Konten-konten kecantikan banyak hadir mewarnai platform media sosial seperti TikTok. Tapi, siapa sangka jika konten-konten itu bisa berujung pada masalah kulit.
Sebuah studi yang dipresentasikan di European Academy of Dermatology and Venerology (EADV) 2026 menemukan banyak masalah kulit yang muncul akibat kebiasaan orang masa kini mengikuti tren atau rekomendasi kecantikan yang beredar di TikTok.
Lihat Juga : |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi ini dilakukan secara observasional terhadap 94 pasien masalah kulit selama 12 bulan. Hasilnya, kulit mereka jadi bermasalah atau semakin buruk usai menggunakan produk kecantikan yang dipromosikan di media sosial.
Dari 94 pasien, 36 persen di antaranya memang memiliki kulit yang rentan berjerawat dan 18 persen telah memiliki riwayat rosacea atau peradangan kulit kronis. Sementara 35 persen lainnya tidak memiliki riwayat masalah kulit sebelumnya.
Ada beberapa masalah kulit paling umum yang ditemukan, di antaranya:
- dermatitis kontak iritan atau peradangan kulit non-alergi (42 persen),
- jerawat atau perburukan jerawat (30 persen),
- kekambuhan rosacea (12 persen),
- hiperpigmentasi setelah peradangan kulit (10 persen),
- luka bakar kimia (7 persen).
Selain itu, hampir 35 persen pasien mengalami reaksi kulit akibat eksfolian kimia yang mengandung asal alfa-hidroksi (AHA) atau asam beta-hidroksi (BHA).
Produk berbasis retinoid yang dijual bebas juga dikaitkan dengan peradangan pada kulit sebesar 27 persen pasien, sementara serum vitamin C konsentrasi tinggi terkait dengan 14 persen kasus peradangan. Produk yang mengandung niacinamide juga bertanggung jawab atas 11 persen kasus.
Melansir Allure, berdasarkan data yang ada, sebagian besar pasien (63 persen) menggunakan lebih dari tiga bahan aktif dalam rutinitas perawatan kulit mereka. Sementara sebanyak 14 persen mengikuti rutinitas perawatan kulit kompleks, yang menggabungkan beberapa bahan aktif.
Kabar buruknya, hampir separuh pasien mengaku mendapatkan rutinitas perawatan kulit yang terinspirasi dari media sosial.
Penelitian ini memang masih berskala kecil. Namun, setidaknya penelitian ini bisa menjadi ukuran untuk melihat dampak negatif dari tren yang kini tengah berkembang.
Tak ada salahnya mengikuti atau terinspirasi tren dan rekomendasi kecantikan dari media sosial. Namun, ikuti dengan cara yang bijak. Jika kurang yakin, lakukan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
(asr)

