Benarkah Nail Art Bisa Menularkan HIV? Begini Kata Studi

CNN Indonesia
Selasa, 13 Okt 2026 06:00 WIB
Ilustrasi. Sebuah penelitian memaparkan kasus penularan HIV lewat penggunaan alat manicure bersamaan. (freepik.com/freepik)
Jakarta, CNN Indonesia --

Belakangan, kekhawatiran soal nail art yang disebut-sebut bisa menularkan HIV ramai dibicarakan di media sosial Threads. Perawatan kuku di salon yang menggunakan alat secara bergantian pun menjadi sorotan. Lantas, benarkah manicure bisa menjadi jalur penularan HIV?

Salah satu penelitian yang membahas kemungkinan tersebut diterbitkan dalam jurnal AIDS Research and Human Retroviruses.

Penelitian ini melaporkan satu kasus yang diduga berkaitan dengan penggunaan alat manicure bersama. Temuan tersebut menunjukkan adanya kemungkinan jalur penularan, tetapi tidak membuktikan bahwa manicure merupakan cara penularan HIV yang umum terjadi.

Penelitian tersebut melaporkan kasus seorang perempuan berusia 22 tahun yang didiagnosis HIV. Dalam penelusuran kasus, perempuan itu tidak diketahui memiliki riwayat faktor risiko penularan HIV.

Peneliti kemudian menemukan bahwa perempuan tersebut pernah menggunakan alat manicure bersama sepupunya sekitar 10 tahun sebelumnya. Sepupunya diketahui hidup dengan HIV.

Hasil analisis menunjukkan bahwa urutan genetik HIV dari keduanya memiliki hubungan yang erat. Peneliti juga memperkirakan waktu keberadaan bersama virus tersebut berdekatan dengan periode ketika keduanya menggunakan alat manicure bersama.

Berdasarkan temuan itu, peneliti menyebut penggunaan alat manicure bersama sebagai kemungkinan jalur alternatif penularan HIV.

Bagaimana HIV bisa menular melalui alat manicure?

Melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), HIV dapat menular ketika cairan tubuh tertentu yang mengandung virus, termasuk darah, masuk ke tubuh orang lain melalui jaringan yang rusak, selaput lendir, atau aliran darah secara langsung.

Dalam konteks perawatan kuku, risiko secara teoretis dapat muncul apabila alat manicure terkontaminasi darah dari orang yang hidup dengan HIV, kemudian digunakan pada orang lain tanpa proses sterilisasi yang memadai.

Risiko ini perlu diperhatikan terutama jika alat yang sama digunakan untuk memotong kutikula, menggunting kulit di sekitar kuku, atau melakukan tindakan lain yang menyebabkan luka.

Jika alat yang terkontaminasi darah menyebabkan luka pada pengguna berikutnya, maka darah yang mengandung virus berpotensi masuk melalui jaringan yang rusak.

Meski demikian, kemungkinan tersebut bergantung pada kondisi paparan. Mengaplikasikan kuteks pada kuku yang utuh bukan dengan sendirinya merupakan jalur penularan HIV. Begitu pula dengan berada di salon yang sama atau menggunakan layanan nail art tanpa adanya paparan darah yang relevan.

CDC juga menjelaskan bahwa HIV tidak menular melalui kontak biasa. Virus ini tidak menyebar hanya karena seseorang menyentuh benda atau permukaan yang digunakan orang lain.

Temuan bahwa penularan melalui alat manicure mungkin terjadi dalam satu kasus juga tidak berarti semua prosedur manicure memiliki risiko yang sama.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menjelaskan bahwa HIV dapat menular melalui paparan darah yang terkontaminasi dan penggunaan alat yang menembus kulit jika alat tersebut tidak steril. Penjelasan ini mendukung kemungkinan penularan ketika alat perawatan kuku yang terkontaminasi menyebabkan luka.

Terlepas dari terbatasnya bukti penularan HIV melalui manicure, kebersihan alat tetap penting untuk mencegah paparan darah dan mengurangi risiko infeksi. Ada beberapa hal yang dapat diperhatikan saat melakukan perawatan kuku di salon:

(anm/els)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK