Benarkah Les Musik Bikin Anak Lebih Pintar? Ini Kata Studi
Orang tua mungkin pernah mendengar bahwa les musik bisa membuat anak lebih pintar. Tak sedikit pula yang mendaftarkan anak belajar piano, biola, atau alat musik lain dengan harapan kemampuan otaknya ikut berkembang. Benarkah demikian?
Ketika memainkan alat musik, anak tidak hanya belajar menghasilkan nada. Mereka perlu mendengarkan suara, mengingat pola, mengikuti ritme, membaca atau mengingat instruksi, sekaligus mengatur gerakan tangan dan tubuh.
Berbagai aktivitas tersebut melibatkan fungsi eksekutif, kemampuan mental yang membantu seseorang mengatur perhatian, mengendalikan respons, mengingat informasi, dan menyesuaikan diri dengan situasi.
Melansir studi dari Cognition, salah satu bagian dari kemampuan tersebut, adalah inhibitory control atau kemampuan menahan respons spontan. Peneliti menemukan adanya hubungan antara latihan musik dan peningkatan kemampuan inhibitory control.
Sederhananya, latihan musik mungkin membantu anak belajar tidak langsung bereaksi terhadap sesuatu dan lebih mampu mengendalikan respons yang tidak diperlukan.
Sementara itu, mengutip studi dari Frontiers in Psychology, ketika orang mengatakan kemampuan otak anak meningkat, sebenarnya ada banyak kemampuan yang mungkin dimaksud.
Salah satu kemampuan yang cukup responsif terhadap latihan musik adalah working memory, kemampuan menyimpan informasi untuk sementara dan menggunakannya saat melakukan suatu tugas.
Menariknya, efek yang relatif lebih besar terlihat pada anak usia prasekolah, sekitar 3-6 tahun. Meski begitu, hasil penelitian tidak selalu seragam dan dapat dipengaruhi oleh bagaimana pembelajaran musik diberikan.
Lantas, apakah les musik membuat anak lebih pintar?
Menurut riset yang diterbitkan di Memory & Cognition, latihan musik memang terlihat berkaitan dengan kemampuan kognitif dan akademik anak. Namun, setelah peneliti memperhitungkan kualitas penelitian, efeknya menjadi sangat kecil hingga mendekati nol.
Anak yang mengikuti les musik belum tentu memiliki kondisi yang sama dengan anak yang tidak ikut les. Mereka bisa saja sejak awal mendapat lebih banyak stimulasi atau memiliki lingkungan belajar yang berbeda.
Mereka, misal, bisa mendapatkan lebih banyak stimulasi dari keluarga, memiliki akses pendidikan yang berbeda, atau memang sejak awal memiliki karakteristik tertentu yang membuat mereka lebih tertarik mengikuti kegiatan musik.
Dengan demikian, anak yang ikut les musik dan memiliki kemampuan akademik lebih baik tidak otomatis berarti les musiklah yang membuatnya lebih pintar.
Hubungan antara musik dan kemampuan kognitif bisa berjalan dua arah. Bukan hanya latihan musik yang mungkin memengaruhi kemampuan anak, tetapi karakteristik anak sejak awal juga bisa memengaruhi ketertarikannya terhadap musik.
Kalau pun orang tua ingin mengenalkan musik kepada anak, alasannya tidak harus karena mengejar IQ yang lebih tinggi. Belajar musik memang dapat menjadi aktivitas yang melibatkan banyak kemampuan sekaligus, dari mendengar dan mengingat hingga mengatur gerakan dan perhatian.
(anm/els)