Bermalam di Kepulauan Fam, Menikmati Sisi Sunyi Raja Ampat
CNN Indonesia
Sabtu, 03 Okt 2026 09:37 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
trumbu karang yang masih sangat asri di Kepualauan Fam. (CNN Indonesia/ Tiara Sutari)
Jakarta, CNN Indonesia --
Raja Ampat selama ini lekat dengan gambaran laut biru, gugusan pulau karst, dan bentang alam yang seolah tak habis dijelajahi. Di antara banyak kawasan yang menjadi tujuan wisata, ada satu gugusan pulau yang mungkin belum terlalu familiar bagi sebagian wisatawan, yakni Kepulauan Fam.
Bagi mereka yang sudah mengenal Raja Ampat, nama Piaynemo mungkin terdengar jauh lebih akrab. Gugusan bukit karst yang muncul dari laut dan mengelilingi laguna berwarna biru kehijauan itu kerap menjadi salah satu wajah Raja Ampat yang paling banyak diabadikan.
Namun, Piaynemo sesungguhnya merupakan bagian dari Kepulauan Fam.
Berada di Distrik Waigeo Barat Kepulauan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, kawasan ini menawarkan pengalaman yang berbeda ketika wisatawan tidak sekadar datang untuk melihat pemandangan, tetapi juga menghabiskan malam di dalamnya.
Bermalam di Kepulauan Fam berarti memberi diri kesempatan untuk menikmati Raja Ampat dengan ritme yang lebih pelan. Setelah aktivitas di laut dan perjalanan dari satu pulau ke pulau lain berakhir, suasana kepulauan perlahan menjadi lebih sunyi.
Tidak ada hiruk-pikuk kota. Yang tersisa adalah suara laut, angin yang bergerak di antara pepohonan, serta kehidupan masyarakat kampung yang berlangsung sebagaimana biasanya.
Menyusuri Kepulauan Fam
Kepulauan Fam atau Pam terdiri atas sejumlah pulau dengan karakter lanskap yang khas. Dua pulau utama di kawasan ini adalah Pulau Pam Kecil dan Pulau Pam Besar atau Pam Bemuk.
Kepulauan Fam, jadi salah satu pulau di gugusan Raja Ampat yang bisa jadi destinasi liburan untuk pecinta snorkeling hingga diving. (CNNIndonesia/Tiara Sutari)
Kampung Pam berada di Pulau Pam Kecil, sedangkan Kampung Saukabu dan Saupapir berada di Pulau Pam Besar. Selain kedua pulau tersebut, terdapat sejumlah pulau lain yang tidak berpenghuni.
Karena bentuk lanskapnya yang didominasi gugusan pulau karst dan perairan jernih, Kepulauan Fam kerap dijuluki sebagai 'Raja Ampat kecil'. Sebutan tersebut bukan semata karena kemiripannya dengan kawasan Wayag, tetapi juga karena kekayaan ekosistem yang dapat ditemukan dalam satu kawasan.
Di sini terdapat pulau-pulau karst, laguna, terumbu karang, hutan bakau, hingga padang lamun.
Pemandangan itu membuat perjalanan menuju Kepulauan Fam terasa seperti berpindah dari satu lanskap ke lanskap lainnya. Dari atas bukit, gugusan batu kapur terlihat mengapung di tengah laut. Sementara dari permukaan air, dinding-dinding karst menjadi latar perjalanan menuju kampung atau lokasi menyelam.
Piaynemo menjadi salah satu titik yang paling dikenal. Dari ketinggian, wisatawan dapat melihat gugusan bukit karst yang mengelilingi perairan berwarna biru dan hijau. Pemandangan inilah yang membuat Piaynemo menjadi salah satu ikon wisata Raja Ampat.
Pesona Kepulauan Fam tidak berhenti di atas permukaan laut.
Perairan di sekitarnya juga menyimpan kekayaan bawah laut yang menjadi daya tarik bagi wisatawan penyuka snorkeling dan menyelam. Sejumlah lokasi seperti Melissa's Garden dan Fam Wall dikenal sebagai bagian dari kawasan yang menawarkan pengalaman menjelajahi ekosistem laut Raja Ampat.
