Pengin Awet Muda? Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Beli Suplemen Kolagen
Banyak orang mulai melirik suplemen kolagen saat melihat tanda-tanda penuaan dini mulai mencuat. Seiring bertambahnya usia, terlebih menjelang usia 30-an produksi kolagen memang mulai berangsur menurun.
Lalu mengapa kolagen yang dikejar? Mengutip Harvard Health Publishing, kolagen merupakan protein struktural utama yang menyusun banyak jaringan tubuh, termasuk kulit, rambut, kuku, tendon, tulang rawan, dan tulang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bekerja bersama elastin dan asam hialuronat, kolagen bisa menjaga kekencangan, volume, serta kelembapan kulit. Itulah mengapa saat kadar kolagen berkurang, kulit bisa tampak kering, kurang elastis, dan garis halus mulai terlihat.
Kondisi ini membuat banyak orang berharap bantuan dari suplemen agar kulit tetap sehat dan tampak muda. Namun sebelum membeli, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan agar kamu tidak salah pilih suplemen kolagen.
1. Perhatikan sumber kolagennya
Suplemen kolagen berasal dari berbagai sumber, seperti sapi, ikan, babi, atau ayam. Menurut laman Health, kalau kamu memiliki alergi ikan, sebaiknya hindari suplemen kolagen yang berbahan dasar marine collagen.
Selain itu, beberapa sumber kolagen bisa lebih berpotensi memicu reaksi tubuh dibanding sumber lain.
2. Pastikan dosisnya tepat
Belum ada dosis kolagen yang resmi dianjurkan untuk semua orang. Namun riset menunjukkan, konsumsi harian sekitar 2,5-15 gram hydrolyzed collagen peptides dinilai aman dan efektif.
Kebutuhan ini pun bisa berbeda tergantung tujuanmu mengonsumsinya, misalnya untuk kesehatan kulit, sendi, atau massa otot. Kalau targetmu meningkatkan kekuatan otot, dosis yang dibutuhkan bisa mencapai 15 gram per hari.
3. Pilih bentuk kolagen yang efektif
Saat membaca label di botol suplemen atau minuman kolagen, carilah istilah seperti hydrolyzed collagen (kolagen terhidrolisis) atau collagen peptides (kolagen peptida).
Kolagen berbentuk peptida sudah dipecah menjadi partikel kecil, sehingga lebih mudah diserap tubuh. Dibandingkan bentuk kolagen yang belum dihidrolisis, jenis ini umumnya lebih praktis dan dianggap lebih optimal untuk dikonsumsi.
4. Cari produk dengan nutrisi pendukung yang tepat
Beberapa suplemen kolagen menambahkan vitamin C atau asam hialuronat. Vitamin C membantu proses pembentukan kolagen, sedangkan asam hialuronat dapat mendukung kelembapan kulit.
Meski efek tambahannya masih bervariasi dalam berbagai penelitian, dua bahan ini punya dukungan ilmiah yang lebih kuat dibanding campuran herbal yang sering ditambahkan pada produk suplemen kolagen pada umumnya.
5. Hindari klaim yang terlalu muluk
Ilustrasi. Perhatikan baik-baik bahan dan klaim suplemen kolagen yang hendak dibeli. Hindari yang beri janji muluk. (iStockphoto/BrianAJackson) |
Mengutip GoodRX, waspadai produk yang menjanjikan hasil instan, misalnya efek anti-aging seketika. Klaim seperti ini biasanya tidak didukung bukti ilmiah yang memadai.
Jika terdengar terlalu muluk atau tidak realistis, besar kemungkinan memang begitu. Pilih produk yang penawarannya realistis dan transparan.
6. Hati-hati dengan bahan aditif berlebihan
Sebaiknya pilih suplemen kolagen yang minim aditif. Hindari produk dengan gula tambahan, pemanis buatan, pewarna sintetis, pengawet berlebihan, dan filler yang tidak perlu.
Beberapa contoh bahan yang sebaiknya diwaspadai, yaitu sucralose, erythritol, Red Dye 40, sodium benzoate, dan potassium sorbate. Meski tidak semuanya berbahaya, bahan tambahan berlebih bisa memicu masalah pencernaan atau efek samping lain.
Memilih suplemen kolagen tidak cukup hanya melihat kemasan yang menarik atau janji manfaat yang heboh. Kamu perlu lebih jeli melihat daftar bahan di kemasannya. Jangan sampai upayamu untuk awet muda jadi terhalang karena salah pilih produk.

