Mengabadikan Cerita, Fotografer Tinggal 17 Tahun di Puncak Gunung Fuji

CNN Indonesia
Minggu, 27 Sep 2026 13:10 WIB
Mengabadikan Cerita, Fotografer Tinggal 17 Tahun di Puncak Gunung Fuji
Gunung Fuji di Jepang. (AFP/PHILIP FONG)
Jakarta, CNN Indonesia --

Megumi Ueda, seorang fotografer asal Jepang, menjadikan Gunung Fuji sebagai tempat kerja sekaligus rumah sementara selama musim pendakian.

Selama hampir 17 tahun terakhir, Ueda menghabiskan musim pendakian dengan tinggal dan bekerja di sebuah kuil Shinto yang berada tidak jauh dari puncak Gunung Fuji.

Melansir Euronews, Ueda mengabadikan berbagai momen dari ketinggian 3.776 meter di atas permukaan laut, mulai dari matahari terbit, matahari terbenam, hingga perubahan cuaca ekstrem di kawasan puncak gunung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketertarikannya terhadap Gunung Fuji bermula ketika ia pertama kali mendaki gunung tersebut saat berusia awal 30-an. Saat itu, seorang teman menyarankan Ueda untuk mencoba pendakian Gunung Fuji.

Setelah merasakan pengalaman berada di puncak, ia kemudian memutuskan untuk melamar pekerjaan di kuil gunung agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu sekaligus memotret keindahan Gunung Fuji.

Pengalaman pertama tinggal di puncak Gunung Fuji tidak mudah bagi Ueda. Ia mengaku harus beradaptasi dengan kondisi yang berbeda dari kehidupan normal, termasuk keterbatasan fasilitas dan banyaknya pendaki yang datang silih berganti.

Namun, pemandangan yang ia lihat dari puncak gunung membuatnya ingin kembali ke gunung tertinggi di Jepang itu.

"Ketika akhirnya saya turun dan berbalik melihat Gunung Fuji, semua pemandangan itu kembali terlintas, dan saya mulai menangis," ujar Ueda.

Sejak saat itu, ia kembali ke Gunung Fuji hampir setiap musim pendakian. Selain bekerja di kuil dengan membantu menyiapkan makanan untuk staf, Ueda juga mengambil foto dan membagikan informasi mengenai kondisi gunung kepada para pendaki.

Setiap hari, ia bangun sekitar pukul 04.00 pagi untuk mengabadikan momen matahari terbit dari puncak Gunung Fuji. Menurutnya, pemandangan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ia terus kembali ke gunung tersebut.

Selain keindahan alam, Ueda juga ingin menunjukkan sisi lain Gunung Fuji yang penuh tantangan.

Ia secara rutin mengukur suhu dan kecepatan angin di puncak, kemudian membagikan informasi tersebut melalui internet agar pendaki dapat memahami kondisi sebenarnya sebelum melakukan perjalanan.

"Tidak ada kamera pemantau atau semacamnya di puncak, jadi saya ingin menjadi orang yang menyampaikan kondisi tersebut," katanya.

Menurut Ueda, informasi visual mengenai kondisi cuaca dapat membantu orang memahami risiko dengan lebih baik dibandingkan hanya melihat angka.

"Saya berharap dengan melihat kondisi sebenarnya, orang-orang dapat lebih memahami pentingnya keselamatan," ujarnya.

Di puncak Gunung Fuji, suhu dapat terasa seperti musim dingin pada Februari, sementara angin kencang dapat membuat pendaki sulit berjalan dan jarak pandang buruk dapat memperbesar risiko.

Upaya tersebut juga berkaitan dengan keselamatan pendaki. Setiap musim pendakian resmi, lebih dari 200.000 orang mendaki Gunung Fuji.

Media Jepang juga melaporkan bahwa sedikitnya ada enam orang meninggal di lereng Gunung Fuji selama musim pendakian tahun ini.

Ueda yang telah mendapatkan pelatihan pertolongan pertama di alam terbuka mengatakan dirinya beberapa kali membantu proses penyelamatan di sekitar puncak.

Ia pernah menemui pendaki yang mengalami masalah akibat pakaian yang tidak sesuai dengan kondisi cuaca, serta pendaki yang terjatuh dan tidak mampu melanjutkan pendakian.

Setelah musim pendakian berakhir, Ueda berencana untuk kembali pada musim panas untuk mendokumentasikan lagi momen di puncak Gunung Fuji.

(dsd/wiw)
placeholder