Modus Penipuan Turis Makin Canggih, Begini Cara Menghindarinya

lom | CNN Indonesia
Minggu, 13 Sep 2026 22:10 WIB
Group of hikers walking on a mountain at autumn day near the lake.
Ilustrasi. Penipuan yang menyasar wisatawan semakin canggih, bahkan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). (Foto: Dok Istock)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penipuan atau scam yang menyasar wisatawan kini semakin canggih, termasuk dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat situs palsu yang sulit dibedakan dari situs asli. Simak tips berikut agar terhindar dari penipuan.

Pencopet menjadi masalah yang biasanya paling dikhawatirkan wisatawan. Kini, model kejahatan tersebut bukan lagi satu-satunya ancaman yang perlu diwaspadai saat berlibur.

Florent Silve, eksekutif di platform manajemen perjalanan korporat Engine, mengatakan teknologi baru membuat penipuan kian canggih, salah satunya membuat situs palsu semakin sulit dikenali konsumen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apa yang dulu tampak seperti situs palsu kini menjadi jauh lebih sulit dikenali konsumen," kata Silve, dikutip dari Stuff, Minggu (13/9).

Laporan Federal Trade Commission (FTC) yang diterbitkan pada Juni mencatat warga Amerika Serikat (AS) pada tahun lalu melaporkan kerugian US$3,5 miliar akibat penipuan yang melibatkan pelaku yang menyamar melalui pesan teks, email, telepon, media sosial, dan mesin pencari.

Angka tersebut tidak seluruhnya berasal dari penipuan perjalanan. Namun, hampir satu dari tiga laporan penipuan merupakan kasus pelaku yang menyamar sebagai pihak lain.

Pakar penipuan dari perusahaan keamanan siber Norton, Iskander Sanchez-Rola, mengatakan penipuan perjalanan bahkan dapat terjadi sebelum seseorang berangkat.

Pelaku dapat berpura-pura menjadi pihak hotel atau maskapai dan memanfaatkan fakta bahwa calon wisatawan memang sedang menunggu informasi terkait perjalanan mereka.

"Dulu orang berpikir, 'Kalau saya menerima penipuan yang benar-benar tidak masuk akal, itu tandanya penipuan.' Tetapi sekarang, penipuan paling berbahaya justru tidak terlihat mencurigakan; terlihat seperti sesuatu yang memang diharapkan," kata Sanchez-Rola.

Berikut sejumlah modus yang perlu diwaspadai saat bepergian serta cara menghindarinya.

1. Waspada pembajakan reservasi hotel

Salah satu modus yang semakin umum adalah pembajakan reservasi.

Dalam modus ini, pelaku mengirim email atau pesan teks dan berpura-pura menjadi pihak hotel. Mereka biasanya menyebut ada masalah dalam reservasi, seperti pembayaran gagal, kemudian meminta korban segera mengambil tindakan.

Modus ini sulit dikenali karena pelaku dapat menggunakan informasi reservasi yang benar.

Menurut Sanchez-Rola, penipu dapat menargetkan sistem hotel melalui praktik phishing terhadap pegawai untuk mendapatkan kredensial login.

Setelah mendapatkan akses, pelaku dapat memakai informasi asli dari hotel atau layanan pemesanan, termasuk tanggal reservasi dan harga menginap, untuk meyakinkan korban.

"Yang utama adalah ini bukan konfirmasi pemesanan palsu, melainkan reservasi asli yang dipersenjatai untuk melawan Anda," kata Sanchez-Rola.

Jika menerima pesan seperti ini, jangan langsung melakukan pembayaran melalui tautan yang diberikan.

Sebaiknya hubungi hotel melalui nomor yang tercantum di situs resmi. Jangan menggunakan nomor telepon yang dikirim melalui pesan mencurigakan karena bisa saja terhubung langsung dengan pelaku penipuan.

2. Jangan langsung percaya kabar penerbangan dibatalkan

Modus lain yang perlu diwaspadai adalah pemberitahuan palsu mengenai pembatalan atau penundaan penerbangan.

Pelaku biasanya menghubungi korban dengan pesan mendesak yang menyebut penerbangan dibatalkan atau mengalami keterlambatan.

Mereka kemudian menawarkan bantuan untuk memesan ulang tiket dengan biaya tambahan.

Menurut Sanchez-Rola, kondisi semacam itu efektif karena membuat korban merasa harus segera bertindak.

Jika menerima pesan tentang pembatalan penerbangan, jangan panik.

Periksa informasi melalui situs atau aplikasi resmi maskapai. Jika harus memesan ulang tiket, lakukan langsung melalui maskapai atau layanan pemesanan yang sebelumnya digunakan.

Hindari mengklik tautan yang dikirim melalui pesan teks. Wisatawan juga disarankan tidak mengunggah foto tiket pesawat atau dokumen perjalanan ke media sosial, meski jika nomor penerbangan ditutup dengan emoji atau elemen lain.

"Kode QR atau kode batang yang ada di sana memuat banyak informasi," kata Sanchez-Rola.

"Terkadang bahkan mencakup informasi mengenai penerbangan pulang," tambahnya.

Kode QR Palsu Hingga Wi-Fi Publik BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2