Ada pula Pulau Rufas yang menjadi salah satu titik yang dapat disambangi ketika menjelajahi kawasan ini. Namun, perjalanan ke Kepulauan Fam juga memperlihatkan bahwa kawasan tersebut bukan sekadar destinasi wisata dengan pemandangan indah.
Di balik gugusan karst dan laut yang menjadi magnet wisatawan, terdapat masyarakat yang telah lama hidup dan menggantungkan kehidupan dari alam sekitarnya.
Sebagian besar masyarakat di Kepulauan Fam bekerja sebagai nelayan dan petani kopra. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari keseharian warga di tengah kawasan yang kini semakin dikenal sebagai destinasi wisata.
Kehidupan masyarakat pesisir di wilayah ini juga terbentuk dari perjalanan panjang interaksi antarkelompok masyarakat.
Sebagian besar masyarakat di Kepulauan Fam merupakan pelaut dari Biak-Serui yang telah mendiami gugusan kepulauan tersebut selama ratusan tahun. Interaksi dengan masyarakat lain di Raja Ampat kemudian turut membentuk kehidupan sosial dan budaya yang berkembang hingga sekarang.
Hal itu membuat pengalaman bermalam di Fam terasa berbeda. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat laut dan karst, tetapi juga berada lebih dekat dengan kehidupan masyarakat kepulauan yang menjadi bagian penting dari lanskap Raja Ampat.
Baca kelanjutannya di sebelah..
Ketika malam turun di Kepulauan Fam
Ada pengalaman berbeda ketika sebuah tempat wisata tidak hanya dikunjungi dalam hitungan jam.
Bermalam membuat wisatawan melihat sisi lain Kepulauan Fam yang mungkin terlewat ketika kunjungan hanya dilakukan untuk mengejar sejumlah titik foto.
Menjelang sore, cahaya matahari perlahan berubah. Warna laut dan gugusan karst pun ikut berganti. Aktivitas wisata mulai berkurang, sementara suasana kampung menjadi lebih tenang.
Malam kemudian datang tanpa banyak suara.
Di tengah kepulauan yang jauh dari keramaian kota, gelap terasa lebih pekat. Langit pun menjadi bagian dari pengalaman perjalanan. Sesekali suara dari laut terdengar lebih jelas ketika aktivitas siang telah berhenti.
Kepulauan Fam, jadi salah satu pulau di gugusan Raja Ampat yang bisa jadi destinasi liburan untuk pecinta snorkeling hingga diving. (CNNIndonesia/Tiara Sutari)
Pagi harinya, Kepulauan Fam kembali bergerak.
Perahu menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. Laut kembali menjadi ruang perjalanan sekaligus sumber penghidupan. Sementara wisatawan dapat kembali melanjutkan perjalanan untuk menikmati gugusan karst, snorkeling, atau menyelam.
Ritme semacam itu menjadi salah satu alasan mengapa bermalam di Kepulauan Fam menawarkan pengalaman yang berbeda dari sekadar berkunjung.
Raja Ampat memang memiliki banyak tempat untuk dikagumi. Namun, di Kepulauan Fam, keindahan alam dan kehidupan masyarakat berjalan beriringan.
Kepulauan Fam, jadi salah satu pulau di gugusan Raja Ampat yang bisa jadi destinasi liburan untuk pecinta snorkeling hingga diving. (CNNIndonesia/Tiara Sutari)
Di sana, Piaynemo bukan hanya sebuah lanskap yang cantik untuk dipotret. Ia merupakan bagian dari sebuah kepulauan yang menyimpan ekosistem, sejarah, dan kehidupan masyarakat pesisir.
Dan ketika malam tiba, keindahan Fam justru terasa dalam bentuk yang lebih sederhana, laut yang tenang, kampung yang perlahan sunyi, dan gugusan karst yang tetap berdiri di bawah langit Papua.
Bermalam di Kepulauan Fam tentu bukan hanya soal mencari tempat untuk tidur. Ini adalah kesempatan untuk mengenal Raja Ampat dengan cara yang lebih perlahan, menikmati alamnya, melihat kehidupan warganya, sekaligus memahami mengapa kawasan ini layak disebut sebagai salah satu kepingan penting dari Raja Ampat.
