Melihat bayi atau balita memasukkan hampir segala sesuatu ke mulut mungkin sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi orang tua. Mainan, ujung kain, jari, hingga benda yang baru ditemukan di lantai bisa saja langsung dicoba dengan mulut. Kebiasaan ini merupakan bagian dari proses anak mengenali lingkungan di sekitarnya.
Karena itu, orang tua tidak perlu langsung panik atau terus-menerus melarang anak setiap kali memasukkan sesuatu ke mulut. Hal yang lebih penting adalah memastikan benda dan lingkungan di sekitar anak aman untuk dieksplorasi.
Lantas, apa yang bisa dilakukan orang tua untuk menjaga anak tetap aman? Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat Juga : |
1. Jauhkan benda kecil dari jangkauan
Langkah paling sederhana adalah memastikan benda-benda berukuran kecil tidak mudah ditemukan anak. Melansir American Academy of Pediatrics (AAP), anak kecil memiliki risiko tersedak lebih tinggi karena masih sering mengeksplorasi benda dengan memasukkannya ke mulut.
Saluran napas mereka juga masih berukuran kecil sehingga benda yang terlihat sepele bagi orang dewasa bisa menjadi berbahaya bagi anak. Coba periksa benda-benda kecil yang mungkin tercecer di lantai, kolong furnitur, atau sela sofa.
Baterai, kancing, hingga magnet kecil perlu mendapat perhatian khusus. Jika tertelan, benda-benda tersebut dapat menyebabkan cedera serius pada tubuh anak.
2. Pilih mainan sesuai usia
Tidak semua mainan cocok untuk semua usia. Perhatikan label usia pada kemasan dan pilih mainan yang tidak memiliki bagian kecil atau komponen yang mudah terlepas.
AAP juga menyarankan agar bagian mainan yang diberikan kepada anak kecil berukuran lebih besar daripada mulutnya. Periksa pula mainan secara berkala untuk memastikan tidak ada bagian yang retak, patah, atau terlepas.
3. Jangan hanya melarang, coba alihkan
Ketika anak memasukkan benda ke mulut, respons yang paling mudah mungkin adalah langsung berkata, 'Jangan dimasukkan ke mulut!'. Sesekali mengingatkan tentu tidak masalah. Namun, pada bayi dan balita, kemampuan mengendalikan perilaku masih berkembang.
Alih-alih terus melarang, orang tua bisa mengambil benda yang berbahaya dan menggantinya dengan benda yang aman. Cara ini juga membantu anak belajar membedakan benda yang boleh dan tidak boleh dimasukkan ke mulut.
4. Sediakan benda yang aman untuk digigit
Pada masa tumbuh gigi, anak bisa semakin sering memasukkan benda ke mulut. Orang tua dapat menyediakan teether atau mainan yang memang dibuat untuk digigit dan sesuai dengan usia anak.
Pastikan benda tersebut tidak memiliki bagian kecil yang mudah terlepas. Kondisinya juga perlu diperiksa secara berkala. Jika sudah retak, robek, atau rusak, sebaiknya jangan diberikan lagi kepada anak.
5. Tetap awasi saat bermain dan makan
Pengawasan tetap penting, terutama ketika anak sedang bermain dengan banyak benda atau makan. Orang tua tidak harus terus-menerus memegang anak. Namun, sebaiknya tetap berada cukup dekat sehingga dapat segera mengambil benda yang berbahaya jika anak memasukkannya ke mulut.
Perhatikan juga makanan yang diberikan. Bentuk dan ukuran makanan tertentu dapat meningkatkan risiko tersedak pada anak kecil. Karena itu, makanan perlu disiapkan dengan bentuk dan ukuran yang sesuai dengan kemampuan anak.
6. Jika benda sudah terlanjur masuk ke mulut
Jika anak baru memasukkan benda ke mulut tetapi belum menelannya, orang tua dapat mengeluarkannya dengan tenang jika benda tersebut mudah dijangkau. Hindari membuat anak panik. Jika anak menangis atau bergerak tiba-tiba, benda justru bisa masuk lebih dalam dan meningkatkan risiko tersedak.
Jika anak mengalami kesulitan bernapas, tidak dapat menangis atau batuk dengan efektif, atau menunjukkan tanda-tanda tersedak, segera berikan pertolongan pertama sesuai kondisi dan cari bantuan medis.
Tidak perlu dilarang sepenuhnya
Memasukkan benda ke mulut merupakan bagian dari perkembangan bayi dan balita. Mengutip penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics, mouthing merupakan perilaku normal pada anak usia dini.
Lewat mulut, anak juga belajar mengenali tekstur, bentuk, dan karakteristik benda di sekitarnya. Jadi, yang perlu dicegah bukan setiap kali anak memasukkan sesuatu ke mulut, melainkan masuknya benda yang berbahaya atau berisiko menyebabkan tersedak dan cedera.
Orang tua dapat membuat lingkungan bermain menjadi lebih aman sekaligus tetap memberi ruang bagi anak untuk bereksplorasi. Dengan begitu, anak bisa belajar mengenal dunia di sekitarnya tanpa harus menghadapi risiko yang sebenarnya dapat dicegah.
(anm/tis)

