Studi: Bicara Banyak Bahasa Bisa Bikin Otak 13 Tahun Lebih Muda

CNN Indonesia
Jumat, 04 Sep 2026 02:00 WIB
Ilustrasi. Orang yang bicara banyak bahasa otak bisa lebih muda 13 tahun. (iStockphoto/Firstsignal)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kemampuan berbicara lebih dari satu bahasa ternyata tidak hanya berguna untuk berkomunikasi. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa kemampuan multilingual mungkin berkaitan dengan proses penuaan otak yang lebih lambat.

Penelitian yang dilakukan Federation of European Neuroscience Societies (FENS) menemukan orang yang menguasai beberapa bahasa memiliki aktivitas otak yang tampak lebih muda dibandingkan mereka yang hanya berbicara satu bahasa.

Bahkan, orang yang mampu berbicara empat bahasa memiliki aktivitas otak yang diperkirakan hingga 13 tahun lebih muda. Penelitian tersebut melibatkan 728 orang dari wilayah Basque, Spanyol, yang memiliki kemampuan berbicara hingga empat bahasa.

Para peneliti kemudian menggunakan alat yang dapat mendeteksi medan magnet yang dihasilkan oleh sel-sel otak yang sedang aktif. Dari aktivitas tersebut, peneliti membuat semacam 'jam penuaan otak' untuk memperkirakan usia biologis otak seseorang berdasarkan pola aktivitasnya.

Jam penuaan otak itu kemudian diterapkan pada kelompok lain yang terdiri dari 144 orang untuk melihat bagaimana kemampuan berbahasa berkaitan dengan usia otak. Hasilnya menunjukkan pola yang cukup menarik, orang yang berbicara dua bahasa memiliki aktivitas otak yang tampak sekitar enam tahun lebih muda dibandingkan orang yang hanya berbicara satu bahasa.

Sementara itu, mereka yang menguasai tiga bahasa memiliki aktivitas otak yang tampak sekitar tujuh tahun lebih muda. Pada orang yang berbicara empat bahasa, perbedaannya bahkan mencapai sekitar 13 tahun.

Peneliti mengatakan temuan tersebut menunjukkan bahwa manfaat kemampuan berbahasa mungkin tidak sekadar berkaitan dengan apakah seseorang bilingual atau tidak. Tingkat penguasaan bahasa dan lamanya seseorang menggunakan bahasa tersebut juga tampaknya berperan.

"Penguasaan bahasa yang lebih tinggi dan mulai mempelajari bahasa kedua sejak lebih awal juga berkaitan dengan penuaan otak yang lebih lambat," kata Lucia Amoruso, pemimpin kelompok penelitian di Basque Center on Cognition, Brain, and Language di San Sebastián, Spanyol, mengutip Real Simple.

Menurut Amoruso, pengalaman menggunakan banyak bahasa dapat memberikan efek yang berbeda-beda. Artinya, manfaatnya bukan sekadar terbagi antara orang yang bisa dua bahasa dan mereka yang hanya menguasai satu bahasa.

Semakin dalam dan semakin lama seseorang memiliki pengalaman menggunakan bahasa, semakin besar pula kaitannya dengan pola penuaan otak yang lebih lambat. Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa kemampuan berbahasa bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesehatan otak. Pola hidup dan aktivitas sosial juga dapat memengaruhi pola aktivitas otak seseorang.

Penelitian selanjutnya akan melihat lebih jauh kombinasi bahasa yang digunakan seseorang dan bagaimana hal tersebut memengaruhi otak. Salah satu hal yang menarik untuk diteliti adalah apakah berganti-ganti antara dua bahasa yang memiliki kemiripan membutuhkan kontrol otak yang lebih besar dibandingkan menggunakan dua bahasa yang sangat berbeda.

Christina Dalla, profesor farmakologi di Medical School of the National and Kapodistrian University of Athens yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan ada banyak alasan untuk mempelajari bahasa lain. Selain manfaat sosial dan budaya, belajar bahasa juga berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan otak.

"Karena itu, kita perlu mendukung pembelajaran bahasa di sekolah dan sepanjang kehidupan, meskipun prosesnya tidak selalu mudah," ujarnya.

(tis/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK