Polkadot Kembali Tren, dari Minnie Mouse hingga Gaya Modern

CNN Indonesia
Senin, 31 Agu 2026 20:00 WIB
Polkadot kembali menjadi tren pada 2026. Motif klasik ini punya sejarah panjang dan membuktikan bahwa tren mode memang berputar.
Ilustrasi. Polkadot kembali menjadi tren pada 2026. Motif klasik ini punya sejarah panjang dan membuktikan bahwa tren mode memang berputar. (iStockphoto/Aleksander Kaczmarek)
Jakarta, CNN Indonesia --

Belakangan, motif polkadot kembali semakin sering terlihat. Motif berupa titik-titik yang dulu lekat dengan rok mengembang, gaun feminin, hingga busana bergaya retro kini hadir dalam berbagai bentuk.

Sekilas, polkadot memang seperti motif yang tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menghilang untuk beberapa waktu, kemudian kembali dengan tampilan yang sedikit berbeda.

Namun, sebelum menjadi motif yang akrab dengan dunia mode, polkadot ternyata memiliki sejarah cukup panjang. Melansir Cosmopolitan, perkembangan teknologi tekstil pada masa Revolusi Industri ikut memungkinkan pembuatan pola titik yang lebih rapi dan simetris.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perkembangan mesin jahit dan teknologi produksi tekstil kemudian membuat motif tersebut semakin mudah diproduksi. Menariknya, pada awal kemunculannya, motif titik sempat dikaitkan dengan wabah dan persoalan kebersihan.

Istilah polka dots sendiri pertama kali muncul dalam media cetak pada 1857. Godey's Lady's Book, majalah perempuan asal Amerika Serikat, menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan kain dengan deretan titik berbentuk bulat.

Nama polkadot berkaitan dengan popularitas tarian polka pada pertengahan abad ke-19. Saat itu, polka tengah menjadi tren besar di Eropa dan Amerika Serikat. Motif titik yang sebelumnya sudah digunakan dalam berbagai bentuk kemudian ikut mendapatkan nama tersebut. Sebelum istilah polkadot populer, kain bermotif titik sebenarnya memiliki beragam nama di berbagai tempat.

Dari Minnie Mouse hingga ikon pop

Popularitas polkadot semakin meningkat setelah pada 1926 Norma Smallwood, perempuan pertama dari komunitas Native American yang memenangkan gelar Miss America, tampil mengenakan pakaian renang bermotif titik. Disney kemudian ikut mempopulerkan motif tersebut melalui karakter Minnie Mouse yang mulai mengenakan busana polkadot pada era 1930-an.

Memasuki 1950-an, polkadot semakin lekat dengan citra feminin. Sejumlah ikon seperti Marilyn Monroe dan Elizabeth Taylor turut mengenakan motif tersebut. Perancang busana Christian Dior juga memasukkan polkadot ke dalam koleksi New Look-nya. Salah satu desain bermotif tersebut bahkan menjadi koleksi terlaris pada 1954.

Popularitas polkadot terus berlanjut. Pada 1960-an, motif ini menjadi bagian dari gaya mod yang identik dengan figur seperti Twiggy dan Goldie Hawn. Polkadot kemudian kembali terlihat dalam gaya sejumlah ikon budaya pop, seperti Princess Diana, Julia Roberts, dan Prince, pada era 1980-an hingga 1990-an.

Kini, memasuki 2026, polkadot kembali muncul di antara gaya para selebritas dan figur pop. Motif tersebut terlihat dikenakan sejumlah nama, mulai dari Ariana Grande dan Olivia Rodrigo hingga idol Korea Selatan seperti Jung Chae-yeon.

Ketika mode memang suka berputar

Melihat perjalanan panjangnya, muncul pertanyaan: mengapa dunia mode terus menghidupkan kembali sesuatu yang pernah populer? Penelitian The Logic of Fashion Cycles mencoba menjelaskan fenomena tersebut melalui model matematika yang melihat bagaimana preferensi terhadap suatu gaya menyebar dari satu orang ke orang lain.

Hasil penelitian menunjukkan pola yang cukup familiar. Sesuatu yang awalnya hanya digunakan oleh sedikit orang dapat menyebar, menjadi populer, lalu perlahan ditinggalkan ketika sudah terlalu umum. Dengan kata lain, tren muncul, mulai dilirik, menjadi populer, kemudian terasa terlalu biasa dan akhirnya ditinggalkan. Setelah cukup lama tidak terlihat, tren tersebut dapat kembali dianggap menarik. Siklus itu pun berulang.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tren yang mengalami peningkatan popularitas secara cepat cenderung dapat mengalami penurunan dengan cepat pula. Itu sebabnya sesuatu yang hari ini dianggap basi dapat terlihat fresh beberapa tahun kemudian.

Ketika sebuah gaya lama kembali, generasi baru juga tidak selalu melihatnya sebagai sesuatu yang kuno. Mereka dapat menganggapnya sebagai sesuatu yang baru karena belum mengalami masa ketika gaya tersebut pertama kali populer.

Hal serupa terjadi pada tren mode saat ini. Mengutip studi yang dimuat dalam Fashion and Textiles, informasi mengenai tren mode menyebar melalui berbagai sumber, termasuk runway, fashion influencer, dan peritel daring. Perkembangan internet dan teknologi juga ikut mengubah cara informasi mengenai mode menyebar. Influencer dan komunitas daring kini menjadi sumber penting dalam membentuk opini sekaligus menyebarkan tren kepada konsumen.

Karena itu, kemunculan kembali polkadot bukan sekadar soal motif lama yang kembali populer. Ia menjadi salah satu contoh bagaimana dunia mode terus bergerak dalam sebuah siklus. Motif yang pernah dianggap kuno dapat menemukan kehidupan baru ketika dikenakan oleh generasi berbeda, dipadukan dengan gaya yang berbeda, dan hadir dalam konteks yang berbeda pula.

(anm/tis)