Jepang memiliki banyak destinasi populer seperti Tokyo, Kyoto, hingga Osaka. Namun, bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana berbeda dan relatif lebih tenang, Pulau Shikoku bisa menjadi pilihan.
Shikoku merupakan salah satu dari empat pulau utama Jepang. Pulau ini dikenal dengan lanskap pedesaan, pegunungan, pantai, budaya tradisional, hingga kuliner khas yang masih kuat.
Shikoku berada di antara Laut Pedalaman Seto dan Samudra Pasifik. Wilayahnya terbagi menjadi empat prefektur, yakni Tokushima, Kagawa, Ehime, dan Kochi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski menjadi pulau utama terkecil di Jepang, Shikoku memiliki beragam daya tarik. Mulai dari jalur ziarah berusia ratusan tahun, pemandian air panas, kawasan pegunungan, hingga kuliner khas yang berbeda di setiap prefektur.
"Shikoku adalah sebuah pulau di dalam negara kepulauan," kata David Moreton, sejarawan yang telah mempelajari Shikoku Pilgrimage selama hampir tiga dekade.
Menurut Moreton, karakter Shikoku sebagai wilayah pedesaan membuat berbagai tradisi di pulau tersebut dapat bertahan lebih lama dibandingkan wilayah lain di Jepang.
Perpaduan alam, sejarah, budaya, kuliner, dan tradisi ziarah yang telah berlangsung selama berabad-abad membuat Shikoku menawarkan pengalaman yang berbeda dari destinasi Jepang yang lebih ramai.
Jalur ziarah 88 kuil
Mengutip Smithsonian Magazine, salah satu daya tarik Shikoku adalah Shikoku 88 Temple Pilgrimage atau Shikoku Henro. Jalur ziarah ini menghubungkan 88 kuil yang berkaitan dengan Kobo Daishi atau Kukai, tokoh penting dalam perkembangan agama Buddha di Jepang.
Rute tersebut mengelilingi pulau dengan panjang sekitar 1.400-1.450 kilometer. Wisatawan yang ingin menyelesaikan seluruh perjalanan dengan berjalan kaki membutuhkan waktu berminggu-minggu.
Namun, pengunjung tidak harus menuntaskan seluruh rute. Sejumlah kuil dapat dikunjungi dengan menggunakan kendaraan umum.
Jalur ziarah ini menawarkan pengalaman bagi wisatawan yang ingin melihat sisi Jepang yang lebih tradisional. Sebagian besar rutenya melewati jalan, kota-kota kecil, serta area pertanian.
Di bagian lain, wisatawan akan diajak melewati hutan, jalur pegunungan, hingga kawasan alam yang lebih terpencil. Sepanjang perjalanan, wisatawan juga dapat menemukan penginapan tradisional Jepang atau ryokan, penginapan di kuil, hingga tempat menginap milik masyarakat lokal.
Menurut Moreton, semakin banyak orang mengikuti perjalanan ziarah tersebut bukan semata-mata karena alasan keagamaan.
"Untuk lebih banyak berpikir tentang kehidupan dan memberi rasa syukur atas apa yang telah mereka miliki," ujarnya.
Tradisi keramahan di Shikoku
Keramahan masyarakat menjadi bagian lain yang membuat perjalanan di Shikoku berbeda. Budaya membantu para peziarah di wilayah tersebut dikenal dengan istilah o-settai.
Matthew Bennett, seorang peziarah Shikoku yang membantu merancang perjalanan berkelanjutan untuk perusahaan tur Yugen DMC, menjelaskan bahwa para peziarah dianggap sebagai perwujudan Kobo Daishi.
"Jadi ketika orang membantu Anda, sebenarnya mereka sedang membantu Kobo Daishi secara langsung," kata Bennett.
Budaya tersebut juga menjadi salah satu alasan wisatawan kembali ke Shikoku. Bennett sendiri telah menyelesaikan jalur ziarah tersebut sebanyak empat kali.
Bennett bahkan menyebut dirinya terkena 'Shikoku-byo' atau 'penyakit Shikoku', istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang yang terus ingin kembali ke pulau tersebut.
Menjelajah alam Shikoku
Selain jalur ziarah, Shikoku menawarkan berbagai destinasi alam. Salah satunya Lembah Iya di Tokushima, kawasan pegunungan dengan pemandangan alami dan suasana yang masih tenang.
Ada pula Iya Kazurabashi, jembatan gantung sepanjang sekitar 45 meter yang dibuat dari tanaman merambat. Jembatan tersebut menjadi salah satu daya tarik yang dapat dikunjungi saat menjelajahi kawasan pegunungan Iya.
Bagi pencinta pemandangan laut, Cape Ashizuri di Kochi bisa menjadi pilihan. Tanjung yang berada di bagian paling selatan Shikoku ini memiliki jalur berjalan kaki di tepi laut, pemandangan garis pantai, mercusuar, serta area untuk menikmati pemandian air panas.
Kawasan tersebut juga menjadi bagian dari jalur ziarah 88 kuil, dengan Kongofukuji sebagai salah satu kuil yang berada di sana.
Berburu kuliner khas tiap prefektur
Shikoku juga menarik untuk wisata kuliner karena setiap prefekturnya memiliki makanan dan budaya yang berbeda. Kagawa dikenal sebagai 'Prefektur Udon', dengan Sanuki udon sebagai salah satu kuliner khasnya. Wisatawan bahkan dapat mengikuti pengalaman membuat udon di Nakano Udon School di Kotohira.
Sementara itu, Kochi dikenal dengan hasil pertanian seperti yuzu, melon musk, dan pir Niitaka. Di Desa Umaji, yuzu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat dan dapat ditemukan dalam berbagai makanan maupun pengalaman pemandian air panas.
Ehime memiliki Dogo Onsen, pemandian air panas bersejarah yang menjadi salah satu daya tarik utama wilayah tersebut. Sementara itu, Tokushima memiliki budaya indigo yang kuat serta Awa Odori, festival tari berskala besar yang digelar setiap Agustus.
Kota Naruto di prefektur tersebut juga dikenal dengan pusaran air Naruto dan kerajinan Otani Ware. Dengan beragam pilihan tersebut, Shikoku menawarkan sisi Jepang yang berbeda. Bukan hanya tentang kota besar dan destinasi populer, tetapi juga perjalanan yang mempertemukan wisatawan dengan alam, tradisi, kuliner, serta kehidupan masyarakat lokal.
(dsd/tis)

