Teknologi bedah robotik masih menimbulkan kekhawatiran bagi pasien. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah robot benar-benar melakukan operasi secara mandiri di dalam tubuh pasien.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi RS Bunda Jakarta, Sita Ayu Arumi menegaskan robot dalam prosedur tersebut tidak bekerja secara otomatis. Dokter tetap menjadi pihak yang mengambil keputusan sekaligus mengendalikan setiap gerakan instrumen selama operasi.
Katanya, robot berfungsi sebagai alat bantu untuk menerjemahkan gerakan dokter melalui konsol menjadi gerakan instrumen di dalam tubuh pasien.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Robot ini alat bantu, bukan pengambil keputusan. Semua gerakan di dalam tubuh pasien itu dokter yang kendalikan, dari awal sampai akhir tindakan," kata Sita dalam keterangannya.
Sita merupakan dokter perempuan pertama yang bergabung dalam tim bedah robotik ginekologi di Indonesia pada 2013. Saat itu, teknologi bedah robotik baru sekitar satu tahun diperkenalkan di RSU Bunda Jakarta.
Berbeda dari operasi konvensional, dokter dalam bedah robotik tidak harus berdiri langsung di sisi meja operasi. Dokter duduk di depan konsol dan mengendalikan instrumen menggunakan tangan serta jari.
Sistem tersebut juga dilengkapi teknologi tremor filter yang berfungsi menyaring getaran kecil pada tangan dokter. Teknologi ini membantu menghasilkan gerakan instrumen yang lebih stabil dan presisi.
"Kalau tangan saya diam, instrumennya juga diam. Robot ini membantu saya bergerak lebih presisi dari tangan 'telanjang', tetapi soal jaringan mana yang diangkat dan sejauh mana batasnya, itu murni keputusan dokter," ujar Sita.
Digunakan untuk kasus ginekologi kompleks
Dalam bidang ginekologi, bedah robotik dapat digunakan untuk menangani sejumlah kasus kompleks pada pasien yang memenuhi indikasi. Sita mengatakan timnya telah menangani berbagai kasus, termasuk mioma multipel berukuran besar, kista dengan perlengketan luas, hingga endometriosis berat yang melibatkan sejumlah organ di sekitar rahim.
Menurut dia, pendekatan minimal invasif dengan bantuan robotik dapat memungkinkan dokter melakukan tindakan melalui sayatan yang lebih kecil dibandingkan operasi terbuka. Pada pasien tertentu, metode ini juga dapat memberikan masa pemulihan yang relatif lebih singkat.
Namun, Sita menekankan bahwa tidak semua pasien dapat menjalani prosedur dengan metode yang sama. Pemilihan metode operasi tetap harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan pertimbangan dokter.
Salah satu manfaat yang menjadi perhatian dalam kasus mioma adalah kemungkinan mempertahankan rahim pada pasien yang masih berada dalam usia reproduktif.
"Pada pasien yang memenuhi indikasi, teknologi robotik dapat membantu dokter melakukan pengangkatan miom dengan tetap mempertahankan rahim. Ini penting, terutama bagi pasien usia reproduktif yang sebelumnya mungkin harus menghadapi pilihan jauh lebih berat," katanya.
Pengalaman tim jadi faktor penting
Sita mengatakan kecanggihan teknologi bukan satu-satunya faktor yang menentukan pelaksanaan bedah robotik. Kompetensi dokter dan kesiapan tim juga diperlukan, terutama ketika menangani kasus dengan tingkat kompleksitas tinggi.
Direktur Utama PT Bundamedik, Agus Heru Darjono, mengatakan dokter yang menangani prosedur bedah robotik di jaringan rumah sakit BMHS menjalani pelatihan dan sertifikasi khusus.
"Setiap dokter yang menangani kasus bedah robotik di seluruh jaringan rumah sakit BMHS melalui pelatihan dan sertifikasi khusus. Untuk kasus kompleks, penanganannya pun melibatkan tim multidisiplin," ujar Agus.
Menurut Sita, kemampuan melakukan operasi dengan bantuan robotik juga tidak terbentuk dalam waktu singkat. Dokter membutuhkan pengalaman untuk memahami teknologi sekaligus menghadapi beragam kondisi selama prosedur.
"Kompetensi menangani kasus robotik tidak instan. Butuh waktu bertahun-tahun sampai saya benar-benar nyaman menghadapi kasus kompleks, dan itu masih terus berkembang," katanya.
Ia pun mengingatkan pasien agar tidak hanya melihat kecanggihan alat ketika mempertimbangkan operasi dengan bantuan robotik. Pengalaman dokter dan kesiapan tim juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan.
"Teknologinya bisa saja sama, tetapi pengalaman dokter dan kesiapan tim tetap punya peran sangat penting dalam tindakan," ujar Sita.
Dengan demikian, istilah bedah robotik tidak berarti robot mengambil alih operasi. Robot tetap berfungsi sebagai alat bantu, sedangkan keputusan medis dan kendali atas instrumen berada pada dokter yang melakukan tindakan.
(tis/tis)

