Museum Hopping dan Wisata Sejarah Kemerdekaan Saat HUT ke-81 RI
Jelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-81 tahun, tidak ada salahnya kita mengenang perjalanan dan sejarah para pejuang di masa lampau.
Museum Hopping dan wisata sejarah bisa menjadi pilihan sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan tanah air yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.
Museum hopping adalah kegiatan mengunjungi beberapa museum berbeda secara berurutan dalam satu hari atau satu perjalanan. Jakarta menjadi salah satu kota di Indonesia yang menjadi saksi sejarah bagaimana perjalanan Indonesia sebelum akhirnya merdeka.
Tak heran, banyak lokasi di Jakarta yang memiliki kisah perjalanan menuju Indonesia merdeka, di mana tempat-tempat ini menjadi saksi perjuangan hingga tersimpannya benda-benda bersejarah dalam kemerdekaan Indonesia.
Perjalanan sehari Museum Hopping dalam rangka menghormati perjuangan para pahlawan di momen peringatan Hari Kemerdekaan kali ini bisa dimulai dari Gedung Joang '45 dan berakhir di Kantor Arsip Nasional Republik Indonesia.
Berikut rencana Museum Hopping di Jakarta dalam menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia.
1. Gedung Joang '45
Tempat pertama yang wajib dikunjungi untuk mengetahui perjalanan kemerdekaan Indonesia adalah Gedung Joang '45 yang berlokasi di Menteng Raya No. 31, Jakarta Pusat.
Pada tahun 1938 Gedung Joang '45, didirikan oleh LC Schomper dan dinamakan hotel "Schomper". Hotel ini ditempati khusus bagi para pejabat tinggi Belanda, pengusaha asing dan pejabat pribumi.
Ketika Jepang menjajah Indonesia pada Maret 1942, gedung dikuasai oleh Jepang dan diserahkan oleh Sendenbu (Jawatan Penerangan Bala Tentara Jepang) kepada Pemuda Indonesia sebagai tempat pendidikan politik serta asrama para pemuda bangsa Indonesia.
Tempat inilah yang menjadi markas Pemuda Indonesia menyusun rencana untuk mendesak Soekarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan.
Kemudian pada 19 Agustus 1974, Gedung Joang '45 diresmikan menjadi museum oleh Presiden Soeharto.
Pemberian nama Gedung Joang '45 tentunya memiliki alasan, sebab gedung ini memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan, terutama di masa-masa akhir penjajahan Jepang menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945.
2. Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Museum berikutnya yang harus dikunjungi untuk menelusuri perjalanan sebelum proklamasi dikumandangkan adalah Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
Berlokasi di Jl. Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat, Museum Perumusan Naskah Proklamasi sebenarnya merupakan kediaman Laksamana Maeda.
Bangunan yang dirancang dengan gaya Art Deco oleh arsitek Belanda J.F.L Blankenberg pada sekitar tahun 1920-an ini menjadi lokasi perancangan naskah proklamasi pada malam 16 Agustus hingga 17 Agustus 1945 dini hari.
Di sana tersimpan lebih dari seribu koleksi asli dan replika bersejarah terkait dengan gedung, peristiwa, dan tokoh perumusan naskah proklamasi kemerdekaan sehingga menjadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi sebagai pusat destinasi sejarah tingkat nasional.
3. Taman Proklamasi
Taman Proklamasi sebelumnya merupakan kediaman Soekarno, di Jl. Pegangsaan 56, yang kemudian menjadi lokasi pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Patung Soekarno dan Hatta yang terbuat dari perunggu berdiri dengan gagah di taman ini sebagai simbol bentuk penghormatan atas perjuangan mereka demi merebut kemerdekaan Indonesia.
4. Arsip Nasional Republik Indonesia
Setelah menelusuri tempat-tempat bersejarah dibalik terciptanya teks proklamasi, kita dapat melihat naskah konsep proklamasi yang ditulis langsung oleh Soekarno.
Arsip Nasional Republik Indonesia, berada di Jl. Ampera, Cilandak Timur, Jakarta Selatan. Di dalamnya, menyimpan berbagai dokumen bersejarah.
Sebelum naskah proklamasi diketik oleh Sayuti Melik di kediaman Laksamana Maeda, konsep awal dari proklamasi ditulis langsung oleh Soekarno.
Setelah diketik ulang oleh Sayuti Melik, naskah tulisan tangan Soekarno dianggap tidak diperlukan lalu dibuang ke keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda.
Namun, Burhanuddin Mohammad Diah, seorang tokoh pers yang berjasa menyebarkan kabar proklamasi, memahami nilai sejarah dari dokumen tersebut.
Dengan penuh kesadaran, ia mengambil dan menyimpannya dengan baik selama lebih dari 46 tahun. Pada tahun 1992, B.M. Diah menyerahkan naskah konsep teks Proklamasi yang ditulis oleh Soekarno kepada Soeharto.
(dsd/wiw)