Seorang perempuan asal California AS, Grace Jamison, hampir mengalami kebutaan total gara-gara pakai lensa kontak saat mandi. Ia berharap, pengalamannya tak terjadi pada orang lain pula.
Jamison mulai mengenakan lensa kontak sejak usia 14 tahun. Punya banyak aktivitas, ia selalu menggunakan lensa kontak seharian hingga tetap dipakai saat mandi, lalu baru melepasnya ketika hendak tidur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat berusia 19 tahun, tepatnya setahun lalu, ia pindah ke Republik Dominika untuk melakukan misi Latter-day Saints (LDS).
Seperti rutinitasnya selama bertahun-tahun, ia mandi dengan kontak lensa masih terpasang dan melepasnya saat mau tidur. Namun di sinilah kemalangan dialaminya.
"Saya tahu Anda tidak boleh berenang dengan lensa kontak, tetapi saya tidak pernah berpikir air mandi tidak aman untuk lensa kontak," ujar Jamison yang kini berusia 20 tahun, seperti diwartakan People pada Rabu (2/9).
Matanya terinfeksi amoeba
Beberapa hari berlalu dan Jamison baru menyadari ada yang salah dengan matanya. Awalnya mata terasa gatal dan kering. Dalam waktu singkat, mata jadi sangat merah dan sensitif terhadap cahaya.
Gejalanya pun memburuk dengan sangat cepat. Dalam waktu seminggu, penglihatannya makin kabur hingga ia hampir tak bisa melihat dengan kedua matanya,
Saat memeriksakan diri ke dokter, ia diresepkan obat tetes mata steroid karena diduga ada infeksi herpes di matanya. Namun resep ini justru dapat memperburuk kondisi matanya.
Setelah bolak-balik ke dokter mata selama sebulan, Jamison akhirnya mendapat diagnosis pasti. Ia menderita Acanthamoeba keratitis.
Mengutip Cleveland Clinic, kondisi ini merupakan infeksi mata akibat oleh organisme mikroskopis yang mirip bakteri tetapi sedikit lebih kompleks. Orang yang menggunakan lensa kontak atau imunitasnya rendah, berisiko terkena kondisi ini.
"Ketika saya mengetahui bahwa banyak orang dengan Acanthamoeba keratitis kehilangan penglihatan mereka, saya sangat sedih. Sebagian dari diri saya berharap itu tidak akan terjadi pada saya, tetapi jauh di lubuk hati, saya pikir saya tahu betapa seriusnya itu," tutur Jamison.
Ia mengatakan, infeksi ini tak hanya terjadi di Republik Dominika, tetapi bisa terjadi di belahan dunia mana saja. Ia ingin lebih banyak orang yang menyadari akan kondisi ini, terutama yang sering memaparkan lensa kontak terhadap air.
Mengalami kebutaan selama 4 bulan di kedua mata
Meski sudah mendapat diagnosis dan pengobatan tepat, infeksi tetap makin berkembang dan Jamison sempat mengalami buta total di kedua matanya selama empat bulan. Matanya juga jadi sangat sensitif terhadap cahaya, sehingga harus selalu dalam ruangan gelap.
Bagi seseorang yang sangat aktif, kondisi ini membuat Jamison kehilangan kemandiriannya. Aktivitas sederhana seperti makan pun jadi sulit baginya.
"Saya tidak tahu di mana letak barang-barang, dan saya tiba-tiba harus mempelajari kembali hal-hal yang selalu saya anggap biasa," katanya.
Lewat empat bulan, Jamison akhirnya mulai mengalami perkembangan baik. Infeksi di mata sebelah kirinya pun ternyata tak separah di mata kanan.
Kini, lewat setahun setelah kejadian awal, mata Jamison masih mengalami kerusakan dan ada bekas luka. Namun dengan bantuan kacamata, ia sudah bisa melihat dengan jelas.
Ia pun masih dalam pengobatan untuk melawan infeksi, termasuk menggunakan obata tetes mata yang selalu bikin matanya perih.
"Saya sudah lebih terbiasa selama setahun terakhir, tetapi tetap saja sakit. Jadi bukan hanya Acanthamoeba yang menyerang mata saya yang menyakitkan, pengobatannya sendiri juga bisa sangat menyakitkan," tutur Jamison.
Jamison mengingatkan, orang-orang perlu waspada menjaga penglihatannya. Hanya karena sesuatu belum terjadi saat ini, bukan berarti kita tidak mengalaminya di masa depan.
"Tolong jangan pernah mengambil risiko dengan penglihatan Anda. Itu sama sekali tidak sepadan. Saya tahu itu karena saya hidup dengan konsekuensinya," ucapnya.
(rti)
