Pria Juga Perlu Vaksin HPV, Cegah Infeksi dan Penularan ke Pasangan
Vaksin HPV selama ini lebih sering dikaitkan dengan perempuan, terutama untuk mencegah kanker serviks. Padahal, infeksi Human Papillomavirus (HPV) juga dapat menyerang laki-laki dan menimbulkan sejumlah penyakit.
Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, Yudo Irawan menjelaskan HPV terdiri dari banyak tipe. Secara umum, tipe tersebut dibedakan menjadi kelompok berisiko tinggi dan tipe berisiko rendah.
"HPV atau Human Papillomavirus sebenarnya adalah sekumpulan virus yang banyak sekali percabangannya. Dia punya beberapa tipe, ratusan. Tapi yang bisa menginfeksi manusia itu dua puluhan, yang terbagi atas tipe yang high risk atau berisiko tinggi menjadi kanker, dan ada tipe yang low risk, yang risikonya rendah untuk menjadi kanker," kata Yudo saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (24/9).
Menurut dia, vaksin HPV tidak hanya berkaitan dengan pencegahan kanker serviks. Infeksi HPV dapat menyebabkan berbagai penyakit, baik pada perempuan maupun laki-laki.
"Bahkan kanker sendiri itu bukan hanya kanker serviks yang bisa dicetuskan untuk disebabkan oleh HPV. Contoh lainnya adalah kanker anus, kanker penis, kanker di vagina, kanker di vulva, kanker di kulit juga bisa, dan bahkan kanker di orofaring atau yang di saluran tenggorokan kita," ujarnya.
Selain kanker, HPV juga dapat menyebabkan penyakit non-kanker, salah satunya kutil kelamin atau anogenital warts, yang juga dikenal sebagai kondiloma.
Karena itu, Yudo menilai vaksinasi HPV sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai upaya mencegah kanker serviks pada perempuan, tetapi sebagai perlindungan terhadap berbagai penyakit yang dapat disebabkan oleh HPV.
"Jadi kalau saya menekankannya, tujuan vaksinasi HPV ini adalah menjaga infeksi HPV apa pun penyakitnya, baik pada laki-laki maupun pada perempuan, jadi virusnya tidak mendiskriminasi," kata dia.
Pria bisa menjadi carrier HPV
HPV dapat menular melalui kontak langsung, termasuk kontak seksual. Dalam perjalanan infeksi yang berlangsung lama atau persisten, beberapa tipe HPV berisiko menyebabkan kanker.
Yudo menyebut laki-laki juga perlu mendapat perhatian karena dapat berperan sebagai carrier atau pembawa HPV kepada pasangan.
"Bahwasannya para laki-laki itu lebih sering berperan sebagai carrier HPV atau pembawa HPV, ya," ujar Yudo.
Ia kemudian menjelaskan hal tersebut dengan melihat salah satu dampak infeksi HPV, yakni kanker serviks. Karena serviks hanya dimiliki perempuan, laki-laki dalam hubungan pasangan dapat berperan sebagai pihak yang membawa virus kepada pasangannya tanpa selalu mengalami gejala yang terlihat.
"Nah siapa yang membawa sampai ke situ? Ya tentunya adalah kebanyakan pasangannya sendiri dan pasangannya ini adalah si laki-lakinya gitu ya, suaminya gitu."
"Itu tentunya yang lebih mungkin membawa atau sebagai carrier kepada pasien yang perempuan tadi dengan kanker serviks. Nah itulah kenapa laki-laki di sini lebih sering menjadi carrier dari HPV terutama yang tipenya tipe risiko tinggi atau high risk tersebut," imbuhnya.
Mengapa pria bisa tidak menyadari dirinya terinfeksi?
Salah satu persoalannya, infeksi HPV pada laki-laki tidak selalu menimbulkan tanda yang mudah dikenali. Seseorang bisa saja terinfeksi tanpa menyadari keberadaan virus tersebut.
Yudo menjelaskan kondisi anatomi organ genital juga menjadi salah satu hal yang menurutnya berperan dalam perbedaan risiko persistensi infeksi antara laki-laki dan perempuan.
"Kalau pada laki-laki itu kan organ seksual atau organ genitalnya itu semuanya serba menonjol gitu ya. Jadi lebih mudah dibersihkan ketika mandi udah bisa dibersihkan dengan mudah gitu ya," jelasnya.
"Sementara pada perempuan organ genitalnya itu kebanyakan internal atau di dalam. Dalam bentuk lubang, dalam bentuk selubung ataupun selaput gitu. Jadi sesuatu yang tidak mudah untuk dibersihkan," tambahnya.
Meski begitu, ia menegaskan kondisi tersebut bukan berarti laki-laki terbebas dari HPV atau hanya berperan sebagai pembawa.
Yudo pun menerangkan bahwa tubuh laki-laki dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk membentuk kekebalan terhadap HPV. Kondisi tersebut membuat infeksi dapat bertahan tanpa disadari.
"Dari hasil penelitian menyebutkan bahwa laki-laki itu lebih lambat membentuk kekebalan terhadap HPV. Jadi kalau dia sudah benar-benar sekali antibodi yang terbentuk itu lebih lama dibandingkan pada perempuan," ujarnya.
"Jadi kalau misalnya dia kena sekarang belum tentu bulan depan, minggu depan, tahun depan itu dia sudah keluar kutilnya atau keganasannya."
Karena itu, tidak munculnya kutil atau gejala lain bukan berarti seseorang pasti terbebas dari HPV. Virus dapat berada pada kulit atau selaput mukosa tanpa menimbulkan tanda yang langsung terlihat.
"Nah maka dari itu menyebabkan laki-laki menjadi lebih sering menjadi carrier dibandingkan yang punya keganasannya," tutur Yudo.
Maka dari itu, vaksin HPV pada dasarnya ditujukan untuk mencegah infeksi HPV, bukan hanya penyakit tertentu pada satu jenis kelamin. Laki-laki juga dapat terinfeksi, mengalami dampak kesehatan, sekaligus berperan dalam rantai penularan HPV kepada pasangan.
(anm/fef)