Sebelum Hamil, Ini 7 Kondisi Kesehatan yang Perlu Dicek

CNN Indonesia
Selasa, 13 Okt 2026 15:00 WIB
Persiapan sebelum kehamilan
Ilustrasi. Sebelum kehamilan, ada sejumlah hal yang perlu disiapkan termasuk kondisi kesehatan. Sebaiknya lakukan beberapa pengecekan berikut. (Getty Images/AsiaVision)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Kehamilan yang sehat tidak hanya dimulai ketika dua garis muncul di test pack. Jauh sebelum itu, pasangan bisa mulai mempersiapkan kondisi kesehatan agar tubuh lebih siap menghadapi kehamilan. Setidaknya ada tujuh kondisi kesehatan yang perlu dicek.

Keputusan untuk memiliki momongan memang bukan hal mudah. Sebelum mempertimbangkan finansial dan segala kebutuhan anak nantinya, pasangan suami-istri perlu memikirkan persiapannya terutama terkait kesehatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah studi bahkan merekomendasikan konseling prakonsepsi bagi orang yang berencana memiliki anak. Pemeriksaan ini bertujuan menemukan kondisi yang dapat memengaruhi kehamilan dan menanganinya sedini mungkin. 

Pemeriksaan kesehatan sebelum kehamilan

Sebelum mulai merencanakan kehamilan, sebaiknya cek beberapa kondisi kesehatan berikut demi memastikan kehamilan dan persalinan yang minim risiko.

1. Kondisi penyakit yang sudah dimiliki

Pasangan sebaiknya mengetahui apakah ada penyakit yang sedang dialami sebelum hamil.

Ulasan American College of Obstetricians & Gynecologist (ACOG) dalam jurnal Obstetrics & Ginecology menyebut, sejumlah kondisi seperti diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit tiroid, dan beberapa gangguan kesehatan mental dapat memengaruhi kehamilan sehingga idealnya dikendalikan terlebih dahulu. Bukan berarti seseorang dengan penyakit kronis tidak boleh hamil.

Yang penting, kondisi tersebut dievaluasi dan dikelola bersama tenaga kesehatan agar risiko selama kehamilan dapat ditekan.

2. Obat, vitamin, dan suplemen yang dikonsumsi

Obat yang dikonsumsi rutin juga perlu dibicarakan sebelum kehamilan termasuk obat resep, obat bebas, vitamin, suplemen, hingga produk herbal.

Beberapa obat dapat memengaruhi kehamilan atau perkembangan janin sehingga perlu ditinjau sebelum seseorang mencoba hamil. Karena itu, obat yang sedang dikonsumsi sebaiknya dibawa atau dicatat saat melakukan konsultasi prakonsepsi.

3. Riwayat penyakit keluarga

Sebelum punya anak, pasangan juga perlu saling mengetahui riwayat kesehatan keluarga masing-masing. ACOG merekomendasikan penelusuran riwayat keluarga dan genetik dari kedua pasangan. Informasi yang dicari dapat mencakup penyakit genetik, kelainan bawaan, gangguan mental, serta beberapa jenis kanker dalam keluarga.

4. Pastikan vaksinasi sudah sesuai

VaksinasiIlustrasi. Status vaksinasi penting diperhatikan sebelum kehamilan. (freepik.com/freepik )

Status vaksinasi juga menjadi bagian dari persiapan sebelum hamil. Pemeriksaan status imunisasi, termasuk vaksin yang berkaitan dengan rubella, varicella, hepatitis B, dan beberapa vaksin lainnya sesuai kebutuhan.

Beberapa vaksin, seperti rubella dan varicella, idealnya diberikan sebelum kehamilan karena tidak diberikan secara rutin saat hamil.

5. Cek kemungkinan infeksi menular seksual

Sebaiknya dilakukan penilaian kebutuhan skrining Infeksi menular seksual (IMS) dalam konseling prakonsepsi. Pemeriksaan dapat mencakup infeksi seperti HIV, sifilis, gonore, klamidia, dan lainnya sesuai usia serta faktor risiko.

Pemeriksaan ini penting bukan untuk mencari siapa yang salah dalam hubungan, tetapi untuk mengetahui kondisi kesehatan pasangan sejak awal dan menentukan penanganan yang tepat sebelum kehamilan.

6. Mulai perhatikan asam folat

Asam folat sebaiknya tidak baru dipikirkan setelah kehamilan terdeteksi. Mengutip CDC, disarankan perempuan yang dapat hamil mengonsumsi 400 mikrogram (mcg) asam folat setiap hari.

Konsumsi asam folat penting dilakukan sebelum dan pada awal kehamilan karena membantu mencegah cacat tabung saraf atau neural tube defects, yaitu kelainan pada perkembangan otak dan tulang belakang bayi.

7. Berat badan, pola makan, hingga kebiasaan sehari-hari

Yang juga tidak boleh lupa adalah kondisi tubuh sebelum hamil. Dalam konseling prakonsepsi, ACOG merekomendasikan penilaian berat badan, status nutrisi, pola makan, dan aktivitas fisik. Berat badan yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah dapat berkaitan dengan masalah kesuburan dan komplikasi selama kehamilan.

Kebiasaan sehari-hari juga perlu diperbaiki. CDC menyarankan berhenti merokok, menghindari alkohol, dan penggunaan zat tertentu saat mempersiapkan kehamilan. Hal ini juga berlaku bagi calon ayah. Penggunaan androgen seperti testosteron pada pria perlu diperhatikan karena dapat menekan produksi sperma dan menyebabkan infertilitas.

Tidak hanya kondisi kesehatan calon ibu yang perlu diperiksa, tapi calon ayah juga perlu memperhatikan riwayat penyakit, obat yang dikonsumsi, kebiasaan sehari-hari, hingga faktor genetik.

(anm/els)
placeholder