Suka Sound Horeg? Perhatikan Dampak Suara Terlalu Keras Ini pada Tubuh

CNN Indonesia
Senin, 28 Sep 2026 04:03 WIB
Tak cuma terhadap telinga, suara terlalu keras seperti sound horeg bisa mengganggu fungsi tubuh lain, bahkan memengaruhi kesehatan mental seseorang.
Ilustrasi karnaval sound horeg. Tak cuma terhadap telinga, suara terlalu keras seperti sound horeg bisa mengganggu fungsi tubuh lain, bahkan memengaruhi kesehatan mental seseorang. (ANTARA FOTO /Irfan Sumanjaya)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Di balik kemeriahan sound horeg dalam sebuah acara, ternyata suara terlalu keras bisa membawa dampak buruk pada tubuh.

Pasalnya, paparan suara dengan intensitas tinggi dalam waktu lama tidak hanya membuat telinga bekerja lebih keras, tetapi juga dapat memicu respons tubuh terhadap stres.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampak suara terlalu keras pada tubuh

Telinga memang menjadi bagian yang paling langsung terdampak. Setelah berada di lingkungan yang sangat bising, seseorang bisa mengalami telinga berdenging atau suara yang terdengar seperti teredam.

Namun, efek kebisingan dapat meluas karena tubuh juga merespons suara sebagai bentuk tekanan dari lingkungan. Ini sejumlah dampak suara terlalu keras pada tubuh menurut ahli:

1. Memicu respons stres

Melansir penjelasan di laman UCLA Health, kebisingan tidak hanya diterima oleh telinga, tetapi juga diproses oleh otak sebagai stimulus yang dapat memicu respons stres.

Paparan suara yang terus-menerus dapat mengaktifkan sistem tubuh yang berkaitan dengan respons fight or flight.

Dalam jangka panjang, respons stres yang berulang dapat memengaruhi berbagai proses dalam tubuh, termasuk yang berkaitan dengan peradangan dan kesehatan secara keseluruhan.

2. Berkaitan dengan tekanan darah dan kesehatan jantung

Dampak lainnya suara terlalu keras pada tubuh, berkaitan dengan sistem kardiovaskular. Paparan kebisingan dalam jangka panjang dapat meningkatkan tekanan darah, salah satunya sebagai bagian dari respons stres yang terus dipicu oleh suara.

Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, paparan kebisingan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko masalah kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke.

3. Memengaruhi kesehatan mental

Respons stres yang terus berulang juga dapat memengaruhi kondisi mental. Paparan kebisingan dalam jangka panjang ditemukan memiliki hubungan dengan masalah seperti kecemasan dan depresi.

Kebisingan yang terus muncul juga dapat membuat seseorang lebih sulit merasa rileks. Dampaknya tak hanya terasa ketika suara sedang terdengar, tetapi menjadi bagian dari beban stres yang berulang.

[Gambas:Video CNN]

4. Mengganggu konsentrasi dan fungsi kognitif

Kebisingan yang terus-menerus juga dapat memengaruhi cara otak bekerja. Paparan suara dalam jangka panjang dikaitkan dengan gangguan pada beberapa fungsi kognitif, termasuk kemampuan berpikir dan memproses informasi.

Efek ini menunjukkan, dampak kebisingan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mendengar. Ketika tubuh terus menerima paparan suara yang mengganggu, otak juga harus terus merespons stimulus tersebut.

Cara meminimalisasi risiko paparan suara keras

Risiko paparan suara keras dapat dikurangi dengan membatasi durasi berada di lingkungan yang bising. Jika memungkinkan, berikan jeda dengan berpindah ke area yang lebih tenang agar tubuh tidak terus menerima paparan suara.

Jarak dari sumber suara juga perlu diperhatikan. Saat menghadiri acara dengan sound horeg, hindari berdiri terlalu dekat dengan speaker, terutama jika suara terasa sangat keras atau membuat telinga tidak nyaman.

Pelindung telinga seperti earplug atau earmuff juga dapat digunakan ketika paparan suara sulit dihindari. Perangkat tersebut dapat membantu mengurangi jumlah suara yang masuk ke telinga serta meminimalisasi dampak suara terlalu keras pada tubuh.

(han/rti)