Kamu mungkin pernah menyadari penerbangan menuju Singapura, Malaysia, atau negara tetangga lainnya bisa lebih murah ketimbang penerbangan domestik di dalam negeri.
Contohnya, seperti harga yang tertera dalam Google Flights, penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Singapura pada 30 September tersedia mulai dari Rp1.106.670. Namun penerbangan menuju Padang pada hari yang sama tersedia mulai dari Rp1.117.885.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini tentu membuat kita bingung, kok bisa tiket pesawat domestik lebih mahal ketimbang ke luar negeri?
Fenomena serupa ternyata terjadi juga di Amerika Serikat. Pada Juni 2026, Fortune melaporkan harga penerbangan domestik AS meningkat 23,2 persen dibandingkan Maret 2025, sedangkan harga penerbangan internasional hanya naik 11,5 persen dalam periode yang sama.
Faktor penyebabnya banyak. Mulai dari biaya operasional, jumlah kursi, hingga persaingan pada suatu rute juga bisa memengaruhi harga.
Mengutip Fortune, berikut ini sejumlah alasan mengapa penerbangan domestik bisa lebih mahal ketimbang ke luar negeri:
1. Harga bahan bakar
Jadi komponen terpenting dalam penerbangan, harga bahan bakar avtur bisa sangat berpengaruh terhadap harga tiket.
Adapun di Indonesia, per September 2026, Kementerian Perhubungan menaikkan batas maksimal fuel surcharge penerbangan domestik kelas ekonomi dari yang sebelumnya 30 persen menjadi 40 persen dari tarif batas atas.
Kebijakan ini diambil setelah rata-rata harga avtur naik 6,5 persen dari Agustus ke September 2026. Perkiraan Kemenhub, penyesuaian fuel surcharge ini bisa menaikkan harga tiket hingga 8 persen.
2. Pajak dan biaya lainnya
Ada banyak hal lain yang memengaruhi harga tiket selain tarif dasar, seperti pajak, biaya bandara, ground handling, hingga berbagai pungutan lainnya.
Di Indonesia sendiri, persoalan pajak dan biaya lainnya juga menjadi sorotan. Dalam pembahasan DPR pada Januari 2026, tingginya harga tiket domestik dikaitkan dengan PPN tiket, avtur, hingga biaya perawatan pesawat.
Adapun International Air Transport Association (IATA) juga mengungkapkan, biaya dan pungutan dari pemerintah ataupun otoritas lainnya jadi komponen yang menambah biaya perjalanan.
3. Tingkat persaingan antar-maskapai
Persaingan antar-maskapai juga bisa memengaruhi harga tiket. Rute yang dilayani oleh banyak maskapai, tentunya akan menerapkan harga yang kompetitif pula.
Pada 2026, Government Accountability Office (GAO) AS melaporkan, persaingan kuat cenderung mendorong tarif lebih rendah. Ketika merger perusahaan maskapai mengurangi jumlah kompetitor pada rute tertentu, tarif bisa meningkat dalam jangka pendek.
Ini artinya, rute internasional tertentu yang dilayani banyak maskapai bisa memiliki tekanan persaingan yang berbeda dengan rute domestik.
4. Kapasitas penerbangan terbatas
Ketika permintaan tinggi tetapi kursi yang tersedia sedikit, maskapai biasanya menyesuaikan harga jadi lebih tinggi pula.
Terlepas dari tujuan domestik atau luar negeri, tiap rute memiliki jumlah penerbangan, kapasitas, dan tingkat keterisian berbeda. Hal ini membuat harga tiket tak bisa ditentukan hanya berdasar jarak tempuh.
5. Jarak penerbangan tak selalu jadi penentu harga
Perlu diketahui, harga tiket tak bisa hanya dipatok berdasarkan jarak titik keberangkatan dan tujuan. Ada banyak perhitungan lainnya terkait operasional penerbangan, seperti biaya bandara, awak pesawat, perawatan, hingga penggunaan pesawat.
Pada penerbangan jarak pendek, sejumlah biaya ini harus ditanggung dalam perjalanan lebih singkat.
Hal ini membuat penerbangan tersebut bisa memiliki biaya per unit lebih tinggi karena proporsi biaya pendaratan, handling, proses lepas landas dan mendarat, hingga turn around lebih besar.
Itu dia beberapa alasan yang membuat penerbangan domestik bisa lebih murah ketimbang luar negeri.
(rti)
