Bahan Sunscreen Ini Lebih Ampuh Tangkis Sinar UV, Apa Itu?
Matahari penting bagi kehidupan manusia. Namun bahaya sinarnya tetap harus diwaspadai, seperti radiasi yang dapat memicu mutasi gen. Oleh karena itu, penting melindungi diri kita dengan sunscreen agar terhindar dari kanker kulit.
Kita mungkin mengenal zinc oxide, titanium dioxide, oxybenzone, dan berbagai zat lainnya yang umum digunakan dalam sunscreen atau tabir surya. Namun ada satu bahan lainnya ampuh menangkal radiasi sinar matahari, yakni bemotrizinol (BEMT).
Yuk, kenalan lebih jauh dengan bahan tabir surya yang satu ini.
BEMT bukan barang baru
Meski penggunaan BEMT sebagai bahan tabir surya baru diizinkan di Amerika Serikat pada Juni 2026 lalu, bahan ini sudah lebih dahulu digunakan di Eropa dan Korea Selatan.
Mengutip Stanford Report, BEMT dikembangkan oleh para ahli kimia di Swiss untuk menemukan tabir surya yang lebih baik di tahun 1990-an.
Meski bersifat larut dalam minyak, BEMT tak akan mudah menyerap ke dalam kulit karena molekulnya yang besar. Ini membuatnya ideal untuk membentuk lapisan yang menyerap sinar ultraviolet (UV) dari matahari dan mengubahnya menjadi panas tak berbahaya.
Adapun menurut laman American Chemical Society (ACS), BEMT dapat menyerap 315-400 nanometer (nm) sinar UVA dan 280-315 sinar UVB.
Kelebihan BEMT dibanding bahan lainnya
Selain tak mudah terserap ke dalam kulit, kelebihan utama BEMT, yaitu memblokir sinar UV dengan sangat baik dibanding tabir surya lainnya.
Meski banyak produk yang mengeklaim dapat memberikan perlindungan spektrum luas, kenyataannya belum ada tabir surya di AS yang bisa memblokir semua sinar UVA.
Dibanding UVB, UVA paling mudah menembus kulit karena gelombangnya yang lebih panjang. Tabir surya pada umumnya menyisakan celah kecil sekitar 370-400 nm yang bisa ditutup oleh BEMT.
Tak cuma kemampuannya menangkal sinar UV, BEMT juga jauh lebih unggul dalam soal kenyamanan pemakaian.
"Jika Anda memiliki tabir surya yang akan menodai pakaian Anda atau meninggalkan lapisan putih di kulit Anda, atau jika terasa berminyak, kebanyakan orang tidak ingin memakainya," kata dokter kulit Stanford, Zakia Rahman, dilansir Science Alert.
Semua isu tersebut tak ditemukan pada produk tabir surya dengan bahan dasar BEMT.
Kelebihan lainnya, BEMT lebih fotostabil alias tak mudah rusak. Artinya, tabir surya ini dapat bertahan selama enam hingga delapan jam. Tak seperti tabir surya lain yang mengharuskan pengguna mengaplikasikan ulang setiap 2-3 jam.
Adapun formulasi lain seperti avobenzone, bahkan dapat rusak hanya 30 menit setelah terpapar sinar matahari. Meski demikian, demi keamanan, dokter spesialis kulit dari Stanford Medicine, Susan Swetter, menganjurkan kita tetap mengoleskan kembali bemotrizinol setiap dua jam.
Selain itu, bahan tabir surya ini juga aman digunakan oleh anak-anak berusia di atas enam bulan.
"Jika kita mulai menggunakan tabir surya dan tindakan perlindungan matahari lainnya secara teratur sejak usia 18 tahun pertama, kita dapat mengurangi angka kejadian kanker kulit sekitar 80 persen pada usia dewasa," tutur Swetter.
(rti)