Gunung Everest tidak hanya menghadapi ancaman dari perubahan iklim. Aktivitas ribuan pendaki yang datang setiap musim ternyata juga memberikan dampak terhadap lingkungan di kawasan tersebut.
Mengutip VN Express, sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa urine yang dihasilkan para pendaki dan pemandu di Everest Base Camp dapat berkontribusi terhadap mencairnya sekitar 154 ton es dalam satu musim pendakian.
Everest Base Camp berada di ketinggian sekitar 5.364 meter di atas permukaan laut.Base camp ini merupakan lokasi utama bagi pendaki untuk mempersiapkan diri sebelum memulai perjalanan menuju puncak gunung tertinggi di dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pendaki dan pemandu di ketinggian harus mengonsumsi banyak air untuk mencegah dehidrasi. Akibatnya, lebih dari 6.000 liter urine dihasilkan setiap hari di kawasan Everest Base Camp.
Berdasarkan penelitian yang diterbitkan pada 29 Agustus di jurnal ilmiah Regional Environmental Change, sebagian besar urine tersebut dibuang langsung ke gletser di sekitar base camp.
Peneliti memperkirakan panas dari 6.000 liter urine per hari dapat mencairkan sekitar 154 ton es selama musim pendakian yang berlangsung selama 50 hari.
Dampak tersebut tidak terlepas dari banyaknya orang yang berkumpul di kawasan Everest Base Camp. Selama musim pendakian musim semi, ribuan pendaki, pemandu, dan staf pendukung mendirikan sekitar 1.600 tenda.
Base camp kemudian berubah menjadi permukiman sementara yang dilengkapi berbagai fasilitas, mulai dari kedai kopi, internet berkecepatan tinggi, pancuran air panas, televisi layar besar, hingga sistem pemanas lantai di dalam tenda.
Penelitian juga menemukan bahwa suhu permukaan di sekitar base camp meningkat rata-rata 0,28 derajat Celsius per tahun sepanjang 1991 hingga 2023.
Angka tersebut hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan peningkatan suhu di kawasan Gletser Khumbu di sekitarnya.
Dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan Everest diperkirakan masih lebih besar. Penelitian tersebut belum memperhitungkan panas dari penerbangan helikopter, tubuh pendaki, maupun kawanan yak yang digunakan untuk mengangkut barang.
Meski begitu, peneliti menegaskan bahwa perubahan iklim tetap menjadi penyebab utama mencairnya gletser di Gunung Everest.
Mereka menilai keberadaan ribuan orang di kawasan tersebut tidak boleh dibiarkan terus menerus dan merekomendasikan pemindahan base camp ke lokasi terdekat yang lebih stabil.
(dsd/wiw)