Jalan Kaki Tiap Hari Tapi Tetap Nyeri Punggung, Kenapa? Ini Kata Ahli

CNN Indonesia
Senin, 14 Sep 2026 05:30 WIB
ilustrasi jalan kaki
Ilustrasi. Jalan kaki dipercaya dapat memperkuat tulang dan persendian. (iStockphoto/ gbh007)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rutin jalan kaki setiap hari dipercaya dapat membuat tulang dan persendian kian sehat. Tak heran jika banyak orang berharap nyeri punggung hilang usai rajin berjalan kaki.

Sayangnya, harapan itu tak selamanya bisa dicapai. Beberapa orang mengeluhkan nyeri punggung yang tak kunjung hilang meski telah rutin jalan kaki. Mengapa bisa demikian?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Praktisi pengobatan holistik Vietnam, Do Minh Tuan membenarkan bahwa berjalan kaki bisa membuat persendian dan tulang lebih kuat.

Namun, ia mengingatkan, rutin berjalan kaki saja tidak cukup. Ia mengibaratkan tulang dan sendi layaknya mesin.

"Tulang dan persendian seperti mesin. Agar dapat berfungsi dengan baik, mereka tidak hanya membutuhkan pengoperasian rutin, tapi juga perawatan dan pemeliharaan tepat waktu," tulisnya dalam VN Express, yang dikutip Selasa (8/9).

Minh Tuan tak menampik bahwa menjaga rutinitas berjalan kaki secara teratur mengaktifkan otot, mengurangi stagnasi, meningkatkan sirkulasi darah ke tendon, otot, dan persendian, serta meningkatkan kesejahteraan mental. Namun, berjalan lebih lama atau lebih cepat tak selalu lebih baik.

"Banyak penderita osteoartritis lutut atau herniasi diskus memaksakan diri untuk berjalan selama berjam-jam setiap hari dengan berpikir, semakin banyak saya berolahraga, semakin sehat saya," ujarnya.

Hal tersebut, lanjut dia, bukannya memperkuat sendi dan tulang, tapi justru malah membebani persendian dan memperburuk rasa sakit.

[Gambas:Video CNN]

Minh Tuan mengingatkan, kondisi setiap orang berbeda satu sama lain. Orang yang mengalami nyeri ringan dan persendiannya tidak rusak parah dapat melakukan jalan kaki ringan selama 20-30 menit setiap hari dikombinasikan dengan peregangan. Sementara penderita osteoartritis lutut, nyeri punggung bawah, atau herniasi diskus harus mengatur intensitas latihan dan menghindari jalan kaki yang terlalu lama.

"Lansia dengan otot lemah harus memprioritaskan gerakan lambat dan stabil agar tubuh dapat beradaptasi secara bertahap," tambahnya.

Hal yang penting harus diperhatikan adalah bukan soal berapa banyak jumlah langkah, tapi apakah tubuh terasa lebih ringan atau justru sakit setelah berjalan.

Selain berjalan kaki, Minh Tuan juga mengingatkan pentingnya menjaga pola makan seimbang. Prioritaskan makanan yang bergizi.

"Jaga juga agar tubuh tetap hangat, terutama leher, bahu, punggung bawah, dan lutut," tambahnya.

(asr)