Jakarta, CNN Indonesia --
Raja Ampat selama ini lekat dengan gambaran laut biru, gugusan pulau karst, dan bentang alam yang seolah tak habis dijelajahi. Di antara banyak kawasan yang menjadi tujuan wisata, ada satu gugusan pulau yang mungkin belum terlalu familiar bagi sebagian wisatawan, yakni Kepulauan Fam.
Bagi mereka yang sudah mengenal Raja Ampat, nama Piaynemo mungkin terdengar jauh lebih akrab. Gugusan bukit karst yang muncul dari laut dan mengelilingi laguna berwarna biru kehijauan itu kerap menjadi salah satu wajah Raja Ampat yang paling banyak diabadikan.
Namun, Piaynemo sesungguhnya merupakan bagian dari Kepulauan Fam.
Berada di Distrik Waigeo Barat Kepulauan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, kawasan ini menawarkan pengalaman yang berbeda ketika wisatawan tidak sekadar datang untuk melihat pemandangan, tetapi juga menghabiskan malam di dalamnya.
Bermalam di Kepulauan Fam berarti memberi diri kesempatan untuk menikmati Raja Ampat dengan ritme yang lebih pelan. Setelah aktivitas di laut dan perjalanan dari satu pulau ke pulau lain berakhir, suasana kepulauan perlahan menjadi lebih sunyi.
Tidak ada hiruk-pikuk kota. Yang tersisa adalah suara laut, angin yang bergerak di antara pepohonan, serta kehidupan masyarakat kampung yang berlangsung sebagaimana biasanya.
Menyusuri Kepulauan Fam
Kepulauan Fam atau Pam terdiri atas sejumlah pulau dengan karakter lanskap yang khas. Dua pulau utama di kawasan ini adalah Pulau Pam Kecil dan Pulau Pam Besar atau Pam Bemuk.
Kepulauan Fam, jadi salah satu pulau di gugusan Raja Ampat yang bisa jadi destinasi liburan untuk pecinta snorkeling hingga diving. (CNNIndonesia/Tiara Sutari)
Kampung Pam berada di Pulau Pam Kecil, sedangkan Kampung Saukabu dan Saupapir berada di Pulau Pam Besar. Selain kedua pulau tersebut, terdapat sejumlah pulau lain yang tidak berpenghuni.
Karena bentuk lanskapnya yang didominasi gugusan pulau karst dan perairan jernih, Kepulauan Fam kerap dijuluki sebagai 'Raja Ampat kecil'. Sebutan tersebut bukan semata karena kemiripannya dengan kawasan Wayag, tetapi juga karena kekayaan ekosistem yang dapat ditemukan dalam satu kawasan.
Di sini terdapat pulau-pulau karst, laguna, terumbu karang, hutan bakau, hingga padang lamun.
Pemandangan itu membuat perjalanan menuju Kepulauan Fam terasa seperti berpindah dari satu lanskap ke lanskap lainnya. Dari atas bukit, gugusan batu kapur terlihat mengapung di tengah laut. Sementara dari permukaan air, dinding-dinding karst menjadi latar perjalanan menuju kampung atau lokasi menyelam.
Piaynemo menjadi salah satu titik yang paling dikenal. Dari ketinggian, wisatawan dapat melihat gugusan bukit karst yang mengelilingi perairan berwarna biru dan hijau. Pemandangan inilah yang membuat Piaynemo menjadi salah satu ikon wisata Raja Ampat.
Pesona Kepulauan Fam tidak berhenti di atas permukaan laut.
Perairan di sekitarnya juga menyimpan kekayaan bawah laut yang menjadi daya tarik bagi wisatawan penyuka snorkeling dan menyelam. Sejumlah lokasi seperti Melissa's Garden dan Fam Wall dikenal sebagai bagian dari kawasan yang menawarkan pengalaman menjelajahi ekosistem laut Raja Ampat.
Ada pula Pulau Rufas yang menjadi salah satu titik yang dapat disambangi ketika menjelajahi kawasan ini. Namun, perjalanan ke Kepulauan Fam juga memperlihatkan bahwa kawasan tersebut bukan sekadar destinasi wisata dengan pemandangan indah.
