Istri Korban Tewas Turbulensi Singapore Airlines 2024 Ajukan Gugatan
Istri dari penumpang berkebangsaan Inggris yang tewas dalam insiden turbulensi parah penerbangan Singapore Airlines (SIA) SQ321 resmi mengajukan gugatan hukum terhadap pihak maskapai di Pengadilan Tinggi Inggris.
Linda Kitchen (74) melayangkan gugatan ganti rugi atas cedera patah tulang belakang yang dialaminya, sekaligus menuntut pertanggungjawaban atas kematian suaminya, Geoff Kitchen (73), melansir BBC.
Berdasarkan berkas Pengadilan Tinggi Inggris, keluarga Kitchen mengajukan dua gugatan hukum terpisah, gugatan atas nama pribadi Linda untuk mendukung biaya pemulihan medis, serta gugatan yang mewakili aset atas nama almarhum suaminya, mengutip The Independent.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah penumpang lain juga tercatat melayangkan gugatan hukum serupa terhadap SIA, di antaranya Bradley Richards, Jack Jenkins, Hannah Fullerton, Andrew Dawood, Bryan Matthews, serta pasangan Pauline dan Michael Rainey.
Saat dikonfirmasi pada Sabtu (29/8), pihak manajemen Singapore Airlines menolak memberikan komentar terkait proses hukum yang tengah berjalan di pengadilan.
Pasangan suami istri tersebut tengah memulai perjalanan liburan selama enam minggu menuju Singapura, Indonesia, dan Australia saat jet Boeing 777-300ER yang mereka tumpangi menghantam turbulensi hebat di atas wilayah udara Myanmar dalam penerbangan dari London menuju Singapura.
"Guncangan sangat dahsyat hingga saya mengira pesawat akan jatuh," kenang Linda, seperti dilansir Channel News Asia.
Saat insiden terjadi, suaminya terlempar dan menindih tubuh Linda hingga terhimpit di sandaran tangan kursi. Para penumpang lain bergegas menolong dan memberikan pertolongan pertama (CPR) kepada Geoff, namun nyawanya tidak tertolong.
Linda dirawat di rumah sakit Bangkok selama 10 hari sebelum diterbangkan kembali ke Bristol, Inggris, untuk menjalani perawatan lanjutan. Ia baru mengetahui kabar kematian suaminya dua hari setelah insiden.
"Tidak ada hal yang bisa mempersiapkan saya saat mendengar dia telah tiada. Itu benar-benar menghancurkan hati saya," ujar Linda. "Saya merasa memiliki kewajiban kepadanya untuk setidaknya mendapatkan kejelasan atas apa yang terjadi," tambahnya.
Penerbangan SQ321 yang mengangkut 211 penumpang dan 18 awak kabin terpaksa melakukan pendaratan darurat di Bangkok, Thailand, pada 21 Mei 2024 akibat guncangan ekstrem.
Laporan akhir dari Biro Penyelidikan Keselamatan Transportasi Singapura (TSIB) yang dirilis pada Mei 2026 menyimpulkan bahwa Geoff Kitchen meninggal dunia akibat gagal jantung dan pulmonary oedema (penumpukan cairan di paru-paru).
Penyelidik TSIB menemukan bahwa turbulensi dipicu oleh konveksi awan yang berkembang pesat dan menghasilkan arus udara naik-turun (updraft dan downdraft) yang signifikan.
Indikator radar cuaca pesawat tidak mendeteksi adanya cuaca buruk beberapa menit sebelum kejadian, dan kondisi visual menunjukkan jalur penerbangan yang cerah.
Lampu petunjuk sabuk pengaman sempat dinyalakan saat guncangan awal terjadi, namun turbulensi parah menghantam hanya 17 detik kemudian, sehingga awak kabin disebut tidak memiliki cukup waktu untuk memberikan pengumuman darurat.
Perubahan gaya gravitasi yang sangat cepat melempar para penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman ke udara sebelum menghempas mereka kembali ke lantai kabin. Insiden ini mengakibatkan 1 orang tewas, 56 orang luka berat, dan 23 orang luka ringan.
(wiw)