Waspada Virus Zika di Bali, Ini Gejala dan Risikonya
Peringatan terkait risiko virus Zika di Bali sempat menjadi perhatian setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menerbitkan Travel Health Notice Level 2 untuk Bali.
Peringatan tersebut diterbitkan pada 7 Agustus 2026 setelah ditemukan wisatawan yang terinfeksi Zika usai melakukan perjalanan ke Bali. Meski demikian, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memastikan belum menemukan kasus Zika di Indonesia.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan informasi tersebut bermula dari buletin European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) pada pekan ke-16, yakni periode 11-17 April 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat Juga : |
Dalam buletin tersebut disebutkan terdapat wisatawan asal Prancis dan Jerman yang dinyatakan positif Zika setelah bepergian ke Bali. Namun, laporan itu tidak menjelaskan secara rinci lokasi yang dikunjungi kedua wisatawan selama berada di Bali.
"Saat berita buletin ECDC dinaikkan lagi oleh CDC Amerika Serikat, langsung ditindaklanjuti melalui pertemuan dengan CDC Indonesia dan CDC Amerika Serikat," ujar Andi, seperti dikutip dari detikHealth.
Menurut Andi, hingga 10 Agustus 2026 pukul 21.00 WIB, Indonesia juga belum menerima pemberitahuan resmi melalui mekanisme International Health Regulations (IHR) dari Prancis maupun Jerman mengenai kasus Zika tersebut.
"Sampai saat ini pun tidak ada notifikasi IHR terkait Zika dari negara-negara tersebut," tuturnya.
Risiko kasus Zika tidak terdeteksi
Meski Kemenkes memastikan belum ada temuan kasus, epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengingatkan adanya kemungkinan infeksi Zika yang tidak terdeteksi. Hal ini disebabkan sebagian besar infeksi Zika tidak menimbulkan gejala. Kalaupun muncul, gejalanya cenderung ringan sehingga dapat disalahartikan sebagai penyakit lain.
"Gejala Zika ini overlap, sering disalahartikan sebagai dengue, chikungunya, influenza, atau viral syndrome daripada langsung melakukan pemeriksaan Zika virus," ujar Dicky.
Kondisi tersebut membuat jumlah kasus yang terdeteksi dapat lebih sedikit dibandingkan jumlah infeksi yang sebenarnya terjadi. Orang yang terinfeksi tanpa gejala tetap dapat membawa virus dan berpotensi berperan dalam penularan.
Zika merupakan penyakit yang terutama ditularkan melalui gigitan nyamuk. Infeksi ini umumnya menimbulkan gejala ringan, tetapi perlu mendapat perhatian lebih pada kelompok tertentu, terutama ibu hamil.
Dicky mengatakan infeksi Zika pada ibu hamil dapat berdampak pada janin. Salah satu risikonya adalah komplikasi neurologis, meski kondisi tersebut tergolong jarang.
Gejala virus Zika
Jika menimbulkan gejala, infeksi Zika umumnya ditandai dengan demam ringan dan ruam pada kulit. Demam biasanya berada di bawah 38,5 derajat Celsius. Gejala lain yang dapat menyertai antara lain mata merah, nyeri sendi, nyeri otot, sakit kepala, tubuh terasa lemah, hingga pembengkakan di sekitar sendi.
"Gejalanya juga biasanya berlangsung sekitar 2-7 hari. Yang paling karakteristik selain demam ringan adalah ruam makulopapular. Akhirnya mirip-mirip seperti demam berdarah," jelas Dicky.
Ia menambahkan, gejala lain yang dapat muncul adalah konjungtivitis nonpurulen atau mata merah, nyeri sendi, nyeri otot, sakit kepala, kelemahan, serta pembengkakan di sekitar sendi. Karena gejalanya dapat menyerupai sejumlah penyakit lain, seperti demam berdarah, chikungunya, atau influenza, pemeriksaan khusus diperlukan untuk memastikan infeksi Zika.
Meski CDC AS mengeluarkan peringatan perjalanan terkait Bali dan terdapat laporan wisatawan yang positif Zika setelah berkunjung ke wilayah tersebut, Kemenkes RI hingga kini menyatakan belum menemukan kasus Zika di Indonesia.
Baca selengkapnya di sini.
(anm/tis)