Ini Alasan Sekolah Menanyakan Riwayat Kelahiran Anak saat Daftar PAUD
Saat mendaftarkan anak ke PAUD, preschool, atau taman kanak-kanak (TK), orang tua mungkin menemukan sejumlah pertanyaan yang terasa tidak berkaitan langsung dengan sekolah.
Misalnya, anak lahir pada usia kehamilan berapa minggu, berapa berat badannya saat lahir, apakah pernah dirawat di NICU, hingga apakah ada komplikasi setelah persalinan.
Pertanyaan tersebut bukan berarti sekolah menganggap anak yang lahir prematur atau mengalami komplikasi pasti memiliki masalah perkembangan.
Riwayat tersebut dapat menjadi salah satu informasi untuk membantu memahami perkembangan anak dan menentukan apakah ada hal yang perlu dipantau lebih lanjut.
Riwayat kelahiran dapat berkaitan dengan perkembangan anak
Melansir American Academy of Pediatrics, prematuritas dan komplikasi pada periode kelahiran bayi berkaitan dengan risiko gangguan perkembangan saraf pada masa kanak-kanak.
Risiko tersebut dapat terlihat dalam berbagai kemampuan, mulai dari bahasa dan bicara, koordinasi motorik, perhatian, perilaku, kemampuan sosial, hingga proses belajar.
Sebagian masalah bahkan baru terlihat ketika anak semakin besar dan mulai menghadapi tuntutan yang lebih kompleks di lingkungan sekolah.
Karena itu, riwayat seperti usia kehamilan saat lahir, berat lahir, kondisi selama perawatan neonatal, atau riwayat NICU dapat membantu memberikan gambaran mengenai faktor yang perlu diperhatikan dalam perkembangan anak.
Kenapa informasi ini penting saat anak mulai sekolah?
Memasuki PAUD atau TK, anak mulai menggunakan banyak kemampuan sekaligus. Anak perlu memahami instruksi guru, berkomunikasi, memegang alat tulis, berkonsentrasi, mengikuti kegiatan, beradaptasi dengan lingkungan baru, hingga berinteraksi dengan teman.
Jika sekolah mengetahui riwayat kelahiran anak, informasi tersebut dapat menjadi konteks ketika guru menemukan anak membutuhkan waktu lebih lama dalam salah satu kemampuan tersebut.
Misalnya, anak terlihat kesulitan mengikuti instruksi, berkonsentrasi, berbicara, menggunakan kemampuan motorik, atau beradaptasi dengan lingkungan baru. Riwayat kelahiran tentu tidak bisa digunakan untuk langsung menyimpulkan penyebabnya.
Akan tetapi, informasi tersebut dapat membantu orang tua, guru, dan tenaga profesional menentukan apakah perkembangan anak perlu dipantau atau dievaluasi lebih lanjut.
AAP juga menekankan pentingnya pemantauan perkembangan secara berkelanjutan serta komunikasi antara tenaga kesehatan dan penyedia layanan pendidikan anak usia dini.
Bukan juga cuma soal lahir normal atau caesar. Ketika berbicara tentang riwayat persalinan, informasi yang penting sebenarnya tidak berhenti pada apakah anak lahir normal atau melalui operasi caesar.
Yang lebih relevan untuk melihat faktor risiko perkembangan antara lain usia kehamilan saat lahir, berat badan lahir, riwayat prematuritas, perawatan NICU, serta komplikasi yang dialami setelah lahir.
Hal ini karena prematuritas dan kondisi neonatal tertentu memiliki kaitan yang lebih jelas dengan perkembangan anak dibandingkan sekadar metode persalinannya.
Dengan demikian, pertanyaan seperti "lahir berapa minggu?" atau "pernah masuk NICU?" dapat membantu memberikan gambaran mengenai kondisi awal kehidupan anak.
Meski begitu, riwayat prematuritas atau komplikasi saat lahir bukan berarti anak pasti akan mengalami gangguan perkembangan atau kesulitan belajar. Informasi tersebut lebih tepat dipandang sebagai salah satu bagian dari riwayat anak, bukan sebagai diagnosis.
Jadi, ketika sekolah menanyakan riwayat kelahiran saat proses pendaftaran, tujuannya bukan untuk memberi label pada anak.
Informasi itu dapat membantu sekolah memahami kebutuhan anak dengan lebih utuh, terutama ketika anak mulai menunjukkan kemampuan dan tantangan yang berbeda selama proses belajar.
Maka, riwayat awal kehidupan anak dapat menjadi salah satu informasi yang membantu orang tua dan sekolah memastikan perkembangan anak dipantau dan didukung sesuai kebutuhannya.
(anm/fef)