Di balik gugusan karst dan laut yang menjadi magnet wisatawan, terdapat masyarakat yang telah lama hidup dan menggantungkan kehidupan dari alam sekitarnya.
Sebagian besar masyarakat di Kepulauan Fam bekerja sebagai nelayan dan petani kopra. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari keseharian warga di tengah kawasan yang kini semakin dikenal sebagai destinasi wisata.
Kehidupan masyarakat pesisir di wilayah ini juga terbentuk dari perjalanan panjang interaksi antarkelompok masyarakat.
Sebagian besar masyarakat di Kepulauan Fam merupakan pelaut dari Biak-Serui yang telah mendiami gugusan kepulauan tersebut selama ratusan tahun. Interaksi dengan masyarakat lain di Raja Ampat kemudian turut membentuk kehidupan sosial dan budaya yang berkembang hingga sekarang.
Hal itu membuat pengalaman bermalam di Fam terasa berbeda. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat laut dan karst, tetapi juga berada lebih dekat dengan kehidupan masyarakat kepulauan yang menjadi bagian penting dari lanskap Raja Ampat.
Baca kelanjutannya di sebelah..
Bermalam di Kepulauan Fam, Menikmati Sisi Sunyi Raja Ampat
Pulau Fam, Raja Ampat. (CNN Indonesia/ Tiara Sutari)
Ketika malam turun di Kepulauan Fam
Ada pengalaman berbeda ketika sebuah tempat wisata tidak hanya dikunjungi dalam hitungan jam.
Bermalam membuat wisatawan melihat sisi lain Kepulauan Fam yang mungkin terlewat ketika kunjungan hanya dilakukan untuk mengejar sejumlah titik foto.
Menjelang sore, cahaya matahari perlahan berubah. Warna laut dan gugusan karst pun ikut berganti. Aktivitas wisata mulai berkurang, sementara suasana kampung menjadi lebih tenang.
Malam kemudian datang tanpa banyak suara.
Di tengah kepulauan yang jauh dari keramaian kota, gelap terasa lebih pekat. Langit pun menjadi bagian dari pengalaman perjalanan. Sesekali suara dari laut terdengar lebih jelas ketika aktivitas siang telah berhenti.
Kepulauan Fam, jadi salah satu pulau di gugusan Raja Ampat yang bisa jadi destinasi liburan untuk pecinta snorkeling hingga diving. (CNNIndonesia/Tiara Sutari)
Pagi harinya, Kepulauan Fam kembali bergerak.
Perahu menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. Laut kembali menjadi ruang perjalanan sekaligus sumber penghidupan. Sementara wisatawan dapat kembali melanjutkan perjalanan untuk menikmati gugusan karst, snorkeling, atau menyelam.
Ritme semacam itu menjadi salah satu alasan mengapa bermalam di Kepulauan Fam menawarkan pengalaman yang berbeda dari sekadar berkunjung.
Raja Ampat memang memiliki banyak tempat untuk dikagumi. Namun, di Kepulauan Fam, keindahan alam dan kehidupan masyarakat berjalan beriringan.
Kepulauan Fam, jadi salah satu pulau di gugusan Raja Ampat yang bisa jadi destinasi liburan untuk pecinta snorkeling hingga diving. (CNNIndonesia/Tiara Sutari)
Di sana, Piaynemo bukan hanya sebuah lanskap yang cantik untuk dipotret. Ia merupakan bagian dari sebuah kepulauan yang menyimpan ekosistem, sejarah, dan kehidupan masyarakat pesisir.
Dan ketika malam tiba, keindahan Fam justru terasa dalam bentuk yang lebih sederhana, laut yang tenang, kampung yang perlahan sunyi, dan gugusan karst yang tetap berdiri di bawah langit Papua.
Bermalam di Kepulauan Fam tentu bukan hanya soal mencari tempat untuk tidur. Ini adalah kesempatan untuk mengenal Raja Ampat dengan cara yang lebih perlahan, menikmati alamnya, melihat kehidupan warganya, sekaligus memahami mengapa kawasan ini layak disebut sebagai salah satu kepingan penting dari Raja Ampat.