5 Gang Kecil Ini Menyimpan Cerita Sejarah Perkembangan Kota Jakarta

CNN Indonesia
Rabu, 23 Sep 2026 17:15 WIB
Gang Gloria Pasar Pancoran Glodok, Jakarta. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menyusuri kawasan bersejarah di Jakarta tidak selalu harus dilakukan dengan mengunjungi museum atau bangunan tua.

Di balik ramainya jalan utama, Jakarta juga memiliki sejumlah gang kecil yang menyimpan cerita tentang perkembangan kota dari masa ke masa.

Beberapa gang bahkan masih mempertahankan suasana kawasan lama, mulai dari deretan bangunan tua, tempat ibadah, hingga kedai makanan yang sudah berjualan selama puluhan tahun.

Sebagian gang itu berada di kawasan Pecinan Glodok dan Pasar Baru, yang sejak dulu menjadi pusat perdagangan di Jakarta. Ada pula gang di Pekojan yang menyimpan jejak komunitas Muslim India dan perkembangan Kampung Arab di Batavia.

Berikut lima gang kecil bersejarah di Jakarta yang menarik untuk disusuri.

1. Gang Gloria, Glodok

Gang Gloria berada di kawasan Pancoran-Glodok, Jakarta Barat. Gang sempit ini dikenal sebagai salah satu pusat kuliner lama di kawasan Pecinan.

Di dalamnya terdapat berbagai kedai yang telah lama dikenal masyarakat, seperti Kopi Es Tak Kie, Bakmi Amoy, Toko Kawi, dan Soto Betawi Nyonya Afung.

Gang ini memiliki lebar sekitar 4 meter dan namanya berasal dari pertokoan Gloria yang dahulu berdiri di kawasan tersebut.

Popularitas Gang Gloria ikut berkembang seiring kawasan Pancoran-Glodok yang telah menjadi pusat kehidupan masyarakat Tionghoa sejak awal abad ke-20.

Gang Gloria juga sempat mengalami penurunan popularitas, sebelum kembali ramai dan direvitalisasi pada 2022 dengan mempertimbangkan nilai sejarahnya.

2. Gang Kelinci, Pasar Baru

Gang Kelinci berada di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Gang ini menjadi salah satu bagian menarik dari kawasan perdagangan yang telah berkembang sejak masa Batavia.

Pasar Baru sendiri mulai berkembang sebagai pusat perdagangan pada abad ke-19 setelah dibangun oleh pemerintah Belanda.

Nama Gang Kelinci semakin dikenal setelah lagu berjudul "Gang Kelinci" yang dinyanyikan Lilis Suryani populer pada era 1960-an.

Selain menjadi bagian dari sejarah Pasar Baru, gang ini juga menjadi akses menuju Vihara Sin Tek Bio yang disebut telah berdiri sejak 1698.

Wisatawan juga dapat menemukan kuliner legendaris seperti Bakmi Gang Kelinci dan Cakwe Ko Atek di kawasan ini.

3. Gang Koja, Pekojan

Gang Koja berada di kawasan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat. Nama gang tersebut masih digunakan masyarakat meskipun secara resmi telah berganti nama menjadi Jalan Pengukiran II.

Gang ini menjadi salah satu jejak keberadaan komunitas Khoja, yaitu masyarakat Muslim keturunan India yang pernah tinggal di Pekojan.

Daya tarik utama gang ini adalah Masjid Al-Anshor yang berada di dalamnya. Masjid tersebut dibangun pada 1648 oleh komunitas Muslim India dan menjadi salah satu peninggalan penting sejarah Pekojan.

Kawasan ini kemudian berkembang sebagai Kampung Arab pada masa kolonial dan masih menyimpan sejumlah bangunan bersejarah lainnya.

4. Gang Petak Sembilan, Glodok

Petak Sembilan berada di kawasan Gang Pancoran, Glodok, Jakarta Barat, tepat di belakang Pasar Glodok.

Kawasan ini masih dikenal sebagai salah satu bagian dari Pecinan Jakarta dan menjadi tempat aktivitas perdagangan hingga sekarang.

Nama Petak Sembilan dipercaya berasal dari sembilan rumah petak yang dahulu berada di kawasan tersebut. Meski bangunan petaknya sudah tidak ada, nama Petak Sembilan tetap digunakan hingga kini.

Pengunjung dapat menemukan pedagang bahan makanan, kue, serta berbagai kebutuhan khas masyarakat Tionghoa. Suasana kawasan juga semakin ramai menjelang perayaan Imlek.

5. Gang Jelakeng, Tambora

Gang Jelakeng di Tambora, Jakarta Barat. (Wikimedia Commons CC-BY-SA-4.0)

Gang Jelakeng berlokasi di Jalan Perniagaan Barat, Tambora, Jakarta Barat, di antara Jalan Toko Tiga dan Jalan Pasar Pagi.

Kawasan ini berada di sepanjang Kali Krukut dan memiliki deretan bangunan yang membentang sekitar satu kilometer. Saat ini, nama Jelakeng dipakai untuk menyebut jalan sempit atau gang yang membentang dari barat ke timur.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Berkala Arkeologi BRIN, nama Jelakeng diyakini berasal dari istilah dialek TionghoaJie Lak Keng, yang berkaitan dengan 26 bangunan yang dahulu terdapat di kawasan tersebut.

Kawasan Jelakeng juga memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari kehidupan sosial dan hiburan Batavia. Sejumlah bangunan lama bergaya Tionghoa masih dapat ditemukan meski kondisi kawasan telah banyak berubah.

(dsd/wiw)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK