Keluhan wisatawan yang berkunjung ke Korea Selatan mencapai rekor tertinggi sepanjang tahun ini. Jumlah laporan yang masuk bahkan sudah melampaui total keluhan sepanjang 2025, meski tahun 2026 baru berjalan tujuh bulan.
Berdasarkan data Korea Tourism Organization, sebanyak 1.753 keluhan tercatat pada Januari-Juli 2026. Angka itu lebih tinggi dibandingkan 1.744 keluhan yang tercatat sepanjang 2025.
Melansir Korea Herald, meningkatnya keluhan terjadi di tengah lonjakan kunjungan turis asing ke Korea Selatan. Untuk pertama kalinya, jumlah turis asing yang datang ke Negeri Ginseng menembus 10 juta orang sebelum paruh pertama tahun berakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akomodasi menjadi sektor yang paling banyak dikeluhkan wisatawan, dengan 500 laporan. Keluhan tersebut terutama berkaitan dengan pembatalan reservasi secara sepihak dan biaya pembatalan yang dianggap terlalu tinggi.
Keluhan berikutnya menyangkut pelayanan yang tidak ramah dan harga yang terlalu mahal di toko, dengan 376 kasus. Sementara itu, 186 laporan berkaitan dengan buruknya layanan bandara dan maskapai.
Sebanyak 182 wisatawan juga mengeluhkan layanan taksi. Beberapa pengemudi disebut menolak menggunakan argometer atau berkendara secara ugal-ugalan.
Sementara itu, Seoul mencatat jumlah keluhan tertinggi dengan 665 kasus. Posisi berikutnya ditempati Busan dengan 594 kasus, Incheon 176 kasus, dan Pulau Jeju 155 kasus.
Busan mengalami peningkatan keluhan paling mencolok. Kota tersebut menerima sekitar 110 ribu wisatawan saat boy band Korea, BTS menggelar konser tur dunia pada Juni lalu.
Jumlah keluhan di Busan pada tahun ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan 239 kasus yang tercatat sepanjang 2025.
Data juga menunjukkan bahwa turis asing menyumbang 84,3 persen dari seluruh keluhan. Turis asal China menjadi kelompok yang paling banyak mengajukan laporan dengan 680 kasus, disusul Jepang 263 kasus dan Taiwan 182 kasus.
Jumlah keluhan turis asing di Korea Selatan sempat menurun selama pandemi Covid-19, tetapi kembali meningkat secara bertahap sejak 2023. Pada 2025, jumlahnya mencapai 1.744 kasus dan angka tersebut sudah terlampaui hanya dalam tujuh bulan pertama 2026.
Para ahli meminta pemerintah dan pelaku industri pariwisata meningkatkan kualitas layanan untuk menjaga momentum pertumbuhan wisata Korea Selatan.
Profesor pariwisata dari Kyung Hee University, Yoon Ji-hwan, mengatakan peningkatan jumlah wisatawan dan meluasnya industri pariwisata turut diikuti bertambahnya keluhan serta indikator negatif lainnya.
Menurutnya, pengalaman buruk wisatawan yang dibagikan melalui media sosial juga dapat menyebar dengan cepat dan berpotensi merugikan industri pariwisata Korea Selatan.
(dsd/wiw)