Terlalu Sering Bodo Amat Ternyata Tak Selalu Baik, Ini Dampaknya

CNN Indonesia
Rabu, 09 Sep 2026 20:45 WIB
Dampak buruk terlalu sering bersikap bodo amat
Ilustrasi. Kadang sikap bodo amat memang diperlukan tapi jangan sampai terlalu sering dilakukan. (Magnific/jcomp)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Sikap bodo amat kadang memang diperlukan. Namun jika terlalu sering dilakukan, ternyata ini hal yang kurang bijak. Dalam ilmu Psikologi, berikut dampak buruk terlalu sering bersikap bodo amat.

Tidak semua komentar orang lain perlu dipikirkan, tidak semua masalah harus dimasukkan ke hati, dan tidak semua hal layak menghabiskan energi. Sikap bodo amat memang diperlukan dalam beberapa situasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hanya saja, ternyata sikap bodo amat bisa menjurus pada pola penghindaran terhadap hal-hal yang seharusnya dihadapi.

Dalam Psikologi, kecenderungan mengabaikan atau menekan emosi dan menghindari sumber masalah dikenal antara lain sebagai emotional suppression dan avoidant coping. Keduanya berbeda dari sekadar memilih untuk tidak memedulikan sesuatu yang memang tidak penting.

Jika dilakukan terus-menerus, pola tersebut dapat berkaitan dengan kesejahteraan psikologis dan hubungan seseorang dengan orang lain. Ada pun dampak buruk memelihara sikap bodo amat sebagai berikut.

1. Emosi yang ditekan bisa ikut memengaruhi hubungan sosial

Tidak semua emosi memang harus langsung diungkapkan. Seseorang boleh mengambil waktu untuk menenangkan diri ketika sedang marah atau memilih tidak menanggapi komentar yang tidak penting.

Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang terbiasa menyembunyikan apa yang dirasakan dan tidak pernah benar-benar memprosesnya.

Melansir jurnal Emotion, kecenderungan melakukan emotional suppression berkaitan dengan sejumlah aspek kesejahteraan sosial yang lebih buruk. Di antaranya dukungan sosial yang lebih rendah, kepuasan terhadap hubungan sosial yang lebih rendah, hingga kualitas hubungan romantis yang lebih buruk.

Dengan kata lain, terlihat cuek dari luar tidak selalu berarti persoalan tersebut benar-benar selesai.

2. Semakin jauh dari orang lain

Kebiasaan menekan emosi juga dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya dan hubungan sosialnya. Penelitian yang sama menemukan bahwa orang yang lebih sering melakukan emotional suppression cenderung mengalami suasana hati yang lebih buruk, kelelahan, harga diri yang lebih rendah, serta kepuasan hidup yang lebih rendah.

Mereka juga lebih mungkin merasa kurang diterima oleh orang lain dan merasa orang lain semakin menjauh.

Hal ini bisa terjadi karena emosi yang terus ditahan membuat seseorang kesulitan menunjukkan apa yang sebenarnya ia rasakan. Akibatnya, orang di sekitarnya pun bisa kesulitan memahami apa yang sedang terjadi.

3. Terbiasa menghindari masalah

Kenapa Kita Suka Lari dari Masalah? Kenalan dengan 'Avoidance Coping' yang Nggak Kamu Sadari/Foto: Freepik.com/KamraaydinovIlustrasi. Terbiasa bodo amat bisa-bisa membuatmu terus menghindari masalah. (Freepik.com/Kamraaydinov)

Ada pula istilah avoidant coping, yakni cara menghadapi tekanan dengan menghindari atau menjauh dari sumber masalah, misalnya, seseorang sedang mengalami konflik dengan teman. Alih-alih membicarakannya setelah keadaan lebih tenang, ia memilih mengatakan, "Ah, bodo amat," lalu tidak pernah menyelesaikannya.

Contoh lain ketika sedang kecewa, ia terus mengatakan dirinya baik-baik saja tanpa pernah mengakui bahwa sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu. Sekali menghindar mungkin bukan masalah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika penghindaran menjadi pola utama setiap kali menghadapi persoalan.

4. Masalah yang dihindari belum tentu hilang

Sikap bodo amat memang bisa membantu ketika sesuatu sebenarnya tidak penting. Situasinya berbeda jika 'bodo amat' digunakan untuk menghindari persoalan yang membutuhkan penyelesaian. Konflik yang tidak dibicarakan bisa tetap menjadi konflik.

Emosi yang tidak diakui juga belum tentu hilang hanya karena tidak dibicarakan. Karenanya, yang perlu dilihat bukan sekadar apakah seseorang cuek atau tidak, melainkan apa alasan di balik sikap tersebut.

Mengelola emosi juga bukan berarti harus mengatakan semua yang dirasakan saat itu juga. Ketika marah, misalnya, seseorang justru bisa mengambil waktu untuk menenangkan diri sebelum berbicara. Ketika kecewa, ia bisa mengakui perasaannya tanpa harus langsung bereaksi.

Begitu pula ketika ada konflik dalam hubungan. Persoalan tidak harus diselesaikan saat emosi sedang tinggi, tetapi bukan berarti harus dihindari selamanya.

Pada dasarnya, bodo amat boleh menjadi cara untuk melepaskan hal-hal yang memang tidak perlu dipikirkan. Yang perlu dihindari adalah menjadikannya sebagai cara untuk mengubur semua hal yang terasa tidak nyaman.

(anm/els)