Orang tua punya peran besar dalam membantu anak memahami perasaan, hingga membangun rasa percaya dirinya. Sayangnya, masih ada banyak kesalahan orang tua yang menghambat perkembangan emosional anak.
Ada kalanya orang tua melakukan sesuatu dengan niat melindungi atau mendisiplinkan anak. Namun tanpa disadari tindakan tersebut justru membuat anak merasa tidak didengarkan, takut melakukan kesalahan, atau ragu terhadap dirinya sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketimbang merasa bersalah, mengetahui apa saja kesalahan ini sejak awal justru jadi langkah awal memperbaiki kebiasaan dalam pola asuh orang tua terhadap anak. Lantas, apa saja kesalahan orang tua yang dapat menghambat perkembangan emosional anak?
1. Mengabaikan perasaan anak
Merangkum dari berbagai sumber, salah satu kesalahan orang tua yang menghambat perkembangan emosional anak, yaitu selalu mengabaikan perasaan.
Kalimat seperti "Jangan menangis," "Kamu tidak apa-apa," atau "Itu bukan masalah besar" mungkin terdengar sederhana. Namun, jika terlalu sering digunakan, anak bisa merasa emosinya tidak penting.
Sebaiknya, dengarkan dan akui perasaan anak terlebih dahulu. Misalnya, "Mama tahu kamu sedang kecewa." Dengan begitu, anak belajar bahwa merasa sedih, marah, atau takut merupakan hal wajar.
2. Selalu menyelesaikan masalah anak
Orang tua tentu ingin melindungi anak dari kegagalan dan rasa kecewa. Namun, terlalu sering membantu atau mengambil alih masalah dapat membuat anak sulit belajar mandiri.
Berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan mencari solusi sendiri. Orang tua tetap bisa mendampingi tanpa langsung memberikan jawabannya.
3. Memberikan kasih sayang secara bersyarat
Anak bisa merasa dirinya hanya disayang ketika mendapat nilai bagus, berprestasi, atau berperilaku sesuai keinginan orang tua. Kondisi ini dapat membuat anak takut gagal dan selalu mencari pengakuan.
Oleh karena itu, pisahkan perilaku anak dari nilai dirinya. Orang tua boleh mengatakan perilaku anak perlu diperbaiki, tetapi tetap menunjukkan kasih sayangnya tidak berubah.
4. Menerapkan aturan yang tidak konsisten
Aturan yang hari ini berlaku tetapi besok diabaikan, dapat membuat anak bingung. Anak membutuhkan batasan yang jelas dan konsisten agar merasa aman.
Tidak perlu terlalu banyak aturan. Pilih beberapa aturan penting dan terapkan dengan tenang serta konsisten.
5. Membandingkan anak dengan orang lain
Ucapan seperti "Mengapa kamu tidak seperti kakak?" atau "Lihat temanmu, dia lebih pintar," dapat membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik. Kebiasaan membandingkan ini bisa menurunkan rasa percaya diri.
Sebaiknya, lihat perkembangan anak berdasarkan kemampuan dirinya sendiri. Hargai usaha dan kemajuan yang sudah dicapai.
6. Melampiaskan stres kepada anak
Anak sangat peka terhadap suasana hati orang tua. Ketika orang tua sering berteriak, mudah marah, atau menunjukkan stres secara berlebihan, anak dapat ikut merasa cemas. Orang tua juga perlu belajar mengelola emosi.
Jika sedang terlalu marah, tidak ada salahnya mengambil jeda sebelum kembali berbicara dengan anak.
7. Kurang meluangkan waktu untuk quality time
Kesibukan sehari-hari terkadang membuat hubungan orang tua dan anak hanya berisi perintah, tugas, sekolah, dan aturan. Padahal, anak juga membutuhkan waktu untuk merasa didengarkan dan dihargai.
Tidak harus selalu melakukan kegiatan besar. Mengobrol sebelum tidur, bermain bersama, atau mendengarkan cerita anak selama beberapa menit sudah dapat membantu membangun kedekatan.
Itu dia sejumlah kesalahan orang tua yang menghambat perkembangan emosional anak. Namun perlu dicatat, menjadi orang tua bukan berarti harus selalu sempurna.
Hal yang terpenting, yakni bersedia mengenali kesalahan dan memperbaiki cara berkomunikasi agar anak dapat belajar memahami emosinya.
(sac/rti)
