Kuburan Kuno Muncul di Waduk Gajah Mungkur saat Surut di Musim Kemarau

CNN Indonesia
Sabtu, 12 Sep 2026 11:20 WIB
Makam kuno di Waduk Gajah Mungkur, di Kelurahan/Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Rabu (9/9/2026).
Makam kuno di Waduk Gajah Mungkur, di Kelurahan/Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri,. Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng
Jakarta, CNN Indonesia --

Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, Jawa Tengah, kembali memperlihatkan jejak masa lalu. Puluhan makam kuno yang selama ini berada di dasar waduk mulai terlihat seiring menyusutnya permukaan air pada musim kemarau.

Makam-makam tersebut belum seluruhnya muncul ke permukaan. Sebagian masih tertutup air, sementara lainnya sudah terlihat jelas di dasar waduk.

Menurut warga Kelurahan Wuryantoro, Kecamatan Wuryantoro, Karni, makam-makam itu mulai terlihat sejak beberapa hari terakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Udah beberapa hari ini kelihatan, karena airnya surut. Tapi ini belum terlihat semua, baru sebagian aja, masih banyak yang di dalam air," kata Karni, seperti yang dikutip dari detikJateng.

Puluhan makam yang sudah muncul tampak tersebar di area dasar waduk. Sebagian di antaranya diduga menggunakan batu kapur sebagai material makam.

Kondisinya juga beragam. Ada makam yang masih terlihat cukup utuh, tetapi sebagian lainnya tampak terkikis akibat usia dan paparan air. Beberapa nisan masih menyisakan ukiran atau tulisan, meski sudah sulit dikenali.

Ukuran nisannya pun tidak seragam. Ada yang panjangnya sekitar setengah meter, sementara lainnya mencapai sekitar dua meter.

Bukan pertama kali muncul

Kemunculan makam-makam tersebut ternyata bukan fenomena baru. Saat musim kemarau dan volume air Waduk Gajah Mungkur menyusut, area yang sebelumnya terendam memang dapat kembali terlihat.

Camat Wuryantoro Soemardjono Fadjari mengatakan kemunculan makam tersebut merupakan fenomena yang terjadi hampir setiap tahun.

"Setiap kemarau biasanya makam-makam itu mulai terlihat, tapi ini baru sebagian, karena airnya masih cukup tinggi," katanya.

Menurut Soemardjono, makam biasanya mulai terlihat sejak Agustus. Tahun ini, kemunculannya baru tampak pada September karena proses penyusutan air berlangsung lebih lambat.

"Biasanya Agustus sudah mulai kelihatan. Tahun ini surutnya agak lambat, sehingga belum semuanya muncul," ucapnya.

Fenomena ini juga sesekali menarik perhatian warga maupun pengunjung yang penasaran melihat makam yang kembali muncul di tengah waduk.

Meski begitu, Karni mengatakan belum banyak wisatawan yang datang khusus untuk melihat makam tersebut. Sebagian orang yang berada di sekitar lokasi justru datang untuk memancing atau menuju lahan pertanian.

"Belum [banyak wisatawan yang datang], paling satu dua orang datang foto-foto saja. Kebanyakan yang ke sini ya orang mancing, sama [petani] ke sawah," ujarnya.

Lokasi makam juga tidak mudah dijangkau. Pengunjung harus berjalan kaki melewati bagian dasar waduk yang mengering. Kondisinya masih berupa tanah dan beberapa bagian cukup basah sehingga akses menuju area makam terbilang cukup sulit.

Jejak permukiman yang ditenggelamkan

Kemunculan makam tersebut tidak terlepas dari sejarah pembangunan Waduk Gajah Mungkur.

Pembangunan waduk membuat sejumlah wilayah permukiman di Wonogiri harus ditenggelamkan. Sebanyak 51 desa di tujuh kecamatan terdampak pembangunan waduk tersebut.

Area yang kini menjadi dasar waduk sebelumnya merupakan wilayah yang dihuni masyarakat, termasuk lokasi pemakaman umum.

Ketika permukaan air turun cukup jauh pada musim kemarau, bagian-bagian yang dahulu berada di atas permukaan kembali terlihat. Makam yang muncul pun menjadi salah satu jejak masa lalu yang sesekali dapat disaksikan warga ketika waduk mengalami penyusutan.

(anm/dna)