Sering Tersesat bahkan di Rumah Sendiri? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

CNN Indonesia
Rabu, 16 Sep 2026 13:00 WIB
Tersesat di rumah sendiri ternyata bukan soal ingatan payah, bisa jadi ini kondisi yang disebut sebagai developmental topographical disorientation.
Ilustrasi. Tersesat di rumah sendiri ternyata bukan soal ingatan payah, bisa jadi ini kondisi yang disebut sebagai developmental topographical disorientation (DTD). (iStockphoto/AaronAmat)
Jakarta, CNN Indonesia --

Biasanya kita mudah tersesat jika sedang berada di tempat asing untuk pertama kalinya. Misalnya ketika sedang bepergian ke kota lain atau negara lain.

Namun ada pula orang tertentu yang tersesat bahkan di rumahnya sendiri. Hal ini terjadi tidak selalu karena ingatan lemah, tetapi kemampuan navigasinya memang tak berfungsi seperti pada orang umumnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi ini disebut sebagai developmental topographical disorientation (DTD) atau disorientasi perkembangan topografi. Adapun kondisi ini bersifat seumur hidup, bukan masalah navigasi yang muncul setelah cedera otak atau penyakit neurologis tertentu.

Apa itu DTD?

Menurut tinjauan literatur mengenai DTD di Jurnal Neuropsychology Review (Maret 2026) oleh Ineke J M van der Ham dan Michiel H G Claessen, DTD mengacu pada kondisi kemampuan navigasi yang sangat terganggu pada seseorang yang sehat.

Sering kali kondisi ini menyebabkan konsekuensi serius, bahkan sangat memengaruhi pendidikan dan pilihan karier seseorang. Orang yang mengalami DTD pun cenderung membatasi diri dalam bepergian ke luar rumah.

Sejak 2009, sejumlah studi empiris tentang DTD mulai muncul. Namun belum ada definisi yang jelas tentang DTD, sehingga alat yang bisa mengukur kondisi ini belum tersedia.

Van der Ham dan Claessen mencoba meninjau 15 studi empiris tentang DTD untuk kemudian melihat benang merah kondisi langka tersebut.

Hasilnya, kesulitan navigasi ini sebagian besar berkaitan erat dengan masalah kualitas peta mental atau peta kognitif.

Kemampuan seseorang dengan DTD untuk mengenali landmark atau markah seperti gedung, gunung, dan sebagainya, masih bisa berfungsi dengan baik. Hanya saja ia kesulitan menemukan jalan untuk menuju landmark tersebut.

Masalah ini bahkan bisa terjadi di rumah sendiri. Pada kasus yang parah, penderita DTD bahkan tak bisa menggambar denah rumah atau sekadar mengingat urutan ruangan di dalamnya.

Bagi penderita DTD, solusinya adalah menggunakan rute jalan yang sering dilalui. Kendalanya, yaitu ketika rute yang biasa dilalui ditutup atau tak bisa dilewati karena satu dan lain hal, ia akan kesulitan mencari rute alternatif.

Inilah yang membuat dampak DTD bisa jauh lebih serius ketimbang sekadar 'payah dalam membaca peta.'

Kasus pertama dilaporkan pada 2009

Mengutip Science Alert, kasus pertama yang menggunakan terminologi DTD dilaporkan pada 2009 oleh seorang ahli saraf Giuseppe Laria dan rekan-rekannya di Universitas British Columbia, Kanada

Mereka meneliti seorang perempuan yang mengalami kesulitan navigasi sepanjang hidupnya, meski kemampuan sensorik dan intelektualnya berfungsi dengan baik.

Dari sejumlah tes yang diberikan, perempuan tersebut kesulitan menguraikan dan membangun peta kognitif di dalam benaknya.

Hal ini juga terlihat dari hasil pencitraan otak. Ketika ia mencoba membentuk peta kognitif, wilayah otak yang bekerja dalam mengolah memori dan navigasi spasial tidak menunjukkan pola aktivitas yang khas seperti pada orang lain.

Peta kognitif yang dimaksud di sini, bukan berarti mengingat rute seakan melihat Google Maps di dalam kepala. Pemetaan ini lebih mengacu pada representasi mental tentang bagaimana hubungan antara satu tempat dan tempat lainnya.

Contohnya, seseorang tahu bahwa ada minimarket di dekat stasiun KRL dekat rumahnya. Lalu tak jauh dari situ ada taman kota.

Hubungan antar-tempat seperti inilah yang memungkinkanmu untuk menemukan jalan pintas atau jalan alternatif menuju lokasi tujuan.

Pada penderita DTD, membangun representasi spasial ini di kepala bisa sangat sulit. Untungnya, keberadaan GPS bisa cukup membantu orang dengan kondisi ini jika bepergian keluar rumah.

Namun adanya kondisi khusus ini menunjukkan kerja otak manusia ternyata cukup rumit. Ada banyak pekerjaan yang dilakukan otak agar kita tidak mudah tersesat. Kemampuan hebat ini sering kita anggap remeh.

(rti)
placeholder