Sebuah survei terhadap 1.000 gen Z yang dilakukan National Express bekerja sama dengan pakar komunikasi Amira Mansour mengungkap, hampir sembilan dari sepuluh Gen Z kini berkomunikasi dengan cara mengirim meme.
Gen Z bisa mengirim hingga 572 meme dan menerima 661 meme setiap tahunnya untuk menjaga pertemanan tetap erat. Sekitar 75 persen responden mengatakan, bentuk obrolan daring mencakup video lucu, GIF, hingga gambar konyol yang sesuai dengan candaan mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan para responden mengirim meme, sebagian besar karena meme mengundang tawa (58 persen), mudah dipahami (44 persen), hingga memanfaatkan selera humor spesifik yang bisa bantu menjalin ikatan kuat dengan teman (40 persen).
Adapun pada responden yang mengakui meme membuat hubungan pertemanan jadi erat, 36 persen di antaranya mengeklaim meme cocok untuk menyampaikan emosi khusus, seperti kebahagiaan, kegembiraan, hingga hiburan.
Hasil survei ini menunjukkan gaya komunikasi mengalami perubahan selama bertahun-tahun dan hal ini tampak pada generasi Z yang notabene tumbuh besar di era digital.
"Meme telah menjadi bagian alami dari cara Generasi Z berkomunikasi karena terkadang mengirim meme hanyalah cara untuk mengatakan, 'Aku melihat ini dan teringat padamu' atau 'kamu akan mengerti ini karena kamu mengerti aku', tanpa perlu memulai percakapan panjang," tutur Mansour, seperti dilansir Mirror UK.
Mansour mengungkap, ada humor spesifik yang terkadang hanya dipahami di antara teman. Meme bisa menjadi bahasa tersendiri untuk mengekspresikan emosi atau pengalaman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Nongkrong bareng tetap yang terbaik
Masih dalam survei yang sama, sebanyak 25 persen responden berpendapat meme menjadi salah satu cara komunikasi paling ekspresif. Meski demikian, tak ada yang mampu mengalahkan nongkrong bareng alias percakapan tatap muka.
Adapun 52 persen responden memilih pertemuan tatap muka sebagai bentuk komunikasi paling bermakna, diikuti video call (32 persen), dan telepon suara (29 persen).
Kemudian 46 persen responden mengatakan mereka paling banyak tertawa bersama teman-teman secara langsung, meski 73 persen di antaranya menganggap komunikasi digital berdampak positif pada persahabatan mereka.
Lebih dari tiga perempat responden (77 persen) mengungkap mengirim dan menerima meme memang menyenangkan, tetapi tetap tak ada yang dapat mengalahkan nongkrong langsung bareng teman.
Dua pertiga responden percaya mereka perlu bertemu teman-temannya setidaknya sekali sebulan untuk mempertahankan persahabatan.
"Meskipun Generasi Z tumbuh dengan lebih banyak cara untuk berkomunikasi secara digital daripada generasi sebelumnya, mereka tetap lebih menghargai kebersamaan secara langsung," kata Mansour.
Kirim meme jadi cara baik menjaga pertemanan
Dari perspektif psikologi, mengirim meme jadi cara bagus untuk menjaga hubungan pertemanan. Tak hanya memberi sinyal kepada teman kalau kita sedang memikirkannya, tetapi juga tak ada ekspektasi untuk memberi balasan.
Menurut Mary Kempnich, seorang psikolog di Universitas Oxford, mengirim meme adalah cara yang bagus untuk tetap berhubungan. Bukan hanya karena Anda memberi tahu mereka bahwa Anda memikirkan mereka, tetapi juga karena tidak ada harapan untuk membalas.
"Pada dasarnya, Anda hanya menunjukkan satu sama lain bahwa Anda ada, Anda peduli, dan Anda ingin membuat satu sama lain tertawa dan tidak masalah bagaimana hari Anda berjalan," ujar psikolog Mary Kempnich dari Universitas Oxford, seperti dikutip dari Huffpost.
Menurut Kempnich, saling bertukar meme merupakan indikator positif dalam hubungan. Kegiatan ini menunjukkan seseorang mengenal temannya dengan baik dan ini merupakan cara ampuh menjalin ikatan.
"Pada dasarnya itu mengatakan 'Hei, aku memikirkanmu dan aku tahu kamu akan menghargai ini'," ucap Kempnich.
Ia menyarankan untuk memberikan respons jika ada teman yang mengirim meme melalui pesan, minimal memberikan reaksi dengan emotikon 'hati' atau 'jempol.'
(rti)
