Menjaga Keaslian Sumur Lubang Buaya sebagai Bukti Sejarah G30S

CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 10:30 WIB
Sumur Lubang Buaya di tengah kompleks Monumen Pancasila Sakti, Jakarta Timur. (Sekretariat Presiden)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sumur tua Lubang Buaya yang berada di tengah kompleks Monumen Pancasila Sakti, Jakarta Timur, hingga kini masih dipertahankan dalam bentuk aslinya.

Lokasi ini menjadi saksi bisu titik ditemukannya jenazah tujuh perwira TNI Angkatan Darat yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada 1965.

Ketujuh Pahlawan Revolusi yang menjadi korban dalam tragedi kelam tersebut yakni Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Soeprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, Brigjen D.I. Pandjaitan, dan Lettu Czi Pierre Tendean.

Kasubsi Koleksi Monumen Pancasila Sakti Mayor Marinir Masnen menjelaskan bahwa wujud fisik sumur dipertahankan di lokasi persis sebagaimana saat peristiwa terjadi, meski bagian tepinya kini diperkuat dengan cor semen guna mencegah longsor.

"Sumur ini masih aslinya dan memang lubangnya di situ. Adapun ada semen di situ, memang dulunya tidak ada semennya, hanya tanah bolong seperti sumur. Namun, untuk menjaga biar sumur ini tidak longsor, maka diberi semen," ujar Masnen, Kamis (24/9), seperti dikutip Detik.

Masnen mengungkapkan, sebelum tragedi 1965 meletus, sumur tersebut hanyalah sumur cadangan musim kemarau. Warga sekitar kawasan Lubang Buaya kala itu lebih sering memanfaatkan aliran Sungai Sunter untuk kebutuhan air sehari-hari.

"Masyarakat sini saat itu banyak yang tidak menggunakan fasilitas sumur. Hanya membuat untuk cadangan apabila musim kering. Rata-rata menggunakan fasilitasnya adalah Sungai Sunter. Dulu sungai yang besar, airnya juga jernih," tuturnya.

Restorasi 3 Rumah Bersejarah dan Material Otentik

Sebelum berdiri kompleks monumen bersejarah, kawasan Lubang Buaya merupakan permukiman seluas lima hektare yang dikelilingi kebun karet serta diisi 13 rumah warga.

Saat kawasan dikembangkan menjadi museum nasional, sepuluh rumah dihilangkan dan hanya menyisakan tiga bangunan utama:

- Rumah Pos Komando: Dahulu milik warga bernama Haji Sueb yang berprofesi sebagai pedagang kelapa.
- Rumah Dapur Umum: Dahulu milik Ibu Amroh, seorang pedagang pakaian keliling.
- Rumah Penyiksaan: Bangunan yang sebelumnya difungsikan sebagai Sekolah Rakyat (SR).

Masnen menegaskan bahwa pengelola berupaya keras menjaga keaslian seluruh isi peninggalan bersejarah di area tersebut, baik struktur bangunan maupun perabotan di dalamnya.

"Perabotan yang ada di dalamnya 80 persen seluruhnya asli. Namun ada beberapa yang sudah replika, karena hilang," jelas Masnen.

Bahkan untuk pemeliharaan atap bangunan yang rusak, pengelola menolak menggunakan genteng modern dan memilih berburu genteng kuno dengan tahun pembuatan yang sama dari kawasan Halim.

"Masih aslinya semua genteng ini. Cuma memang kita kalau mencari ada yang pecah, memang kita mencari di kompleks Halim yang dibangun sama dengan tahunnya persis. Jadi kita ambil genteng-genteng yang serupa. Namun dia buatannya sama di tahun itu. Bukan pesan baru," ujarnya.

(wiw)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK