Pasar Baru dan Jejak Panjang Perdagangan di Batavia

CNN Indonesia
Senin, 12 Okt 2026 13:00 WIB
Pasar Baru dan Jejak Panjang Perdagangan di Batavia
Kawasan Pasar Baru di Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jakarta memiliki banyak kawasan yang menyimpan jejak sejarah sejak zaman Hindia Belanda. Salah satunya Pasar Baru yang telah berdiri sejak sekitar 1820, ketika Jakarta masih dikenal sebagai Batavia.

Pada masa itu, nama Pasar Baru ditulis sebagai Passer Baroe atau Pasar Baroe. Kawasan ini berada di Weltevreden, wilayah yang pada masa Hindia Belanda dikenal sebagai tempat tinggal para petinggi Eropa.

Sebelum Pasar Baru berkembang menjadi pusat perdagangan, kawasan Weltevreden lebih dulu tumbuh sebagai salah satu wilayah penting di selatan Batavia. Pada masa VOC, kawasan tersebut mulai berkembang. Saat itu, Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang juga telah lebih dahulu berdiri sebagai pusat perdagangan sejak abad ke-18.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memasuki awal abad ke-19, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mengembangkan Batavia ke arah selatan. Perkembangan tersebut membuat pusat pemerintahan secara perlahan bergeser dari Oud Batavia menuju Weltevreden.

Kondisi ini turut mendorong pembangunan Pasar Baru sekitar 1820. Kehadirannya melengkapi keberadaan Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang sekaligus memenuhi kebutuhan perdagangan yang semakin berkembang di kawasan selatan Batavia.

Secara administratif, Pasar Baru kini berada di Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan yang menjual beragam kebutuhan, mulai dari barang kelontong, elektronik, pakaian, sepatu, hingga berbagai pernak-pernik.

Posisinya yang strategis membuat Pasar Baru tidak hanya menjadi kawasan perdagangan, tetapi juga menyimpan beragam cerita tentang kehidupan masyarakat Jakarta. Salah satu yang menarik adalah keberagaman suku dan budaya yang berkembang di kawasan tersebut, termasuk masyarakat Betawi, Tionghoa, dan India.

Pada awalnya, Pasar Baru menjadi tempat bagi pedagang lokal untuk menjual hasil panen. Seiring waktu, jenis barang yang diperdagangkan semakin beragam, mulai dari kebutuhan sehari-hari, pakaian, hingga perhiasan.

Kehadiran komunitas India juga menjadi bagian penting dari sejarah Pasar Baru. Para pedagang keturunan India menjual berbagai pernak-pernik dan barang kebutuhan lainnya. Salah satu bagian kawasan tersebut bahkan dikenal sebagai "Little India" karena banyak pedagang dan warga keturunan India yang bermukim serta beraktivitas di sana.

Jejak komunitas India juga terlihat dari keberadaan rumah ibadah Sikh atau Gurdwara di kawasan Pasar Baru. Keberadaan tempat ibadah tersebut menjadi salah satu penanda keberagaman budaya yang telah lama tumbuh di kawasan ini.

Sementara itu, komunitas Tionghoa telah membuka toko di Pasar Baru sejak 1877. Kawasan ini juga memiliki Klenteng Sin Tek Bio yang disebut telah berdiri sejak abad ke-17, tepatnya pada 1698. Klenteng tersebut berada di Gang Kelinci.

Hingga kini, Pasar Baru masih menjadi salah satu kawasan yang ramai dikunjungi masyarakat untuk berbelanja. Selain toko-toko yang menjual pakaian, sepatu, dan berbagai kebutuhan lainnya, kawasan ini juga dikenal sebagai salah satu tujuan berburu barang bekas atau thrifting.

Beragam pakaian, celana, sepatu, dan pernak-pernik dapat ditemukan dengan harga yang relatif terjangkau, bahkan mulai dari sekitar Rp10 ribu.

Dengan sejarah panjang dan keberagaman masyarakatnya, Pasar Baru bukan sekadar kawasan perdagangan. Tempat ini menjadi salah satu bagian dari wajah Jakarta yang mempertemukan jejak masa lalu dengan kehidupan masyarakat hingga saat ini.

(dsd/tis)
placeholder