7 Kebiasaan Orang Tua yang Dapat Membentuk Mental Tangguh Anak
Dunia parenting akrab dengan istilah ketangguhan (resilience). Orang tua ingin anak mampu menghadapi kekecewaan, bangkit dari kegagalan, dan mampu beradaptasi saat realitas tak sesuai rencana. Untuk menumbuhkan mental tangguh anak, sebaiknya orang tua dekat dengan kebiasaan-kebiasaan berikut.
Membangun ketangguhan, memangnya bisa? Tentu saja bisa. Hanya saja, orang tua kerap melakukan hal-hal yang justru bikin anak bermental lemah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat anak menghadapi kesulitan, orang tua buru-buru membantu. Ketika anak gagal atau menghadapi kecewa, orang tua ingin sesegera mungkin mengentaskan anak dari situasi itu tanpa mengajarinya mengelola emosi.
Kebiasaan orang tua yang dapat membentuk mental tangguh anak
Dalam keseharian, sikap tangguh dapat ditanamkan orang tua dalam kebiasaan-kebiasaan tertentu. Apa saja?
1. Mengakui dan menghargai perasaan anak
Orang tua kadang menganggap pengasuhan yang tegas demi kebaikan anak bakal membuat mereka tangguh. Sikap tegas nan keras ini justru membuat anak jadi keras pula.
Ketangguhan bermula dari hubungan. Riset tentang kemelekatan secara konsisten menunjukkan anak-anak yang mendapat pengasuhan yang hangat, responsif, dan dapat diprediksi akan mengembangkan kemampuan mengendalikan emosi dan mengatasi masalah.
Membangun kemelekatan dan rasa aman ini bisa dengan menatap mata anak saat berbicara dengan mereka, mengakui dan menghargai perasaan mereka, dan bersikap konsisten terhadap rutinitas.
Saat anak merasa aman, anak bersedia mengambil risiko yang wajar misalnya, mencoba bergabung ke tim olahraga, mengerjakan tugas yang menantang, atau menghadapi konflik.
2. Fokus pada usaha anak
Dengan fokus terhadap usaha anak, orang tua diam-diam menumbuhkan pola pikir berkembang (growth mindset). Pada akhirnya ini akan membentuk anak jadi bermental tangguh.
"Pola pikir berkembang mengubah cara pandang terhadap tantangan, dari sekadar hambatan menjadi peluang. Sebaliknya, pola pikir tetap (fixed mindset) memandang tantangan sebagai ancaman," kata psikolog Joseph Laino mengutip dari Parents.
Saat memberikan pujian, misal, coba akui usaha anak dengan "Kamu belajarnya rajin dan hasilnya sepadan dengan usahamu", atau "Wah teliti sekali dan rapi coretannya, pasti sabar sekali menggambarnya."
3. Izinkan anak menghadapi kesulitan
Ilustrasi. Anak perlu menemukan kesulitan agar ia belajar menyelesaikan masalah. Namun bukan berarti orang tua membiarkan anak begitu saja. (Kinan) |
Melihat anak menghadapi kesulitan, orang tua kebanyakan tidak tega. Pertolongan yang datang secepat kilat memang bikin lega tapi ini justru bikin anak kurang tangguh.
Akan tetapi di sisi lain, ketangguhan bukan kemudian membiarkan anak begitu saja. Orang tua perlu mencari titik tengahnya.
"Ini tentang menyeimbangkan kebutuhan anak untuk sedikit berjuang dalam mencari solusi, sembari memberikan dukungan bertahap agar mereka tidak merasa sendirian dalam proses tersebut," ujar Laino.
4. Biasakan anak tidur cukup
Kurang tidur jadi pemicu utama stres sehingga berdampak negatif terhadap daya ingat, konsentrasi, kognitif dan kemampuan pengambilan keputusan anak.
Orang tua perlu tegas soal screentime sebelum tidur. Paparan blue light menghambat produksi melatonin atau hormon yang membantu mengatur siklus tidur.
5. Bergerak
Aktivitas rutin itu penting termasuk anak-anak. Melansir dari Guardian, membiasakan anak bergerak dan berolahraga dapat meningkatkan ketangguhan mental anak.
Olahraga rutin terbukti sama efektifnya dengan pengobatan medis dalam hal menangani depresi dan kecemasan ringan.
6. Ajarkan anak untuk tidak selalu mendapat apa yang diinginkan
Anak perlu diberi pemahaman bahwa kita tidak selalu bisa mendapatkan apa yang diinginkan saat itu juga. Dalam ilmu Psikologi, orang yang mampu menerima penundaan kepuasan dapat menjalani hidup yang lebih bahagia dan sehat.
Ajak anak menabung untuk mendapatkan mainan yang diinginkan. Belajar memainkan alat musik atau menguasai jenis olahraga baru.
7. Mencontohkan sikap bersyukur
Ketimbang bertanya pada anak "Gimana sekolah hari ini?" atau "Di sekolah diajari apa?", coba ajak mereka melihat hari dari sudut pandang berbeda.
Orang tua bisa menanyakan pertanyaan berikut.
- Apa hal yang dilakukan orang lain hari ini yang bikin kamu bahagia?
- Apa yang kamu lakukan hari ini untuk membuat orang lain bahagia?
Deret pertanyaan ini akan membantu anak maupun orang tua menemukan sisi positif dalam keseharian. Anak belajar bersyukur, optimis, dan mengapresiasi kebaikan.
(els)

