Apa Benar Gorengan Rumahan Lebih Sehat? Ternyata Ini Kata Ahli Gizi

CNN Indonesia
Jumat, 28 Agu 2026 12:02 WIB
Gorengan tempe, Indonesian fried tempe snack, served with sambal or chili sauce and chilli pepper, served on wooden plate
Ilustrasi. Ahli gizi ungkap fakta sebenarnya terkait gorengan rumahan yang dianggap lebih sehat. (iStockphoto/airdone)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gorengan menjadi salah satu camilan yang sulit dilewatkan. Tempe, tahu, bakwan, hingga pisang goreng kerap tersedia di rumah karena bahan dan cara membuatnya relatif mudah.

Memasak sendiri juga sering dianggap lebih sehat dibandingkan membeli gorengan di luar. Minyak dapat dipilih sendiri, bahan makanan bisa dicuci dan diolah dengan lebih terkontrol, termasuk memastikan minyak tidak digunakan berkali-kali.

Namun, apakah gorengan yang dibuat di rumah benar-benar lebih sehat?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Spesialis Gizi Klinik Igus Ulfa Yaze mengatakan gorengan rumahan memang memiliki kelebihan, terutama dari sisi higiene. Saat memasak sendiri, penggunaan minyak juga lebih mudah dikontrol, termasuk memastikan minyak diganti ketika sudah tidak layak digunakan.

"Kalau secara higienitas, ya lebih higienis. Karena kalau kita beli di luar, kita tidak tahu minyaknya sudah digoreng berkali-kali atau tidak. Kalau di rumah, kita tahu minyaknya sudah harus diganti atau belum," kata Yaze mengutip DetikHealth.

Meski demikian, faktor kebersihan bukan berarti membuat gorengan rumahan otomatis menjadi makanan sehat. Kandungan lemak dan kalori tetap perlu diperhatikan, terutama jika gorengan dikonsumsi dalam jumlah banyak dan terlalu sering.

Kurangi gorengan secara bertahap

Bagi orang yang terbiasa makan gorengan setiap hari Yaze menyarankan agar kebiasaan tersebut dikurangi secara bertahap. Misalnya, jika biasanya mengonsumsi lima gorengan dalam sekali makan, jumlahnya bisa diturunkan menjadi dua atau tiga buah. Frekuensinya juga dapat dikurangi dari hampir setiap hari menjadi beberapa kali dalam sepekan.

"Misalnya hampir setiap hari makan gorengan, berarti seminggu itu tiga kali saja. Misalnya setiap kali makan gorengan biasa lima, sekarang berarti dua saja," ujar Yaze.

Pengurangan secara bertahap dinilai lebih realistis untuk membangun pola makan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Menghilangkan gorengan secara mendadak juga bisa membuat seseorang semakin menginginkan makanan dengan rasa gurih dan tekstur renyah.

Karena itu, frekuensi dan porsi dapat dikurangi perlahan agar kebiasaan makan yang baru lebih mudah dijalani.

Keinginan untuk menyantap makanan yang renyah tidak selalu harus dipenuhi dengan menggorengnya menggunakan banyak minyak. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah air fryer. Alat tersebut dapat membantu menghasilkan tekstur renyah dengan penggunaan minyak yang lebih sedikit.

"Misalnya kayak di air fryer, jadi tetap crunchy, tapi mungkin minyaknya lebih minim. Atau lebih bagus lagi misalnya dipanggang. Bagus lagi kalau misalnya dikukus," kata Yaze.

Metode memasak seperti memanggang, mengukus, atau menggunakan air fryer dapat menjadi pilihan untuk mengurangi penggunaan minyak. Namun, pilihan metode memasak tetap perlu disesuaikan dengan jenis bahan makanan dan kebutuhan.

Tetap perhatikan porsi

Gorengan umumnya menggunakan bahan makanan yang dilapisi tepung sebelum dimasak dalam minyak. Ketika makanan bertepung tersebut digoreng, kandungan karbohidrat dan lemaknya perlu diperhitungkan sebagai bagian dari asupan harian.

Jika dikonsumsi dalam jumlah banyak, gorengan dapat menyumbang kalori cukup besar. Apalagi, makanan dengan tekstur renyah dan rasa gurih sering membuat seseorang sulit berhenti setelah menyantap satu atau dua buah.

Yaze mengatakan makanan bertepung dan gorengan tetap boleh dikonsumsi. Namun, porsi dan frekuensinya perlu diperhatikan. Dengan demikian, gorengan rumahan tetap dapat menjadi bagian dari pola makan.

Memasak sendiri memberikan keuntungan karena kebersihan bahan, jenis minyak, cara pengolahan, dan jumlah makanan lebih mudah dikontrol. Namun, label 'homemade' bukan berarti gorengan bisa dikonsumsi tanpa batas. Kandungan lemak dan kalori tetap perlu diperhitungkan.

"Jadi enggak bisa dibilang sehat juga ya. Tapi kalau secara higiene, ya oke lah," pungkas Yaze.

Baca selengkapnya di sini

(tis/tis)
placeholder