Perjalanan awal menjadi seorang ibu atau postpartum kerap diwarnai perubahan hormon signifikan yang memicu kerapuhan emosional.
Pada fase krusial ini, dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan terdekat sangat dibutuhkan guna mencegah munculnya baby blues hingga depresi pasca-persalinan.
Mengutip Psychology Today, Professor Emerita Psikologi dari University of Notre Dame, Darcia Narvaez, Ph.D., menjelaskan bahwa merawat bayi sembari memulihkan fisik pasca-melahirkan amat menguras energi dan emosi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua itu akan terbayar dengan adanya komunitas yang mendukung, mencintai, dan memberinya energi yang dibutuhkan untuk menjadi ibu yang lebih baik," ujar Narvaez.
Penelitian dari University of Chicago yang menganalisis 66 studi berbeda turut menyimpulkan bahwa keberadaan dukungan sosial efektif membantu seseorang mengelola stres.
Sebaliknya, komentar negatif atau pertanyaan yang kurang tepat justru dapat memicu kecemasan mendalam bagi ibu baru.
5 Kalimat yang Sebaiknya Dihindari untuk Ibu yang Baru Melahirkan
Demi menjaga kesehatan mental ibu baru, berikut lima jenis ucapan yang sebaiknya tidak disampaikan saat menjenguk atau berinteraksi:
1. "Kenapa Tidak Diberi ASI?"
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) memang ideal, namun tidak semua ibu memiliki kondisi medis atau fisik yang memungkinkan untuk memproduksi ASI. Pertanyaan ini rentan memicu rasa bersalah. Sebaiknya berikan penguatan bahwa pemenuhan nutrisi bayi-termasuk melalui susu formula-adalah hal terpenting.
2. "Wajah Anak Tidak Mirip Ayah atau Ibunya"
Komentar spontan yang meragukan kemiripan fisik bayi sering kali dinilai kurang berempati. Bagi ibu yang emosinya sedang sensitif, gurauan seperti ini dapat menyinggung perasaan. Berikan pujian yang netral dan mendoakan kebaikan bagi si kecil.
3. "Kenapa Badannya Belum Kurus?"
Mengomentari perubahan bentuk tubuh pasca-persalinan dapat merusak rasa percaya diri ibu baru. Alih-alih menanyakan bobot tubuh, berikan perhatian pada kondisi kesehatannya secara umum.
4. "Kenapa Kelihatan Stres Sekali?"
Ibu baru kerap mengalami kelelahan ekstrem akibat pola tidur yang terganggu. Menegaskan raut wajah yang lelah justru akan memperburuk suasana hatinya. Hadirlah sebagai pendengar atau tawarkan bantuan praktis untuk meringankan beban merawat bayi.
5. "Apakah Nanti Mau Bekerja Lagi?"
Menanyakan pilihan karier sering kali menempatkan ibu baru pada posisi serba salah. Baik memutuskan kembali bekerja maupun menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, hindari sikap menghakimi dan hargai setiap keputusan yang diambil.
(wiw)