Masker Boleh Dicuci Ulang? Ini Kata Dokter Paru

CNN Indonesia
Senin, 07 Sep 2026 20:45 WIB
Ilustrasi. Rata-rata masker hanya bisa sekali pakai. (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kelangkaan masker di tengah meningkatnya kebutuhan akibat paparan abu vulkanik membuat sebagian orang mencari cara untuk menghemat penggunaannya. Salah satunya dengan mencuci masker agar bisa dipakai kembali.

Namun, tidak semua jenis masker dapat diperlakukan demikian. Dokter paru dari RSUP Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), mengingatkan masyarakat agar tidak mencuci masker bedah maupun respirator seperti N95.

Menurut Agus, masker sekali pakai atau single use memang dirancang untuk digunakan dalam waktu tertentu sebelum dibuang. Masker juga perlu diganti setelah digunakan sekitar 6-8 jam.

"Kalau masker single use, itu Anda harus terus pakai 6-8 jam. Harus diganti," kata Agus dalam tayangan detikPagi, Senin (7/9).

Masker bedah dan N95 jangan dicuci

Masker bedah dan N95 memiliki material serta struktur yang dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap partikel di udara. Karena itu, masker jenis tersebut tidak seharusnya dicuci dan digunakan kembali.

Alih-alih membuat masker kembali bersih dan aman, proses pencucian dapat mengubah karakteristik material penyaringnya. Akibatnya, kemampuan masker dalam menyaring partikel bisa menurun. Hal ini menjadi penting ketika masker digunakan untuk melindungi saluran pernapasan dari abu vulkanik yang dapat terbawa angin dan masuk ke lingkungan permukiman.

Untuk perlindungan yang lebih optimal, Agus menyarankan masyarakat menggunakan respirator yang memiliki kemampuan filtrasi partikel setidaknya 95 persen. Beberapa jenis yang dapat digunakan antara lain N95, KN95, dan FFP2.

Bagaimana dengan masker kain?

Berbeda dengan masker bedah dan N95, masker kain pada dasarnya memang dapat dicuci. Namun, bukan berarti masker kain bisa memberikan tingkat perlindungan yang sama setelah dicuci.

Agus menjelaskan penggunaan dan pencucian masker kain dapat memengaruhi kemampuan filtrasinya. Setelah digunakan selama beberapa jam, masker kain juga dapat menjadi lembap atau basah dan dipenuhi kotoran.

"Kalau masker kain, kalau sudah dipakai 6-8 jam, harus diganti, karena sudah lembap dan basah. Kemudian banyak juga kotorannya nempel," ujarnya.

Masker kain yang telah digunakan kemudian dapat dicuci dan dikeringkan untuk dipakai kembali. Namun, Agus mengingatkan bahwa proses pencucian dapat membuat pori-pori pada material masker menjadi lebih terbuka. Kondisi tersebut berpotensi membuat kemampuan masker dalam menyaring partikel semakin rendah.

"Yang tidak dicuci saja, dia filtrasinya kecil. Begitu dicuci akan lebih kecil lagi," katanya.

Karena alasan tersebut, Agus tidak merekomendasikan masker kain sebagai pilihan utama, terutama ketika masyarakat membutuhkan perlindungan dari paparan partikel seperti abu vulkanik.

Masker bedah tetap lebih baik daripada tidak memakai

Jika respirator seperti N95, KN95, atau FFP2 sulit ditemukan, masyarakat masih dapat menggunakan masker bedah sebagai alternatif.

Menurut Agus, masker bedah memang memiliki kemampuan filtrasi yang berbeda dibandingkan respirator. Namun, penggunaannya tetap lebih baik daripada tidak mengenakan masker sama sekali ketika berada di lingkungan dengan paparan partikel.

"Atau Anda mau pakai masker bedah, boleh. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali," ungkapnya.

Dengan demikian, masyarakat sebaiknya tidak mencuci dan menggunakan kembali masker bedah maupun N95 hanya karena harga masker sedang mahal atau sulit ditemukan.

Jika menggunakan masker kain, pencucian memang memungkinkan. Akan tetapi, kemampuan filtrasinya perlu menjadi pertimbangan, terutama ketika masker digunakan untuk menghadapi paparan abu vulkanik.

Dalam kondisi seperti ini, menggunakan respirator dengan kemampuan filtrasi partikel 95 persen atau lebih menjadi pilihan yang lebih disarankan.

(tis/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK