Menghadapi anak yang takut atau cemas saat hendak berpisah dengan orang tua perlu dilakukan secara bertahap. Pasalnya, anak kerap merespons kondisi ini dengan menangis, memeluk orang tua erat-erat, atau bahkan menolak untuk ditinggal.
Berikut cara mengatasi anak takut berpisah dengan orang tua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski cukup menguras emosi, reaksi tersebut sebenarnya merupakan bagian yang wajar dalam proses tumbuh kembang anak.
Rasa cemas saat berpisah dapat muncul ketika anak mulai menyadari bahwa orang tua bisa pergi dan tidak selalu berada di dekatnya.
Dalam kondisi seperti ini, orang tua tidak perlu langsung menganggap anak terlalu manja atau memaksanya untuk berhenti menangis. Justru, anak perlu dibantu memahami bahwa berpisah untuk sementara bukan berarti orang tua meninggalkannya.
Mengapa anak takut berpisah dengan orang tua?
Melansir penjelasan di laman Psychology Today, sejak bayi anak belajar bahwa orang tua adalah sosok yang memenuhi kebutuhannya dan memberikan rasa aman. Karena itu, wajar jika anak merasa paling nyaman ketika berada di dekat orang tua.
Ilustrasi. Ketakutan atau kecemasan yang ditunjukkan anak saat berpisah dengan orang tua disebut sebagai separation anxiety. (Foto: iStock/SDI Productions) |
Ketergantungan dan kedekatan tersebut membuat anak dapat merasa tidak nyaman ketika harus berada jauh dari orang tua. Terlebih ketika anak mulai menyadari bahwa orang tua bisa pergi dan tidak selalu berada di dekatnya.
Perasaan tidak nyaman saat harus berpisah inilah yang dikenal sebagai separation anxiety. Kondisinya dapat muncul pada berbagai tahap perkembangan dan terlihat berbeda pada setiap anak.
Mulai dari menangis saat ditinggal hingga terus meminta orang tua untuk tetap berada di dekatnya.
Cara mengatasi anak takut berpisah dengan orang tua
Orang tua dapat melakukan beberapa tahapan ini untuk menghadapi anak yang takut saat harus berpisah atau ditinggal pergi.
1. Persiapkan anak sebelum berpisah
Jangan pergi diam-diam ketika anak sedang tidak melihat. Jelaskan terlebih dahulu bahwa orang tua akan pergi dan berikan alasan yang sederhana agar anak memahami situasinya.
Orang tua juga dapat membicarakan kegiatan menyenangkan yang akan dilakukan anak selama ditinggal. Hal ini membantu mengarahkan perhatian anak pada pengalaman positif setelah perpisahan.
2. Buat rutinitas perpisahan yang singkat
Buat ritual sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti pelukan, ciuman, atau kalimat khusus sebelum pergi. Perpisahan yang terlalu lama justru dapat membuat kecemasan semakin panjang.
Setelah mengucapkan salam, berikan kesempatan kepada anak untuk melanjutkan aktivitasnya. Hindari kembali berkali-kali hanya karena anak menangis.
3. Jelaskan kapan orang tua akan kembali
Anak, terutama yang masih kecil, belum memahami konsep waktu seperti orang dewasa. Karena itu, gunakan patokan yang mudah mereka pahami.
Misalnya, katakan, "Mama jemput setelah kamu selesai makan siang," atau "Ayah pulang setelah kamu bangun tidur." Pastikan orang tua menepati janji tersebut untuk membangun kepercayaan.
4. Tanggapi perasaannya dengan empati
Jangan mengejek atau memarahi anak karena menangis saat berpisah. Akui perasaannya dengan tenang, misalnya, "Mama tahu kamu sedih karena Mama pergi sebentar, tapi kamu akan baik-baik saja."
Tetap tunjukkan keyakinan bahwa anak mampu melewati perpisahan tersebut. Sikap tenang dan optimistis dari orang tua dapat membantu anak merasa lebih aman.
5. Latih anak berpisah secara bertahap
Berikan kesempatan kepada anak untuk menghabiskan waktu bersama pengasuh, keluarga, atau teman yang sudah dikenalnya. Mulailah dari durasi singkat sebelum mencoba waktu yang lebih lama.
Orang tua juga perlu mengevaluasi perasaannya sendiri. Jika terlalu cemas atau terus memperpanjang waktu perpisahan, anak dapat menangkap pesan bahwa berada tanpa orang tua adalah sesuatu yang menakutkan.
Itulah sejumlah cara mengatasi anak takut berpisah dengan orang tua menurut ahli.
Jika kecemasan terus berlangsung dan mengganggu aktivitas sehari-hari, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional untuk mendapatkan arahan yang sesuai.

