Terpapar Abu Vulkanik? Ini 5 Hal yang Sebaiknya Dilakukan

CNN Indonesia
Rabu, 09 Sep 2026 04:30 WIB
Yang harus dilakukan saat terpapar abu vulkanik.
Ilustrasi. Jangan asal bersih-bersih, ini yang perlu kamu lakukan ketika terpapar abu vulkanik. (Pratitis Nur Kanariyati)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Paparan abu vulkanik bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar paparan tidak justru berlanjut atau menimbulkan iritasi.

Abu vulkanik yang terbawa angin bisa menempel di pakaian, wajah, dan kulit, bahkan terhirup tanpa disadari. Setelah terpapar, keinginan untuk segera membersihkan diri memang wajar. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hanya saja, setipis apa pun abu vulkanik, kamu tidak bisa memperlakukannya seperti debu atau kotoran biasa.

Paparan abu dapat memicu gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, dan gangguan pada kulit. Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular juga termasuk kelompok yang lebih rentan.

Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan jika sudah terlanjur terkena abu vulkanik?

1. Segera menjauh dari paparan

Hal pertama yang perlu dilakukan bukan langsung membersihkan wajah atau pakaian, melainkan mengurangi paparan abu.

Jika abu masih turun, usahakan segera masuk ke dalam ruangan dan tutup pintu serta jendela. Mengutip Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan selama paparan abu berlangsung.

Abu vulkanik mengandung partikel yang dapat mengganggu saluran pernapasan. Oleh karenanya, semakin lama berada di lingkungan yang penuh abu, semakin besar pula peluang partikel tersebut terhirup.

Jika memang harus keluar rumah atau membersihkan abu yang sudah masuk ke rumah, CDC merekomendasikan penggunaan masker untuk membantu menyaring partikel abu.

2. Perhatikan kondisi setelah menghirup abu

Paparan abu tidak selalu langsung menimbulkan keluhan berat. Dalam jangka pendek, abu dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan bagian atas.

US Geological Survey (USGS) menyebut keluhan yang dapat muncul antara lain batuk, iritasi hidung dan tenggorokan, serta memburuknya kondisi pada orang yang sebelumnya memiliki gangguan pernapasan seperti asma.

Paparan abu dan gas vulkanik dapat menyebabkan iritasi saluran napas hingga kesulitan bernapas. Orang dengan asma, anak-anak, serta penderita penyakit pernapasan atau jantung termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami dampak kesehatan.

Jika setelah menjauh dari paparan keluhan seperti batuk, sesak, mengi, atau kesulitan bernapas terus berlanjut atau memburuk, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

3. Bersihkan wajah dan kulit, tapi jangan digosok keras

cuci muka terlalu sering menyebabkan jerawat/Foto: freepik.com/jcompIlustrasi. Membersihkan wajah yang terpapar abu vulkanik sebaiknya tidak digosok terlalu keras. (freepik.com/jcomp)

Abu yang menempel di kulit sebaiknya segera dibersihkan setelah berada di tempat yang aman. Sebaiknya membersihkan tubuh dan mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar ruangan. Hal ini penting karena abu vulkanik dapat mengiritasi kulit.

Abu vulkanik juga bersifat abrasif. Pada sebagian orang, kontak dengan abu dapat menyebabkan kulit menjadi iritasi dan kemerahan. Hindari menggosok kulit terlalu keras ketika membersihkannya.

Untuk wajah yang sedang menggunakan makeup, prinsip ini juga penting. Jangan langsung mengusap foundation atau bedak yang sudah bercampur abu menggunakan tisu atau kapas secara berulang. Bilas terlebih dahulu untuk mengurangi partikel abu, kemudian bersihkan makeup secara perlahan.

4. Kalau abu masuk mata, jangan dikucek

Mata menjadi salah satu bagian tubuh yang perlu mendapat perhatian lebih ketika terkena abu.

Partikel abu dapat membuat mata terasa seperti kemasukan benda asing, berair, merah, gatal, terasa terbakar, hingga menyebabkan goresan pada kornea atau abrasi kornea. Pemakai lensa kontak juga memiliki risiko lebih tinggi karena partikel abu dapat terperangkap di balik lensa.

Jika abu masuk ke mata, jangan menguceknya. Bilas mata menggunakan air bersih dan hindari menggunakan lensa kontak selama masih ada paparan abu.

Kemenkes juga secara khusus mengingatkan masyarakat untuk tidak mengucek mata yang terkena abu dan membersihkannya dengan air. Bila diperlukan, obat tetes mata dapat digunakan.

Jika setelah dibilas mata masih terasa nyeri, sangat merah, sensitif terhadap cahaya, atau penglihatan terganggu, sebaiknya periksakan ke fasilitas kesehatan. Keluhan tersebut dapat menandakan adanya cedera pada permukaan mata.

5. Jangan asal menyapu abu di rumah

Sudah sampai rumah bukan berarti paparan otomatis selesai. Abu yang mengendap di lantai, meja, atau permukaan lainnya dapat kembali beterbangan ketika disapu atau dibersihkan. Partikel tersebut kemudian bisa kembali terhirup.

Sebaiknya dilengkapi dengan penggunaan masker ketika membersihkan abu yang masuk ke dalam rumah. Pelindung mata juga dapat digunakan untuk mencegah abu masuk ke mata.

Gunakan pula pakaian tertutup dan sarung tangan ketika melakukan pembersihan. Usahakan metode pembersihan tidak membuat abu beterbangan sebanyak mungkin.

Sebagian besar keluhan akibat paparan abu bersifat ringan dan dapat membaik setelah seseorang menjauh dari sumber paparan. Meski begitu, jangan abaikan gejala yang menetap atau memburuk.

Segera cari pertolongan medis jika setelah terpapar abu muncul sesak atau kesulitan bernapas. 

(anm/els)