Keracunan Makanan Bisa Ganggu Otak hingga Hilang Ingatan?

CNN Indonesia
Kamis, 10 Sep 2026 06:02 WIB
Jumlah korban dugaan keracunan massal usai menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kini mencapai 664 orang.
Ilustrasi. Keracunan MBG. (CNN Indonesia/Farid)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Keracunan makanan umumnya identik dengan gejala seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut. Namun, pada kondisi tertentu, penyakit yang bermula dari saluran pencernaan juga dapat berkaitan dengan gangguan fungsi otak.

Hal ini menjadi perhatian setelah seorang siswi asal Sumatera Utara, Febiona (16), dilaporkan mengalami keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, Febiona disebut mengalami gangguan ingatan.

Orang tua Febiona mengatakan perubahan tersebut muncul setelah sang anak sempat mengalami kejang dan kembali menjalani perawatan. Ia bahkan disebut tidak lagi mengenali keluarga maupun teman-teman sekolahnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kasus tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan, bagaimana kondisi yang bermula dari keracunan makanan bisa sampai berkaitan dengan gangguan ingatan?

Mengutip National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), keracunan makanan tidak serta-merta menyebabkan seseorang kehilangan ingatan. Gangguan ingatan atau kebingungan setelah mengalami penyakit akibat makanan dapat terjadi ketika kondisi tersebut berkembang menjadi komplikasi yang memengaruhi otak.

Dehidrasi berat dapat memengaruhi fungsi otak

Salah satu kemungkinan berkaitan dengan dehidrasi berat. Keracunan makanan kerap disertai muntah dan diare yang dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit.

Jika kehilangan cairan berlangsung cukup berat dan tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat menjadi serius. NIDDK memasukkan perubahan kondisi mental, termasuk kebingungan, sebagai salah satu tanda bahwa seseorang dengan keracunan makanan membutuhkan pertolongan medis.

Artinya, ketika muntah dan diare berlangsung terus-menerus, persoalannya bukan hanya kehilangan cairan. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang berat dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh, termasuk fungsi otak.

Dalam kondisi tersebut, seseorang dapat mengalami kebingungan atau perubahan kesadaran. Kondisi ini juga dapat membuat seseorang tampak seperti mengalami gangguan ingatan.

Infeksi dari makanan juga dapat memengaruhi otak

Kemungkinan lain berkaitan dengan patogen atau mikroorganisme penyebab penyakit yang berasal dari makanan. Sebuah studi yang dipublikasikan melalui PubMed berjudul From farm to table to brain: foodborne pathogen infection and neurotoxic sequelae membahas hubungan antara infeksi yang berasal dari makanan dan gangguan pada sistem saraf.

Beberapa mikroorganisme dapat memicu respons peradangan atau, pada kondisi tertentu, memengaruhi sistem saraf pusat. Dampaknya dapat berupa gangguan neurologis. Meski demikian, komplikasi neurologis bukanlah kondisi yang umum terjadi pada keracunan makanan. Mekanismenya pun dapat berbeda-beda, bergantung pada mikroorganisme penyebab infeksi dan kondisi pasien.

Hal ini menunjukkan bahwa dampak penyakit akibat makanan, dalam kondisi tertentu, tidak selalu berhenti pada sistem pencernaan. Salah satu contoh yang pernah dilaporkan dalam penelitian adalah infeksi Campylobacter jejuni. Bakteri ini dapat menyebabkan gastroenteritis atau infeksi pada saluran pencernaan.

Sebuah laporan kasus yang diterbitkan dalam Neurological Sciences mencatat pasien dengan gastroenteritis akibat bakteri tersebut yang kemudian mengalami acute encephalopathy atau ensefalopati akut.

Ensefalopati merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan gangguan fungsi otak. Kondisinya dapat menyebabkan perubahan kesadaran, kebingungan, hingga gangguan fungsi kognitif.

Namun, temuan tersebut tidak berarti setiap orang yang mengalami infeksi Campylobacter akan mengalami gangguan ingatan. Kasus seperti ini tergolong jarang. Meski demikian, laporan tersebut menunjukkan bahwa infeksi saluran pencernaan tertentu dapat disertai komplikasi yang memengaruhi sistem saraf.

Listeria juga dapat menyerang sistem saraf

Contoh lainnya adalah Listeria monocytogenes, bakteri yang dapat ditularkan melalui makanan. Pada sebagian kasus, infeksi Listeria dapat berkembang menjadi penyakit invasif ketika bakteri menyebar ke bagian tubuh lain, termasuk sistem saraf.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), infeksi Listeria yang telah memengaruhi sistem saraf dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti kebingungan, sakit kepala, kaku leher, kehilangan keseimbangan, hingga kejang.

Kebingungan akibat gangguan pada sistem saraf dapat membuat seseorang kesulitan berkonsentrasi, memahami lingkungan sekitar, atau mengingat informasi. Karena itu, istilah 'hilang ingatan' yang digunakan dalam percakapan sehari-hari belum tentu berarti seseorang mengalami kehilangan memori secara permanen.

Pada kasus Febiona, penyebab pasti gangguan ingatan tidak dapat disimpulkan hanya dari riwayat keracunan makanan. Kondisi tersebut perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan evaluasi dokter, terutama karena terdapat riwayat kejang dan perubahan fungsi kognitif.

Jika seseorang mengalami keracunan makanan disertai kebingungan, perubahan kesadaran, kejang, atau gejala neurologis lainnya, kondisi tersebut membutuhkan pertolongan medis segera.

(anm/tis)