Anak Usia di Atas 5 Tahun Masih Mengompol, Wajar atau Tidak?

CNN Indonesia
Senin, 05 Okt 2026 20:45 WIB
Anak mengompol hingga usia di atas 5 tahun.
Ilustrasi. Kebiasaan mengompol yang terus berlanjut hingga anak berusia di atas 5 tahun tak selalu berarti menandakan penyakit. (iStockphoto/~Userc0373230_9)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Bagi bayi atau balita, mengompol terbilang umum. Tapi, bagaimana jika anak terus mengompol saat usia terus bertambah? Sebenarnya, sampai usia berapa anak masih dianggap wajar mengompol?

Jawabannya berkaitan dengan perkembangan kemampuan anak mengendalikan kantung kemih saat tidur. Anak tidak serta-merta berhenti mengompol ketika memasuki usia tertentu karena kemampuan setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda.

Mengutip pedoman klinis National Institute for Health and Care Excellence (NICE), anak umumnya diharapkan sudah mampu tidak mengompol atau mengendalikan kantung kemihnya di malam hari pada usia perkembangan sekitar 5 tahun. Anak pada usia 3-4 tahun yang masih mengompol pada malam hari pada dasarnya masih berada dalam rentang perkembangan yang umum.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Satu dari lima anak usia 4,5 tahun masih mengompol

NICE mencatat sekitar satu dari lima anak berusia 4,5 tahun masih mengompol setidaknya satu kali dalam seminggu.

Angka tersebut menunjukkan bahwa mengompol pada usia prasekolah masih cukup umum. Kemampuan untuk tetap kering atau tidak mengompol sepanjang malam berkembang secara bertahap.

Seiring bertambahnya usia, jumlah anak yang mengompol biasanya semakin berkurang. European Association of Urology menemukan, sekitar 16,1 persen anak usia 5 tahun mengalami primary nocturnal enuresis, istilah medis untuk mengompol saat tidur yang berlangsung sejak masa kanak-kanak.

Mengompol setelah usia 5 tahun belum tentu berarti sakit

Anak yang masih mengompol setelah usia 5 tahun juga tidak otomatis berarti mengalami masalah kesehatan. Sekitar 5-10 persen anak usia 7 tahun masih mengalami bedwetting, sementara pada usia 8 tahun prevalensinya dilaporkan sekitar 6-8 persen. Angka tersebut kemudian terus menurun seiring bertambahnya usia.

Karena itu, orang tua tidak perlu langsung memarahi atau mempermalukan anak ketika ia masih mengompol. Kemampuan mengontrol buang air kecil saat tidur merupakan bagian dari proses perkembangan yang berlangsung secara bertahap.

Yang lebih penting adalah memperhatikan pola mengompol dan gejala lain yang mungkin menyertainya.

Kapan anak yang masih mengompol perlu diperiksakan?

Menurut NICE, perhatian lebih perlu diberikan jika mengompol disertai kondisi tertentu, terutama ketika anak juga mengalami masalah buang air kecil pada siang hari.

Misalnya, anak sering tidak mampu menahan buang air kecil pada siang hari, mengalami sembelit, memiliki gejala infeksi saluran kemih, atau menunjukkan keluhan lain yang tidak biasa.

Orang tua juga perlu memperhatikan jika anak yang sebelumnya sudah mampu tetap kering pada malam hari kemudian kembali mengompol. Kondisi ini berbeda dengan anak yang memang belum pernah mencapai fase kering pada malam hari.

Masalah tidur, termasuk mendengkur atau sleep apnea, juga dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika anak mengalami masalah mengompol.

Dengan begitu, usia bukan satu-satunya patokan. Frekuensi mengompol, riwayat perkembangan anak, serta ada atau tidaknya gejala lain ikut menentukan apakah anak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

(anm/asr)