Cerita Pesawat Kena Abu Vulkanik, Mesin Mati 16 Menit di Udara

CNN Indonesia
Senin, 07 Sep 2026 12:00 WIB
Ilustrasi pesawat Maskapai British Airways. (Foto: Wikipedia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) menilai keputusan penghentian sementara operasional sejumlah bandara imbas erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan langkah yang tepat. Abu vulkanik menyimpan bahaya laten yang sangat fatal bagi penerbangan, termasuk risiko melumpuhkan seluruh mesin pesawat saat berada di udara.

Anggota IABI, Daryono, mengungkit insiden bersejarah British Airways Penerbangan 9 pada 24 Juni 1982. Saat itu, pesawat Boeing 747 melintasi awan abu erupsi Gunung Galunggung, Jawa Barat, pada ketinggian 37 ribu kaki hingga mengalami mati mesin total.

"Abu vulkanik silika yang terhisap ke dalam empat mesin jet Boeing 747 tersebut meleleh dan membeku di bilah turbin hingga memicu kegagalan pembakaran mendadak yang mematikan seluruh mesin secara bersamaan," ujar Daryono dalam keterangan resminya, Minggu (6/9).

Pesawat bermesin empat tersebut sempat meluncur bebas tanpa daya sejauh puluhan kilometer sebelum akhirnya keluar dari cengkeraman awan abu. Pesawat sempat meluncur tanpa daya selama 16 menit sebelum pilot berhasil menyalakan kembali mesin dan melakukan pendaratan darurat di Jakarta. Kejadian serupa berulang tiga minggu kemudian pada pesawat Singapore Airlines.

"Setelah meluncur bebas tanpa mesin sejauh puluhan kilometer keluar dari paparan awan abu, kapten pilot Eric Moody dan krunya berhasil menyalakan kembali mesin saat suhu partikel meleleh mendingin dan rontok di ketinggian lebih rendah," kata Daryono.

Kapten pilot dan krunya berhasil melakukan pendaratan darurat dengan selamat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Daryono menerangkan, karakteristik fisik dan kimia abu vulkanik amat berbeda dari awan biasa yang umumnya terbentuk dari tetesan air atau kristal es.

"Abu vulkanik tidak terdiri dari tetesan air atau kristal es, melainkan fragmentasi batuan mikroskopis, silika SiO2, serta kristal mineral berujung tajam yang bersifat sangat abrasif," tuturnya.

Ketika pesawat melaju dalam kecepatan tinggi, partikel abrasif tersebut sanggup mengikis kaca kokpit hingga buram, merusak sensor kecepatan udara (pitot tube), serta mengikis bilah turbin.

Ancaman paling kritis terjadi sewaktu abu terhisap ke dalam mesin turbofan yang beroperasi pada suhu ruang bakar 1.400 hingga 2.000 derajat Celsius, jauh di atas titik leleh silika yang berkisar 1.100 derajat Celsius.

"Penumpukan kerak kaca ini menyumbat nosel aliran udara dan mengganggu aerodinamika bilah turbin, yang berujung pada terhentinya aliran udara hingga hilangnya pembakaran internal secara total," tegas Daryono.

Selain merusak komponen mekanis, gesekan antarpartikel abu halus berkecepatan tinggi juga dapat memicu muatan listrik statis ekstrem, yang menimbulkan fenomena St. Elmo's Fire di kaca kokpit serta gangguan frekuensi radio.

Sifat asam pada abu turut berpotensi menyebabkan korosi pada komponen elektronik sensitif dan mencemari sirkulasi udara di dalam kabin. Daryono kembali menggarisbawahi sifat destruktif dari material erupsi ini terhadap pesawat udara.

"Abu vulkanik sangat berbahaya bagi penerbangan karena mengandung fragmentasi kaca silika (SiO2) dan mineral mikroskopis tajam yang bersifat abrasif," ucapnya.

Atas dasar potensi bahaya mendasar tersebut, ia mendukung penuh kebijakan otoritas penerbangan yang dengan cepat menghentikan operasional sejumlah bandara terdampak.

"Penghentian sementara operasional penerbangan di beberapa bandara saat terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini merupakan langkah dan keputusan yang tepat demi menjamin keselamatan penerbangan," beber Daryono.

(wiw)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK