang tua tidak konsisten, anak lebih banyak mengandalkan perilaku orang tua dalam menilai bagaimana seseorang seharusnya bertindak.

Jadi, pesan "jangan berbohong" akan lebih kuat jika anak juga melihat orang tuanya berusaha menerapkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua juga bisa memberi contoh sederhana dengan mengakui kesalahan sendiri.

6. Hindari berbohong untuk membuat anak menurut

Mother and daughter are having a disagreement, sitting on the sofa and gesturing with their handsIlustrasi. Respons orang tua setelah mengetahui kebohongan justru bisa menjadi momen penting untuk mengajarkan anak soal kejujuran. (iStockphoto/directors)

Orang tua terkadang menggunakan kebohongan kecil agar anak mau melakukan sesuatu. Misalnya, "Kalau kamu tidak makan sayur, nanti dokter datang," atau "Kalau kamu tidak tidur, nanti polisi datang menangkap."

Kebiasaan tersebut juga perlu diperhatikan. Masih dari Journal of Experimental Child Psychology, penelitian terhadap 564 pasangan orang tua-anak di Singapura menemukan bahwa paparan anak terhadap instrumental lies, yakni kebohongan yang digunakan orang tua untuk membuat anak menuruti sesuatu, berkaitan dengan kecenderungan anak lebih banyak berbohong kepada orang tua.

Karena itu, sebisa mungkin orang tua dapat mengganti kebohongan dengan penjelasan yang sederhana dan sesuai usia anak.

Anak yang ketahuan berbohong memang perlu diarahkan agar memahami pentingnya kejujuran. Namun, respons orang tua pun menjadi bagian dari proses tersebut.

(anm/asr)