Punya Anabul? Begini Cara Menjaganya dari Dampak Abu Vulkanik
Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi hingga Minggu (6/9) menyebabkan hujan abu vulkanik di sejumlah tempat. Hingga saat ini ada lima provinsi yang terdampak, yakni Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, hingga Bengkulu.
Jika wilayahmu terkena abu vulkanik, tentunya kamu harus lebih waspada menjaga kesehatan, terutama pernapasan dan mata. Bagi yang memiliki hewan peliharaan, penting juga untuk memantau dan menjaga keamanan mereka.
Berbeda dari debu biasa, partikel abu vulkanik mengandung silika seperti serpihan kaca tajam dan dapat mengiritasi hingga menimbulkan bahaya kesehatan serius. Anak bulu atau anabul yang terpapar dapat mengalami batuk, bersin, mata merah, hingga sulit bernapas.
Merangkum berbagai sumber, berikut sejumlah langkah praktis yang bisa dilakukan pemilik hewan untuk melindungi anabul dari dampak abu vulkanik.
1. Usahakan anabul tetap di dalam rumah
Menurut laman Animal Evac Selandia Baru, penting untuk membatasi aktivitas anabul di luar ruangan. Saat abu vulkanik mulai turun, segera bawa hewan peliharaan masuk ke dalam rumah dan tutup akses keluar-masuk.
"Sebisa mungkin tetap berada di dalam ruangan, terutama selama hujan abu awal, dan batasi waktu di luar ruangan karena di sana mungkin lebih berisiko menghirup abu atau material berbahaya," ujar Sarah Coburn, dokter hewan negara bagian Alaska, seperti dikutip dari laman KDLL.
2. Jika harus keluar, gunakan tali pengikat
Bila anabul memang perlu dibawa keluar, gunakan tali pengikat atau leash agar pergerakannya terkontrol. Pada anabul yang ukurannya lebih kecil, gunakan pet cargo untuk meminimalisasi paparan abu vulkanik.
Sebagai perlindungan tambahan, kamu bisa memakaikan baju khusus hewan peliharaan atau pelindung kaki agar tak banyak abu yang menempel pada bulunya.
3. Segera bersihkan abu dari tubuh anabul
Kalau anabul telanjur terkena abu vulkanik, segera bersihkan tubuhnya. Anda bisa menyeka bulu dan kakinya dengan kain lembap, membilasnya dengan air, atau memandikannya bila memungkinkan.
Jangan biarkan anabul menjilat abu dari tubuhnya, karena partikel yang tertelan dapat mengganggu sistem pencernaan.
4. Buat tempat berlindung sementara
Kalau hewan peliharaanmu tak bisa dipindahkan ke dalam ruangan, buatkan perlindungan sementara menggunakan terpal atau penutup lain.
Menurut laman Alaska Public Media, cara ini setidaknya dapat mengurangi jumlah abu vulkanik yang masuk ke area tempat mereka biasa berada. Meski sederhana, perlindungan ini sangat membantu saat situasi darurat.
5. Periksa wadah makanan dan air minum
Tempat makan dan minum anabul harus selalu terlindung dari abu vulkanik. Ganti air minum secara berkala agar tidak tercampur partikel debu.
Pastikan pula makanan tidak terpapar langsung dan wadahnya tetap bersih. Air atau makanan yang tercemar bisa menjadi sumber masalah baru bagi kesehatan hewan.
6. Perhatikan gejala kesehatan anabul
Perhatikan sejumlah gejala, seperti batuk, bersin, mata berair, mata merah, hingga kesulitan bernapas.
Jika anabul sering menggaruk wajah, mengusap mata dengan kaki, atau terlihat lesu, segera konsultasikan ke dokter hewan. Pada hewan dengan riwayat penyakit kulit atau mata, pemeriksaan dini sangat disarankan.
7. Siapkan tas darurat untuk anabul
Dalam situasi evakuasi, tas darurat sangat membantu. Isi tas tersebut dengan kalung anabul, leash, makanan untuk 3-7 hari, mangkuk makan dan minum, toilet portabel, catatan medis, obat-obatan, perlengkapan P3K, mainan favorit, serta foto dan identitas hewan.
Dengan memahami cara menjaga anabul saat terjadi hujan abu vulkanik, pemilik bisa meminimalkan risiko kesehatan dan menjaga hewan tetap aman. Kesiapsiagaan kecil hari ini dapat mencegah masalah besar pada anabul kesayanganmu pada kemudian hari.
(rti)