Gosip Ternyata Tak Selalu Buruk, Ini Kata Studi

CNN Indonesia
Jumat, 18 Sep 2026 20:45 WIB
Gosip tidak selalu buruk
Ilustrasi. Gosip tidak selalu buruk menurut sebuah studi. Bagaimana bisa? (Nazwa Yuliana)
Jakarta, CNN Indonesia --

"Eh, tahu enggak kalau..." Kalimat sederhana itu bisa menjadi awal obrolan panjang tentang seseorang yang bahkan tidak ada di ruangan. Gosip sering dianggap sebagai kebiasaan buruk. Namun ternyata tidak sepenuhnya demikian menurut sebuah studi.

Satu gosip saja bisa dibicarakan dalam waktu lama bahkan menarik beberapa teman untuk turut bergabung dan mengobrol. Gosip memang dicap negatif apalagi jika isinya membuka aib, menyebarkan rahasia, atau sengaja membuat seseorang jadi bahan pembicaraan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akan tetapi sejumlah penelitian menunjukkan bahwa membicarakan orang lain dapat membantu seseorang memahami situasi sosial, mengenali perilaku yang berpotensi merugikan, hingga memperingatkan orang lain.

Penelitian dari University of Maryland dan Stanford University menunjukkan bahwa gosip dapat membantu seseorang mengidentifikasi individu yang berpotensi egois atau merugikan orang lain.

Informasi dari gosip bisa berguna ketika seseorang ingin mengetahui apakah orang lain merupakan sosok yang baik untuk diajak berinteraksi, selama informasi tersebut jujur. Membicarakan perilaku seseorang tidak selalu bertujuan menjatuhkannya. Informasi tersebut bisa menjadi semacam peringatan sosial.

Misalnya, seorang perempuan bercerita kepada teman-temannya bahwa ia baru saja berkencan dengan pria yang tidak menghormati batasan pribadi dan membuatnya tidak nyaman.

Cerita itu mungkin terdengar seperti gosip. Namun informasi tersebut bisa membantu teman-temannya lebih berhati-hati jika bertemu orang yang sama. Dalam situasi seperti ini, gosip justru bisa membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih aman.

Bedanya gosip sehat dan gosip jahat

Batasnya bisa dilihat dari apa yang dilakukan terhadap informasi tersebut. Jika seseorang membagikan fakta untuk memahami perilaku orang lain, meminta sudut pandang, atau memperingatkan teman, gosip masih dapat memiliki fungsi positif.

Sebaliknya, jika informasi dibumbui, rahasia pribadi dibocorkan, atau cerita disebarkan agar seseorang dipermalukan dan dikucilkan, gosip berubah menjadi perilaku yang merusak.

Mengutip dari Vice, Terapis Pernikahan dan Keluarga Berlisensi, Suzanne Koch Eckenrode mengatakan gosip dapat menjadi komunikasi yang sehat ketika membantu seseorang memahami perilaku orang lain tanpa menjadikan orang tersebut sebagai target sosial. Jadi, bukan sekadar apa yang dibicarakan, tetapi juga mengapa dan bagaimana kita membicarakannya.

Kapan gosip bisa jadi masalah?

Oversharing di kantor mengenai kehidupan pribadi dapat mengurangi privasi dan meningkatkan risiko informasi menjadi bahan gosip.Ilustrasi. Kamu perlu bisa menilai saat gosip sudah mulai tidak sehat. (Retno Anggraini)

Gosip mulai menjadi tidak sehat ketika tujuannya bukan lagi memahami suatu situasi, melainkan menjatuhkan atau memanipulasi orang lain.

Eckenrode mengatakan gosip dapat merusak kepercayaan ketika seseorang menyebarkan informasi yang dilebih-lebihkan, membocorkan informasi pribadi tanpa izin, atau mengajak orang lain untuk memihak dalam suatu konflik.

Kebiasaan menikmati saat seseorang dipermalukan akibat gosip juga bisa memperburuk hubungan sebab, kepercayaan yang rusak tidak mudah kembali.

Orang yang sering membicarakan urusan pribadi orang lain juga berpotensi membuat lawan bicaranya berpikir, "Kalau dia bisa cerita soal orang lain ke saya, jangan-jangan cerita saya juga dibagikan ke orang lain."

(anm/els)
placeholder